Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Friday, January 6, 2012

Petinju Retro Indonesia

Jika Anda seangkatan dengan saya, pastinya pernah mendengar beberapa nama berikut yang pernah menghiasi jagad tinju nasional sekitar 1980an:

Polly Pasireron, petinju angkatan 1980an, mantan jawara kelas menengah OPBF, pernah mencoba menantang juara WBA kelas menengah waktu itu, Chong Pal Park. Sayang Polly tunduk KO ronde 5 di Chongyu, Korea Selatan, tahun 1988.

Selanjutnya adalah Monod, mantan raja kelas bantam Indonesia. Petinju slugger asal Surabaya ini sangat populer di kancah tinju nasional pada tahun 80an. Dia merupakan musuh bebuyutan si Macan Tutul, Muhammad Nurhuda. Sempat bertanding melawan dua petinju legendaris yang akhirnya menjadi juara dunia, Samart Payakarun (Thailand) dan Ji Won Kim (Korsel), walaupun Monod kalah KO dari keduanya.

Kemudian yang selalu terngiang di benak saya adalah Sambung. Walau prestasinya tidak terlalu bersinar, namun gayanya di ring sangat istimewa. Dia merupakan seniman tinju yang sangat pandai dalam berkelit sehingga lawan kesulitan memukul dia. Penonton senantiasa terhibur oleh gaya kocak Sambung, bolehlah saya menjuluki Sambung sebagai Jorge Paeznya Indonesia. Dalam catatan boxrec, Sambung menyerah dari petinju top saat itu juga, Junai Ramayana. Sambung juga tercatat pernah mengalahkan Monod dengan angka.

Nama lain, juga dari Jawa Timur, Hengky Gun. Walaupun tidak terlalu istimewa gaya bertinjunya, Hengky cukup populer dan sering tampil di televisi waktu itu. Seorang dari Australia bahkan pernah berkirim email kepada saya bahwa dia penggemar Hengky. Bukan dari gayanya bertinju, tapi dari nama belakangnya, "Gun", yang dia baca sebagai "gan" (pistol). Orang Australia itu juga memuji Hengky sebagai petinju yang sangat tahan pukul.

Petinju Malang Wongso Suseno adalah petinju yang sangat saya kagumi. Sangat berpengalaman di kancah amatir, dia merupakan petinju berteknik tinggi pada masanya. Wongso adalah petinju Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar internasional profesional (juara OPBF kelas welter ringan). Wongso juga pernah mengalahkan petinju Korsel yang kemudian menjadi juara dunia kelas welter, Sang Hyun Kim. Kim ini pernah merepotkan dua petinju besar, Aaron Pryor dan Saoul Mamby. Tak heran ada yang pernah menyebut, jika saja ada promotor Indonesia yang memiliki koneksi bagus dengan WBA atau WBC pada waktu, Wongso Suseno sangat berpeluang menjadi juara dunia pertama dari Indonesia.

Banyak sebenarnya nama-nama petinju pro angkatan 80an yang berkeliaran di memori saya: Emil Maelisa, Moningko Palungan, Yohanes Matahelemual, Robby Rahangmetan, Yani "Hagler" Dokolamo, Thomas Americo, Suwarno Perico, Tara Singh, Okky Petrus (alias Okky Abibakrin), Edward Apay, Wongso Indrajid, Yohannes M. Siren, Jimmy Sinantan, Sperling Pangaribuan, Pulo Sugar Ray, dll.

19 comments:

strezz boy said...

wah tahun 80an sy blm lahir. Tp sy sering dgr cerita dr ayah saya ttg petinju2 top tersebut. Idola ayah saya adlh Nurhuda. Jd pgen tnju INA kembali bergairah sprti thaun 80an.
Klw thun 90an yg sy kagumi adlh Andrian Kaspari si raja KO dr Surabaya. di akhir 90an nama2 yg skrg cukup tenar mulai muncul sperti Chis John, Daudy Bahari, M. Rahman jg sudah muncul meskipun msh klh greget dgn Anis Roga or Faisol Akbar.
Ad jg alm. M. Alfaridzi yg sempat "hampir mengalahkan Chris John", jg ad Soleh Sundava, alm Rahman Kili Kili Taliak, Nico Toriri, dll.
tahum 2000an ad bbrp "rising star" yg muncul sebut sj Cino, Roy Muklis (kok gk ad kabarnya ya???), Nouldy Manakane, dan Arief Bladder.

Aryo Sulkhan - Sindoro Satriamas Gym said...

Wah, ini masa lalu, sy ga ada yg kenal. Hahaha. Cuma Bung Nurhuda aja yg pernah ketemu, itupun sy ga tau gaya bertinjunya seperti apa. :D


Aryo Sulkhan

Jeffrey Pamungkas said...

Harusnya waktu ketemu anda kasih uppercut ke dagu Bung Nurhuda. Pasti anda bisa tahu gaya bertinjunya seperti apa...

:P

jp

Jeffrey Pamungkas said...

Ada yang beda atmosfir tinju tahun 80an dan atmosfir tinju sekarang. Kalau mau tahu seperti apa atmosfir tinju 80an, itu mirip saat Chris John vs Muhammad Alfaridzi bertanding. Ada penonton dua kubu yang masing-masing mendukung jagoannya, dan jumlahnya sama-sama banyak.

Atmosfir sekarang, kecuali tinju kelas dunia, rata-rata penonton kurang antusias memberikan dukungan. Mungkin mirip juga waktu Daud vs CJ tanding. Dukungan penonton seimbang, dan sama banyaknya.

Itu yang menyebabkan tinju 80an begitu berkesan.

Anonymous said...

Itu kan masanya Bung JP, kl menurut sy lebih seru tinju pro nasional era 90-an. Hehehe. Munculnya Soleh Sundava, M.Alfaridzi & M.Arief Al Mahdi, Sonny & Arthur Rambing, Feliciano Da Costa, Ferdinand, Chrisjohn, Herry Makawimbang, Rahman Kili-Kili, Rio & Roy Saragih, Yani Malhendo, Azhadin Anhar, Ahmad Mandar, Moehrodi, Harris Pujono, Sikat Pasaribu, Nico Toriri, Dobrak Arter, dll. Semua itu adlh petinju2 yg matang & memiliki teknik bertarung yg setara dgn jago2 level dunia. Mereka selalu tampil memukau, apalagi pertarungan antara Chrisjohn vs Alfaridzi, jg pertarungan Sonny Rambing vs Franky Polii. Wah, pertarungan2 kelas dunia. Sayang tidak ada pertarungan antara Chrisjohn vs Rahman Kili-Kili, misal mereka bertarung di kelas yg sama & masing2 pd kondisi puncak, sy rasa Rahman Kili-Kili akan menumbangkan Chrisjohn, bisa jd cerita tentang Chrisjohn skrg akan lain.. :)


Aryo Sulkhan

lamont said...

alm alfaridzi yang paling keren kalau menurut saya.
pertahanan terbuka, ga takut jual beli pukulan. cocok kalau dibilang mirip alm gatti.
sungguh sayang kejadian tragis menimpanya alm.
cj-alm alfa lebih baik kayak vasquez jr-r. marquez.
muka bonyok, pukul2an, jatuh beberapa kali.
mungkin orang meksiko yang lihat pertandingan cj-alm alfa juga bakal bilang begitu. hahaha

kalau alm kili-kili, saya lupa bagaimana gaya bertinjunya.

sekarang daudy bahari dan roy mukhlis udah pensiun dari tinju?
ga bertanding2 lagi.
yang saya lihat irfan ega dan sofyan effendi itu petinju bagus. cuma sayang ga terlalu terdengar gaungnya
irfan sudah terlalu gemuk sekarang untuk ukuran petinju, beberapa kali liat irfan tanding di kelas welter jr.

Pak Ogah said...

Wah jadi nostalgia nih, tahun 90an itu yg seru.. tinju sedang booming2nya.. petinju2nya juga pada bernyali dan singkatan namanya juga mengundang senyum.. seperti..
- Dobrak Arter (Arek Terminal)
- Ahmad Mandar (Mandi Darah)
ada yg mau nambahin...

Pak Ogah said...

ada yg punya video CJ vs alm. Alfaridzi ?? yg punya upload donk..

Anonymous said...

Disco 3K-Battery said....
Bung JP, jangan lupa keponakannya Wongso Suseno juga petinju hebat,...namanya: WONGSO INDRAJIT dia adalah raja kelas bantam junior Indonesia yang sangat sulit ditaklukkan...

Anonymous said...

Disco 3K-Battery said....
Wah saya balik baca artikel ternyata nama Wongso udah ditulis/ diingat Bung JP...ternyata Bung JP ingatannya sangat tajam...( pecinta tinju sejati )

Anonymous said...

KelBrok

Th 2005 pernah ada petinju potensial Melky Lelemboto. Klo tdk salah baca info, waktu di amatir Melky pernah mengalahkan Daud Cino.

Sayang stlah jd juara The Next Great Champ, kelanjutan karier tinjunya tidak jelas..

Anonymous said...

Ptnju yg berhenti ditengah jalan, sebaik apapun tekniknya, menurut sy tetap bukan ptnju yg pantas dibanggakan. Ptnju hrs bertarung sampai usianya tdk memenuhi persyaratan utk bersaing diatas ring (kecuali ptnju tsb mendapatkan cedera permanen), tetap semangat bertarung hingga akhir karirnya, entah sampai menjadi juara atau tidak. Itulah ptnju yg baik menurut sy. Kenapa sy tulis ini? Krn sy bnyk menemui ptnju2 yg "sangat/cukup" potensial namun berhenti ditengah jalan krn keras kepala tidak mau menurut kpd pelatih, sang ptnju merasa besar kepala & merasa lebih pintar. Mereka berhenti sblm menghasilkan sesuatu yg membanggakan, padahal seharusnya mereka bisa utk melakukan itu.


Aryo Sulkhan

Anonymous said...

Wongso Indrajit itu kalau saya gak salah masih keponakan Wongso Suseno.

Melky Lelemboto seusai juara the next great champ susah dapat kesenpatan bertanding, televisi sdh mulai frustrasi, sebelum Akhornya ambruk.

Anonymous said...

Bung Jeff mengingatkan kembali memory kita terhadap petinju2 era 80.an....tetapi kalo petinju yg bernama sambung saya malah blm pernah dengar.

Tapi gema tinju ditahun 80.an memang lebih terasa dibandingkan sekarang ini, bahkan utk perebutan gelar regional spt OPBF pun pertarunganya sangat dinanti bahkan banyak dihadiri oleh pejabat & petinggi militer dan mencapai puncaknya saat E.Pical menjadi juara dunia.

saya msh ingat dithn.80.an ada kejuaraan nasional di daerah saya antusias masyarakat yg menonton begitu luar biasa,penj.tiket langsung habis dlm waktu 2 hari dan GOR penuh sesak di hari H.nya

Anonymous said...

Thn 80an masih ada PORKAS hehe...
makanya olahraga banyak event. Apalagi Tinju.

90-an ada RCTI dan Indosiar.

Kematangan Intelektualitas yg membuat seorang petinju bagus dan berbakat tidak berhasil, selain faktor Luck.

-DD-

Jeffrey Pamungkas said...

Bung Max... kita seangkatan rupanya. ABG - anak belum gocap. Seneng juga ada kawan seangkatan yang bisa nyambung ... hehehe.

Sambung, dia memang tidak setop Monod, Nurhuda, Hengky Gun. Tapi gaya badut dia membuat ingatan saya tidak bisa lepas dari Sambung. Lawan memukul, dia bisa hindar. Mirip Frans Yarangga waktu di TVRI lah. Tapi Frans nggak melucu, kalau Sambung menghindar sambil cengengesan dan kadang melet-melet. Mirip Jorge Paez lah. Anaknya, Iko Sambung juga turun ke ring pro, tapi kariernya lebih buruk dari bapaknya, kalau gak salah pernah diKO sama Frans Yarangga. (tolong dikoreksi kalau salah, mas AS.)

Saya juga sangat terkesan sama Jeff Malcolm (Australia) yang pernah tanding lawan Wongso Suseno dan Jufrison Pontoh (selain beberapa pertarungan lain di indonesia). Sampai2 saya waktu kecil bikin label nama "Jeffrey M. Pamungkas", sama teman-teman saya jelaskan M itu adalah Malcolm... hehehe.

Tentunya juga ingat bagaimana Yani Hagler dihajar habis-habisan 3 ronde sama Dodi Boy Penalosa yang sempat diremehkan karena kakinya pincang akibat polio, sehingga banyak petaruh menjagokan Yani Hagler (karena faktor nama "Hagler" yang sangat 'nggegirisi').

Terus jaman itu juga ada kejuaraan bulanan 4 ronde yang digelar oleh PMTI. Kadang d Jakarta, lebih banyak di Jatim (Surabaya), karena masa itu Jatim adalah kiblat tinju pro nasional.

Tentu masih banyak lagi kenangan indah tinju nasional 80an, dimana bung Aryo cs. masih pakai popok dan ngedot sambil ngowos. ==:p++

Jeffrey Pamungkas said...

Bung DD, maksudnya bagaimana? Mungkin "Ketidakmatangan intelektualitas", ya?
---

Kematangan Intelektualitas yg membuat seorang petinju bagus dan berbakat tidak berhasil, selain faktor Luck.

-DD-
---

Bung Max:
Sayang ya keuaraan OPBF sudah lama tidak digelar disini. Buat saya kejuaraan OPBF itu lebih bergengsi daripada PABA. Mungkin karena sentimentil pengaruh tahun 80an, dimana saat itu jadi juara OPBF sudah sangat membanggakan hati.

Anonymous said...

Benar bung Jeff kalo mendengar ada petinju indonesia ingin memperebutkan kejuaraan OPBF rasanya seperti akan memperebutkan gelar WBA,WBC & IBF saja,memang animo masyarakat waktu itu sangat tinggi sehingga gelar regional saja sudah sangat dihargai....tetapi diantara banyak petinju saya msh ingat nama Yani Hagler & Pulo Sugaray sempat menjadi bulan2an ditabloid bola dng mengatakan dijudul utama berupa "nama besar prestasi memble"..haha.

wah kalo bung Aryo ditahun.90.an saja dia masih selalu bermain dng boneka barbie.nya...bagaimana lagi saat msh ditahun 80.an...tidak terbayang dibenak saya

Anonymous said...

Betul Bung J, "Ketidakmatangan" maksudnya. :)

-DD-

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.