Kolumnis tinju dari situs tinju populer, Steve Kim, menuliskan tajuk yang sangat menarik mengenai tren tinju di tahun 2010 ini, yang pada pandangan dia cukup mengganggu. Tren tersebut adalah semakin mengguritanya jaringan TV berbayar, sehingga membuat pertandingan tinju menjadi cenderung menjemukan di tahun ini, dan promotor menjadi 'malas' dalam menciptakan terobosan-terobosan menarik dalam pertandingan tinju.
Situasi ini membuat petinju-petinju papan atas hanya bertanding sekali dalam setahun, atau maksimal dua kali dalam setahun, setelah berbulan-bulan absen. Ini tentunya lain dengan era para juara dunia di masa silam, seperti era Joe Louis atau Muhammad Ali yang bisa bertanding begitu sering dalam setahun. Hal yang paling sering diucapkan para promotor mengenai satu ide pertandingan menarik tidak kunjung dilakukan adalah "TV tidak menyetujui pertandingan, atau TV belum memberikan jadwal pasti". Hanya sedikit promotor yang mau membiayai sendiri pertandingan-pertandingan besar, Bob Arum dan Kathy Duva adalah dua dari sedikit promotor kreatif tersebut.
Dua petinju kita, Chris John dan Daud Yordan adalah contoh pahit bagaimana rasanya terlempar dari salah satu jaringan TV berbayar, sehingga susah bagi mereka bertanding di AS lagi.
Yah, itulah wajah dunia pertinjuan sekarang ini, terutama tinju di Amerika, pusatnya tinju dunia yang dikupas oleh Maxboxing.
Artikel selengkapnya: klik di sini
Wednesday, June 30, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.

1 comment:
Saya yang gak abis pikir si Rocky Juarez, masih aja dapet kesempatan. Jangan2 dia ini bokinnya oscar de la hoya. hohoho
Post a Comment