Cebu City, Philippines, 23 Oktober 2013
Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan kembali mengawal dua petinju Indonesia untuk bertanding di Jepang. Mereka adalah Juniston Simbolon (Sasana Batubara - Medan) dan Arega Yunian (Vida Muaythai - Tangerang). Juniston bertarung pada kelas Ringan dan Arega bertarung pada kelas Bantam. Kedua petinju bertarung melawan petinju tuan rumah, Juniston mendapat kesempatan menjajal ketangguhan Seiichi Okada, sedangkan Arega melawan petinju muda sarat pengalaman, Ryo Matsumoto.
Pertandingan dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2013 di stadion tinju legendaris di Jepang, Korakuen Hall, Tokyo. Persaingan "tanpa akhir" antara petinju Jepang melawan petinju Indonesia ini dimulai pada partai ketiga dari total tujuh partai yang dipertandingkan pada malam itu, termasuk salah satunya adalah Satoshi Hosono yang beberapa waktu yang lalu sempat menantang Sang Naga Chris John dengan hasil draw.
Juniston Simbolon mendapat kesempatan pertama untuk tampil di atas ring. Tampil dengan penuh percaya diri sejak ronde pertama ternyata berhasil juga merepotkan Seiichi Okada yang tampil dengan gaya fighter. Beberapa pukulan Juniston malah terlihat lebih sering mengena ke wajah Okada meski pukulan Okada juga beberapa kali sanggup mendarat pada sasaran dengan baik pula. Secara keseluruhan, di ronde pertama dimenangkan oleh Okada dan di ronde kedua dimenangkan oleh Juniston. Namun memasuki ronde ketiga, kedua petinju mulai over percaya diri, baik Okada maupun Juniston. Beberapa kali saya meneriakkan instruksi agar tidak terpancing untuk barter pukulan tetapi sepertinya tidak diindahkan oleh Juniston. Akhirnya pada pertengahan ronde ketiga tersebut, sebuah uppercut keras menghunjam ulu hati Juniston dan membuatnya tidak bangkit lagi hingga hitungan ke sepuluh.
Kemudian pada partai berikutnya adalah pertarungan antara Arega Yunian melawan Ryo Matsumoto. Perbedaan kekuatan dan teknis yang mencolok cukup jelas terlihat. Ryo Matsumoto tampil mengurung Arega dari sudut manapun sambil mengeluarkan pukulan-pukulan taktis dan bertenaga. Bahkan Arega beberapa kali terdorong hanya karena ganjalan jab dari Matsumoto meski Arega juga memberikan perlawanan dengan sangat baik pula. Bibir Arega juga terlihat mulai mengucurkan darah pada awal ronde kedua. Lalu pada akhir ronde tersebut, sebuah hook kanan ke arah rusuk membuat Arega jatuh terduduk dan tidak sanggup lagi melanjutkan pertarungan.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas petinju nasional kita saat ini masih kalah bila dibandingkan petinju dari negara-negara tetangga yang satu dekade ini terlihat perkembangan yang signifikan. Meskipun demikian, ternyata tinju pro nasional masih cukup memunculkan harapan dengan lahirnya bakat-bakat potensial dari petinju-petinju muda kita seperti "The Beast" Defri Hammer Palulu (Sasana Extra Joss - Tangerang) yang pada saat yang hampir bersamaan mengguncang publik tinju nasional atas kemenangan spektakuler kepada seniornya, Boido Simanjuntak, dengan TKO di ronde kedua. Semoga akan kembali muncul petinju-petinju muda yang pada suatu saat nanti sanggup membangkitkan kembali gairah tinju pro di tanah air.
--
A fighter has to know how to fear - Cus D'Amato
Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan kembali mengawal dua petinju Indonesia untuk bertanding di Jepang. Mereka adalah Juniston Simbolon (Sasana Batubara - Medan) dan Arega Yunian (Vida Muaythai - Tangerang). Juniston bertarung pada kelas Ringan dan Arega bertarung pada kelas Bantam. Kedua petinju bertarung melawan petinju tuan rumah, Juniston mendapat kesempatan menjajal ketangguhan Seiichi Okada, sedangkan Arega melawan petinju muda sarat pengalaman, Ryo Matsumoto.
Pertandingan dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2013 di stadion tinju legendaris di Jepang, Korakuen Hall, Tokyo. Persaingan "tanpa akhir" antara petinju Jepang melawan petinju Indonesia ini dimulai pada partai ketiga dari total tujuh partai yang dipertandingkan pada malam itu, termasuk salah satunya adalah Satoshi Hosono yang beberapa waktu yang lalu sempat menantang Sang Naga Chris John dengan hasil draw.
Juniston Simbolon mendapat kesempatan pertama untuk tampil di atas ring. Tampil dengan penuh percaya diri sejak ronde pertama ternyata berhasil juga merepotkan Seiichi Okada yang tampil dengan gaya fighter. Beberapa pukulan Juniston malah terlihat lebih sering mengena ke wajah Okada meski pukulan Okada juga beberapa kali sanggup mendarat pada sasaran dengan baik pula. Secara keseluruhan, di ronde pertama dimenangkan oleh Okada dan di ronde kedua dimenangkan oleh Juniston. Namun memasuki ronde ketiga, kedua petinju mulai over percaya diri, baik Okada maupun Juniston. Beberapa kali saya meneriakkan instruksi agar tidak terpancing untuk barter pukulan tetapi sepertinya tidak diindahkan oleh Juniston. Akhirnya pada pertengahan ronde ketiga tersebut, sebuah uppercut keras menghunjam ulu hati Juniston dan membuatnya tidak bangkit lagi hingga hitungan ke sepuluh.
Kemudian pada partai berikutnya adalah pertarungan antara Arega Yunian melawan Ryo Matsumoto. Perbedaan kekuatan dan teknis yang mencolok cukup jelas terlihat. Ryo Matsumoto tampil mengurung Arega dari sudut manapun sambil mengeluarkan pukulan-pukulan taktis dan bertenaga. Bahkan Arega beberapa kali terdorong hanya karena ganjalan jab dari Matsumoto meski Arega juga memberikan perlawanan dengan sangat baik pula. Bibir Arega juga terlihat mulai mengucurkan darah pada awal ronde kedua. Lalu pada akhir ronde tersebut, sebuah hook kanan ke arah rusuk membuat Arega jatuh terduduk dan tidak sanggup lagi melanjutkan pertarungan.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas petinju nasional kita saat ini masih kalah bila dibandingkan petinju dari negara-negara tetangga yang satu dekade ini terlihat perkembangan yang signifikan. Meskipun demikian, ternyata tinju pro nasional masih cukup memunculkan harapan dengan lahirnya bakat-bakat potensial dari petinju-petinju muda kita seperti "The Beast" Defri Hammer Palulu (Sasana Extra Joss - Tangerang) yang pada saat yang hampir bersamaan mengguncang publik tinju nasional atas kemenangan spektakuler kepada seniornya, Boido Simanjuntak, dengan TKO di ronde kedua. Semoga akan kembali muncul petinju-petinju muda yang pada suatu saat nanti sanggup membangkitkan kembali gairah tinju pro di tanah air.
Powered by Telkomsel BlackBerry®Cebu City
A fighter has to know how to fear - Cus D'Amato




