The Last Hurrah adalah tajuk pertandingan terakhir Muhammad Ali di Nassau, Bahama, 11 Desember 1981. Tajuk itu mengacu pada upaya terakhir Ali yang sudah dalam kondisi sakit dan memprihatinkan untuk bisa tampil bagus pada kali terakhir karirnya, setelah sebelumnya dipermalukan oleh Larry Holmes. Ali memang gagal tampil cantik, namun istilah "the Last Hurrah" menjadi terkenal, diasosiasikan kepada petinju-petinju hebat yang prestasinya sudah menurun dan berusaha tampil cantik di penghujung karirnya.
Kali ini saya coba menerapkan tajuk itu pada Miguel Cotto, mantan juara dunia di dua kelas, welter ringan dan welter, yang pada tahun 2002 tampil begitu mencengangkan dan menjadi "the Rising Super Star". Semua kehebatan pria kelahiran 29 tahun lalu di Caguas, Puerto Rico, ini tampak musnah di hadapan 'preman' baru di kelas welter, Manny Pacquiao. Cotto yang begitu garang dan sudah 'menghabisi' berbagai nama terkenal dalam jagad tinju kelas welter seperti De Marcus Corley, Paulie Malignaggi, Carlos Quintana, Uktay Urkal, Zab Judah dan Shane Mosley, harus takluk dengan cara memalukan di hadapan Pacquiao.
Masih hangat dalam ingatan kita, Cotto yang biasanya garang, harus jatuh bangun dari Daud asal Filipina itu, sehingga dia memutuskan hanya berlari-lari menghindari kejaran Pacquiao selama sisa pertandingan, hingga dia akhirnya menyerah TKO ronde 12 di bawah cemoohan penonton.
Dari segi usia, Cotto sebetulnya masih dalam cakupan 'golden age' sebagai seorang petinju kelas dunia. Namun entahlah, sewaktu lawan Pacquiao, seolah dia tampil bagai petinju uzur. 5 Juni mendatang di stadion baseball bersejarah, Yankee Stadium, New York, Cotto akan menantang juara kelas menengah yunior WBA berkebangsaan Israel, Yuri Foreman. Apakah ini betul upaya terakhir Cotto agar bisa tampil ke permukaan lagi? Atau dia kembali harus terpuruk? Sulit memprediksi. Media asing lebih suka mengistilahkan upaya Cotto ini sebagai "do or die" yang arti harafiahnya kurang lebih berarti "lanjut atau berhenti".
Friday, May 21, 2010
Miguel Cotto: The Last Hurrah?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.

7 comments:
Sayang sepertinya ga disiarkan ya? Partai ini bukan partai keras, namun sarat dgn adu strategi & penampilan yg cantik, terutama dr Yuri Foreman yg lbh senang tampil taktis. Sy rasa akan dimenangkan oleh Yuri Foreman dgn angka.. :)
bisa jadi disiarkan, wong HBO kan...? kalau Vazquez vs Marquez IV itu di showtime... sayang bin sayang... Moga2 ada tv sini yang mau ambil siaran2 showtime. Sudah ada TPI yg ambil TV jerman, TVone ambil HBO, m
yuri foreman movementnya cantik pisan. sayang gak ada power puch yang memadai.
Sy yakin yg menang bakalan George Foreman...
Petinju ABG (Angkatan Babe Gue)
kok tulisannya malah cotto harus jatuh bangan dari Daud asal filipina?
Maksud B.Jeff itu ibarat Daud melawan Goliath,bung.. :D
jadi inget daud yordan...
Post a Comment