Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Thursday, May 3, 2007

Boskbond Batavia Cikal Bakal KTI

Kompas, Minggu, 8 April 2001

BOKSBOND Batavia En Omstreken yang berkantor di Postweg Noord 11, Batavia, adalah cikal bakal organisasi tinju di Indonesia. -->Para marinir Belanda yang bertugas di Indonesia pada zaman penjajahan, bertinju sesama mereka karena masih tabu jika dikalahkan petinju inlander. Namun, ada satu petinju pribumi yang dengan tekun dan rutin berlatih, yakni Kid Darlin. Dia dilatih Jimmy Kick Stall, bersama petinju Belanda.
Akhirnya Kid Darlin mendapat lisensi untuk bertanding. Jadilah ia sebagai petinju pribumi pertama yang tampil di atas ring untuk bertanding melawan petinju penjajah. Mencontoh Kid Darlin, kemudian menyusul banyak pemuda Indonesia lainnya yang berlatih tinju dan pertandingan tinju pada zaman penjajahan semakin marak.

Tempat pertandingan biasanya berlangsung di Princen Park, Deca Park, Pasar Gambir, dan Bioskop Sawah Besar di Jakarta. Di Bandung, terselenggara Jaarbis dan Jaarmark di Surabaya, serta pada hampir setiap pasar malam di Semarang dan Medan.

Tersebutlah nama-nama beken di ring tinju yang masih belum dibedakan antara amatir dan profesional. Fighting Tiger, Kid Bellel, Young Sattar, dan Kid Darlin, serta yang lainnya. Mereka berasal dari Jimmy Kick Stall, Joe Eagle Stall, Ketteng Oliver Stall, Fighting Mick Stall, sasana tinju yang berdiri waktu itu. Untuk memeriahkan pertandingan antara Tan Gue Tek melawan Ricks di Jakarta pernah Max Scemeling, juara dunia tinju kelas berat saat itu, untuk menjadi wasit.
Organisasi tinju di Indonesia menjadi tak ada ketika kita meraih kemerdekaan, pertandingan tinju berlangsung pada setiap pasar malam. Pihak kepolisian kesulitan untuk memberikan izin karena tidak ada organisasi yang membina serta bertanggung jawab atas penyelenggaraan tersebut. Pihak kepolisian pula yang didatangi oleh para petinju dan manajer untuk menjadi pengurus organisasi tinju. Maka, berdirilah Pertigu (Persatuan Tinju dan Gulat) dengan SK Menkeh Nomor IA3/48/16/28 April 1955, dengan ketua pertamanya Frans Mendur.

***

KIBLAT politik Indonesia yang dekat dengan blok timur pada tahun 60-an dan di negara-negara sosialis tinju profesional amat dilarang, maka dengan SK No 5/25 November 1961, Menteri Olahraga selaku Komando Gerakan Olahraga melarang diselenggarakannya pertandingan tinju prof di Indonesia.

Banyak petinju kita pada waktu itu meneruskan karier bertinjunya di luar negeri, seperti Bertje Coldenhoff berkarier di Singapura dan Malaysia. Adalah SK Gubernur KDKI Jaya Nomor 8/1/ 39/ 1970 yang memperbolehkan pertandingan tinju profesional dilangsungkan di Jakarta.

Gubernur Ali Sadikin mendapat masukan dari kalangan pertinjuan tentang nasib petinju yang terkatung-katung karena tidak boleh bertanding serta tidak memiliki mata pencarian. Akhirnya lahirlah Peraturan Pemerintah Nomor 63 tanggal 2 Oktober 1971 yang mengatur organisasi tinju profesional di Indonesia dan terpilih sebagai ketua KTI (Komisi Tinju Indonesia) pertama, Drs Legowo.

Dalam perjalanannya, kehidupan ring tinju profesional mengalami pasang surut yang signifikan. Sejak diperbolehkannya kembali pertandingan tinju profesional, gejolak membina prestasi dengan sisa-sisa petinju lama yang ada menjadi bergairah. Petinju muka lama seperti Freddie Ramchie, Kid Bellel, MS Pagi masih menjadi bintang. Petinju-petinju muka baru seperti Rudy Siregar, Wongso Suseno, yang mantan petinju amatir ikut meramaikannya.

***

PARTAI pertandingan Rudy Siregar melawan Kid Bellel di Stadion Tambaksari, Surabaya, pertengahan dekade 1970-an sebagai yang terbesar dengan penonton yang memenuhi total stadion untuk pertandingan sepak bola itu.

Wongso Suseno menjadi bintang pada dekade 1970-an karena selain merebut gelar OPBF dia juga sempat menduduki peringkat ke-9 WBC setelah mengalahkan petinju Argentina Jose Gimenez. Prestasi spektakuler dicetak oleh Ellyas Pical pada tanggal 3 Mei 1985 setelah memukul KO Judo Chun dari Korea Selatan.

Prestasi Ellyas Pical pada dekade 80-an terkenal di seluruh dunia, seperti Thomas Americo, Juhari, Polly Posireron, Henky Gun, Lamhot Simamora, Marianus, dan Johannes Nanlohi. Ketika Ellias Pical menjadi juara dunia, booming tinju profesional terjadi.

Petinju-petinju amatir hampir secara keseluruhan di Jawa Timur beralih menjadi petinju profesional. Demikian juga pada daerah lainnya. Partai-partai pertandingan kejuaraan tinju dunia kelas bantam-yunior antara Ellyas Pical melawan lawan-lawannya hampir secara keseluruhan ditayangkan secara langsung oleh TVRI saat itu. Sehingga prestasi dan aksi Ellyas Pical bisa disaksikan oleh lebih dari separuh rakyat Indonesia. Hampir semua tayangan tersebut tidak pernah menghasilkan uang dari TVRI buat promotor pertandingan. Memang ada bantuan biaya waktu itu dari SDSB, tetapi tidak begitu besar.

(Syamsul Anwar Harahap/Kompas)

No comments:

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.