Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman
Showing posts with label Biography. Show all posts
Showing posts with label Biography. Show all posts

Monday, July 29, 2013

Ferdinand, "the Bad Boy" who Becomes "the Good Boy"

oleh Aryo Sulkhan

Masa kejayaan Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI) memang telah usai. Acara rutin satu minggu sekali ini, yang bahkan pada masa jayanya sempat ditayangkan secara langsung dua kali dalam satu minggu, terbukti mampu melahirkan nama-nama besar di kancah tinju profesional nasional. Kali ini, saya akan mengulas tentang salah seorang petinju yang dibesarkan oleh GTPI dibawah bendera kepromotoran Daniel Bahari Promotions. Petinju tersebut adalah Ferdinand, dia adalah salah satu petinju "jebolan" GTPI yang cukup ternama pada masanya.

Sosok Ferdinand mungkin sudah mulai sedikit terlupakan bagi para penggemar tinju profesional di Indonesia. Padahal Ferdinand adalah seorang mantan Juara Nasional kelas Ringan KTI. Kala itu pemuda berdarah campuran Belanda dan Arab yang lahir di Semarang tanggal 19 Juli 1978 ini merupakan Raja KO. Hampir semua lawan-lawannya di tuntaskan dengan KO baik di awal maupun di akhir pertandingan. Sebut saja nama petinju nasional pada masa itu seperti Pieter Karpau dan Damianus Rahael (Keduanya telah meninggal beberapa tahun yang lalu), pernah merasakan betapa kerasnya pukulan petinju asuhan H.Sutan Rambing di Sasana Bank Buana Semarang tersebut. Termasuk beberapa petinju dari negara tetangga ikut-ikutan tersungkur KO setelah menerima bogem mentah dari petinju bergaya boxer-fighter tersebut. Gaya bertinjunya cukup unik, pada dasarnya dia adalah petinju bergaya boxer, namun hampir selalu mengajak lawan untuk melakukan barter pukulan layaknya petinju bergaya fighter.

Ferdinand pertama kali merebut Juara Nasional di kelas Ringan KTI dari tangan Teddy Widal dengan kemenangan TKO di ronde ke 11. Berlanjut dengan kemenangan-kemenangan spektakuler di tingkat nasional dan regional lainnya hingga sempat menjadi penantang di Kejuaraan PABA dan OPBF kelas Ringan meskipun harus mengakui ketangguhan lawan yang lebih baik darinya. Ferdinand pernah mendapatkan lawan yang cukup keras saat melawan Dennis Laurente asal Filipina. Pertarungan mereka berdua seperti pertarungan antara Morales-Barrera yang penuh dengan atraksi jual beli pukulan dan sempat diselenggarakan di dua negara berbeda. Ferdinand memenangi duelnya yang pertama di Indonesia, namun dia mengalami kekalahan angka pada duel keduanya di Filipina. Dia pernah bercerita bahwa publik Filipina sangat puas dengan penampilannya saat itu, meskipun mengalami kekalahan namun Ferdinand memberikan perlawanan yang sangat keras pula.

Nama petinju muda yang murah senyum namun tahan pukul tersebut mulai melambung seiring prestasinya yang semakin gemilang. Namun sayang, Ferdinand yang semakin terkenal dan memiliki pundi-pundi uang yang lebih dari cukup bagi pemuda seusianya membuatnya kehilangan kontrol diri. Keglamouran kehidupan malam dan pertarungan jalanan sangat lekat dengan dirinya kala itu. Karir bertinjunya pun lambat laun mulai merosot hingga akhirnya setelah mengalami kekalahan beruntun, Ferdinand memutuskan untuk gantung sarung tinju. Beberapa kali Ferdinand juga berurusan dengan pihak kepolisian, bahkan sempat ditahan dengan masa penahanan yang cukup lama. Ferdinand mengatakan bahwa uang hasil bertinjunya habis tak tersisa karena terlal

u banyak dikeluarkan untuk menyelesaikan kasus-kasus perkelahian yang saat itu selalu menghinggapinya.

Adik kandung Ferdinand yang juga mantan petinju nasional kelas Welter.Jr, Jimmy Falentino, mengatakan bahwa abangnya adalah seorang yang pemberani dan keras, namun sebenarnya dia memiliki jiwa solidaritas yang sangat tinggi terhadap kawan. Hampir semua perkelahian yang terjadi hanyalah kesalah pahaman karena membela kawan-kawan, keluarga, dan pekerjaanya. Terakhir kasus perkelahian yang terjadi ketika Ferdinand mempertahankan pekerjaan yang sudah dijalaninya dari pesaing lain, kasus tersebut cukup santer di pemberitaan karena Ferdinand berkelahi dan dikeroyok sekitar 40 preman bersenjata tajam di lokasi tempat tinggalnya. Namun karena kelihaiannya bertarung dia hanya terluka yang bisa dikatakan tidak terlalu parah. Malah beberapa dari penyerangnya mengalami luka yang cukup berat.

Namun kini, Ferdinand sudah menjadi seorang yang religius dan tertata dalam kehidupannya. Ferdinand sekarang menjadi wirausahawan yang cukup berkembang di bidang perkayuan. Usaha yang dia rintis sekitar 5 atau 7 tahun yang lalu lambat laun mulai menampakkan hasil. Dia juga menjalankan beberapa usaha lain yang juga cukup menghasilkan. Ferdinand sekarang sudah tidak pernah lagi terlibat kasus-kasus perkelahian ataupun sebagainya. Ferdinand mengatakan bahwa sekarang sudah tidak jamannya lagi berkutat di dunia yang keras, sekarang dia hanya ingin dikenal sebagai seorang wirausahawan dan seorang mantan juara nasional saja. Tentang lika-liku perjalanan kisah kelam hidupnya, dia hanya ingin menjadikannya sebagai sejarah yang tidak ingin dia ulang kembali. Dia juga mengatakan dengan senang hati menerima apabila ada teman-teman member boxing-indonesia.com ataupun para penggemar tinju yang ingin mengajaknya bekerjasama dalam bisnis apapun. Ada sebuah pepatah, lebih baik menjadi mantan penjahat daripada mantan ustadz. Mungkin itu berlaku buat Ferdinand, mantan "the Bad Boy" yang sudah insyaf menjadi seorang "Good Boy" sekarang. Semoga semakin sukses, Ferdinand..

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Monday, March 25, 2013

Kisah Petinju Termuda: Nipper Pat Daly

Jika beberapa waktu lampau saya pernah menulis tentang petinju Meksiko Baby Arizmendi (10 tahun saat itu) yang dianggap sebagai petinju termuda dalam sejarah bertanding dalam sebuah pertandingan tinju profesional (baca di sini), sebetulnya masih cukup banyak para petinju muda pada masa 1900-1930'an di mana peraturan tinju belum seketat pada masa kini. Selain Arizmendi ada Alfredo Pena (12), Teddy Baldock (14), Al McCoy (14), Battling Nelson (14), Georges Carpentier (14).

Namun tampaknya masih ada catatan yang terlewat. Nipper Pat Daly (nama asli Patrick Cliford Daly) asal Inggris, secara resmi terjun ke tinju pro pada tahun 1927, saat usianya 9 tahun, bahkan ada catatan tak resmi yang menyatakan dia berusia 8 tahun saat terjun ke ring profesional!

Daly, selama 2 tahun debutnya mencatat kemenangan beruntun atas petinju-petinju yang sudah dewasa, bahkan sempat bersparring dengan juara dunia kelas menengan Mickey Walker, padahal Daly adalah petinju kelas terbang.  Pada tahun 1928, Daly sudah masuk dalam top list calon penantang juara dunia kelas terbang. Namun karena tubuhnya sudah mulai berkembang, sulit baginya bertahan di kelas terbang dan dia naik ke kelas bantam.

Pada terbitan September 1929, majalah tinju terkemuka The Ring menulis bahwa Daly ditawari untuk bertanding memperebutkan gelar juara dunia kelas bantam asal AS, Battling Batalino. Namun manajer Daly saat itu menolak untuk melepas Daly bertanding di AS, sehingga kesempatan emas tersebut menguap.

Pada 27 Januari 1927, 3 bulan menjelang ulangtahunnya yang ke-18, Daly mengundurkan diri dari ring tinju profesional. Pertimbangan utamanya adalah masukan dari sang manajer, bahwa dalam usia yang masih begitu muda, Daly sudah bertanding di level yang terlalu tinggi untuk usianya. Demi kebaikan dan kesehatannya sendiri, Daly akhinya memutuskan pensiun dari ring tinju pro, dan melanjutkan karier di tinju sebagai pelatih tinju pro dan amatir. Dalam karier pro nya selama 8 tahun (1923 - 1931), Daly mencatat rekor 120 pertandingan (99 (26  KO) - 11 (7 KO) - 8). Sangat luar biasa!

Daly memutuskan pensiun sepenuhnya dari dunia tinju pada 1980, dan menetap Hastings, East Sussex,hingga wafatnya pada tahun 1988.

Sumber:
1. http://www.nipperpatdaly.co.uk/
2. Wikipedia
3. Boxrec







Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Friday, January 18, 2013

Legenda Puerto Rico ini Meninggal karena AIDS

Salah satu raja kelas ringan terkenal pada masanya adalah Esteban de Jesus (asal Puerto Rico, 58-5, 33 KO), juara dunia kelas ringan WBC tahun 1976 –1978). Dia merebut gelar itu dari legenda Jepang, Guts Ishimatsu, dalam pertandingan cantik di Bayamon, Puerto Rico, 8 Mei 1976. Ishimatsu yang tampil dengan gaya slugger dan mengandalkan pukulan keras dan mematikan, mati kutu oleh jab-jab de Jesus yang kemudian dinyatakan menang angka mutlak. Beberapa kali de Jesus mempertahankan gelar, sebelum akhirnya rontok dari Skuk Arui alias the Hands of Stone, Roberto Duran pada tahun 1978. Sempat sekali berupaya merebut gelar WBC kelas welter yunior dari Saoul Mamby di tahun 1980, namun kalah, de Jesus akhirnya mengundurkan diri dari ring tinju saat berusia 29 tahun.

Setahun usai memutuskan pensiun, de Jesus terlibat pertengkaran dengan seorang remaja 17 tahun di Puerto Rico, yang mengakibatkan tewasnya sang remaja. De Jesus akhirnya dijatuhi penjara seumur hidup. Di dalam penjara itulah de Jesus mengenal obat bius dan menggunakan jarum suntik bersama-sama. Pada tahun 1984, de Jesus menyatakan bertobat atas segala perbuatan di masa lampaunya, dan menjadi seorang pendeta. Tak lama sesudah itu, dia diketahui menderita penyakit AIDS akibat virus HIV yang ditularinya saat menjadi pecandu obat-obatan terlarang, sehingga dia diampuni oleh pemerintah Puerto Rico. Esteban de Jesus sempat menjalani hari-hari terakhirnya bersama keluarganya di rumah, dan bertemu dengan seterunya Roberto Duran yang secara demonstratif memeluk dan mengangkat de Jesus dari ranjang. Bahkan Duran mencium de Jesus, serta menyuruh putrinya untuk melakukan hal yang sama terhadap de Jesus. Sekedar diketahui, saat itu AIDS merupakan penyakit yang sangat ditakuti dan menjadi momok kematian. Esteban de Jesus akhirnya wafat pada 12 Mei 1989 dalam usia 37 tahun.

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Tuesday, September 25, 2012

James Butler, si Palu Godam dari Harlem

Salah satu kejadian kelam dalam tinju profesional adalah saat James Butler bertanding melawan Richard Grant, 23 Nov. 2001 di New York. Grant yang dinyatakan menang angka mencoba mendekati Butler dan coba merangkul seperti lazimnya usai suatu pertandingan tinju. Tak dinyana, Butler yang sudah melepas sarung tinju dan hanya berbalut perban tinju di tangan, melepaskan hook kanan keras yang disebut sucker punch tepat ke dagu Grant yang langsung KO. Usai pertandingan ini, Butler divonis bersalah dan dipenjara.

Lima tahun usai kejadian tersebut, Butler kembali berurusan dengan pihak berwajib karena terbukti bersalah atas pembunuhan terhadap wartawan olahraga Sam Kellerman (adik analis tinju terkenal, Max Kellerman). Pada tahun 2004, Butler yang hidup menumpang di apartemen Kellerman di Los Angeles, nekad menghabisi nyawa temannya tersebut dengan palu. Kemungkinan depresi karena kariernya yang merosot serta ada masalah dengan kekasihnya, Butler naik pitam saat Kellerman mengusirnya dari apartemen, dan langsung menghabisi Kellerman dengan palu. Butler yang kebetulan berjuluk "the Harlem Hammer" tersebut divonis 30 tahun penjara atas kasus ini.

SUmber: NBC Sports

Link video youtube (Butler vs Grant): http://www.youtube.com/watch?v=BI3D7h5yxOs

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Friday, September 14, 2012

Carlos Monzon, Dewa yang Berkisah Tragis

Sejak namanya menjulang setelah mampu merebut gelar juara dunia WBC kelas menengah dengan menundukkan petinju-petinju papan atas dunia seperti Kermit Cintron, Paul Williams dan Kelly Pavlik, banyak orang mulai membanding-bandingkan Sergio Martinez dengan legenda masa lalu Argentina, Carlos Mozon. Kebetulan mereka sama-sama dari Argentina, dan juara dunia di salah satu kelas bergengsi, kelas menengah.

Martinez sendiri dengan rendah hati menolak dibandingkan dengan seniornya yang telah tiada itu. "Jangan bandingkan saya dengan para dewa. Carlos Monzon adalah dewa. Sedang saya adalah manusia biasa," ujar Martinez. Banyak kalangan, termasuk saya, memang menganggap kelas Carlos Monzon masih di atas satu kelas di atas Martinez. Sulit bagi Martinez untuk menyamai kedigdayaan Martinez, namun Martinez masih sangat berpeluang untuk mengejarnya. Paling tidak 20 September esok, dia akan mendapatkan peluang melangkah lebar jika berhasil tampil bagus dan menundukkan sang "Putra Legenda" JC Chavez Jr.

Perbedaan mencolok adalah gaya bertinju Monzon dan Martinez. Monzon bertinju sebagai slugger sejati, dengan senjata utama pukulan kanan yang sangat ditakuti lawan. Dia mengejutkan dunia saat menundukkan juara hebat pada masa itu, Nino Benvenuti dengan dengan TKO ronde 3 dari rencana 15 ronde di Monaco, 8 Mei 1971, sekaligus merengkuh gelar sebagai juara dunia sejati kelas menengah WBA/WBC. 14 kali berturut-turut Monzon mempertahankan gelar termasuk beberapa petinju top seperti Emille Griffith, Jose Napoles dan Tony Mundine. Pada tahun 1977, sebulan usai mempertahankan gelar melawan Rodrigo Valdez, Monzon memutuskan pensiun sebagai juara, dan masuk dalam kelompok elit petinju yang gantung sarung hidup sekali dan sebagai juara. Dalam kelompok elit ini ada Edwin Valero, Khaosai Galaxy, Rocky Marciano dan Salvador Sanchez. Monzon yang begitu populer di Argentina, usai gantung sarung tinju langsung meneruskan karier di bidang hiburan sebagai aktor.

Popularitas sejak menjadi atlet terkenal di Argentina, telah membawa Monzon yang terlahir dari keluarga miskin dalam kehidupan jetset dan glamor. Perkawinannya kandas di tahun 1973 akibat perselingkuhannya dengan aktris Argentina, Suzana Gimenez. Bahkan, sang istri yang terluka akibat perselingkuhan itu nekad menembak kaki Monzon yang mengharuskannya terbaring di meja operasi selama 7 jam. Usai perceraiannya, hubungan Monzin dengan Gimenez terus membara, dan menjadi bahan buruan para paparazzi. Hubungan Monzon - Gimenez berakhir di tahun 1978.

Kemudian Monzon merajut hubungan dengan model asal Uruguay, Alicia Muniz, yang kelak membawanya ke malapetaka. Hubungan harmonis yang dilanjutkan dengan hidup serumah sehingga menghasilkan seorang anak itu berlanjut dengan gonjang-ganjing. Kekerasan demi kekerasan mewarnai kehidupan mereka, hingga suatu saat dalam sebuah pertengkaran, Monzon mencekik Muniz di sebuah balkon rumah mereka, dan melemparkan kekasihnya tersebut dari atas hingga tewas. Usai pertengkaran fatal itu, Monzon langsung ikut loncat dari balkon, tapi dia hanya menderita luka di bahu. Monzon pada tahun 1989 divonis 11 tahun atas pembunuhan terhadap Muniz. Tahun 1995, Monzon memperoleh "cuti" dari penjara untuk mengunjungi keluarganya. Usai "cuti" dan dalam perjalan menuju ke penjara, Monzon mengalami kecelakaan yang menewaskan dirinya.

Monzon menutup karir dengan 87 menang (59 KO), 3 kalah, 9 Seri dan 1 kali non contest. Pada tahun 2003, the Ring Magazine memasukkan Monzon dalam daftar 100 petinju dengan pukulan paling keras.
Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Monday, October 10, 2011

Peter "Professor" Buckley

Setelah membaca kisah ini, saya harap Anda berhenti membulan-bulani Jamed Jalarante.

Petinju kelahiran Birmingham, Inggris, ini memang unik. Tahun 2008 lalu dia menggenapi rekor bertanding menjadi 300 pertandingan dengan kemenangan. Mengapa unik? Karena kemenangan adalah sesuatu hal yang langka bagi Buckley. Rekor Buckley setelah laga itu adalah 32 menang (8 KO), 256 kalah (10 KO) dan 12 seri (boxrec.com). Bahkan disebut-sebut rekor kalah Buckley adalah merupakan rekor dunia sampai saat ini.

"Saya selalu siap bertanding kapan saja, karena saya selalu berlatih di gym. Saya selalu siap tanding bahkan beberapa jam sebelum pertandingan dimulai," cetus Buckley. "Jika Anda seorang tukang batu, dan Anda mendapat order untuk membangun tembok, tentu Anda tidak perlu minta waktu 3 minggu untuk mempersiapkan diri, bukan?" Bahkan, pernah diketahui Buckley menyetujui sebuah pertandingan pada jam 8 malam, kurang dari 2 jam dari pertandingan di hari H nya!

Walau kalahan, petinju kelas welter (kebetulan sekelas dengan Jamed Jalarante) ini jangan diremehkan. Dia pernah berlatih tanding dengan para petinju papan atas Inggris pada masa jayanya, al. Duke McKenzie, Scott Harrison, Nassem Hamed, Michael Brodie, Gavis Rees dan Collin McMillan.

"Tinju sudah menjadi sesuatu yang baik dalam diriku selama beberapa tahun. Ketika saya remaja, saya mengalami masalah dengan Polisi. Tapi olahraga ini sudah memberi saya fokus dalam kehidupan saya," ujar Buckley, yang pernah menerima perghargaan khusus pada bulan April 2003, ketika menyelesaikan pertarungannya yang ke 200 di MEN Arena yang terkenal di Manchester.

Apa yang bisa diserap dari kisah Peter Buckley? Hasil akhir (kalau dalam tinju sabuk juara) hanyalah sebuah tolok ukur; yang paling penting adalah bagaimana Anda berupaya dan melakukan kerja keras demi upaya tersebut.

Sumber: Daily Mail

Thursday, September 15, 2011

15 September 1978



Hari ini, 33 tahun lalu di Superdome, New Orleans, Louisiana, AS, terjadi pertarungan bersejarah antara sang legenda Muhammad Ali vs. Leon Spinks, petinju yang baru saja melucuti mahkota kelas berat milik Ali (sabuk WBA dan WBC kelas berat) pada Februari di tahun yang sama dengan kemenangan angka tipis di Las Vegas. Gelar WBC tidak dipertandingkan, karena sabuk tersebut telah dicopot dari pinggang Spinks sebab dia menolak mempertahankan gelar melawan penantang No. 1 WBC, Ken Norton.

Pertandingan ini adalah kebalikan dari pertandingan pertama. Dalam pertandingan pertama, Ali malas berlatih, sehingga tampil buruk di hadapan petinju yang usianya jauh lebih muda ini. Dalam pertandingan kedua, Spinks yang mabuk kemenangan lebih banyak menghabiskan waktunya di klub-klub malam, menikmati hidup, dan sering meninggalkan sasana tanpa alasan jelas. Sebaliknya Ali mempersiapkan diri dengan baik.



Disaksikan sekitar 63,000 penonton, pertandingan ini berjalan kurang menarik. Sepanjang pertandingan Ali terus melakukan strategi pukul-rangkul. Jab-straight, lalu Ali meraih tengkuk Spinks kemudian dan merangkulnya. Walaupun pertandingan berjalan menjemukan, namun strategi ini berjalan baik buat Ali. Ali juga kembali menampilkan langkah kaki yang enteng dan menari-nari sepanjang pertandingan. Sesuatu yang hilang pada pertandingan Ali vs Spinks 1.



Hasil penilaian sepanjang 15 ronde pada saat itu, 2 hakim menyatakan kemenangan Ali 10-4 dan 1 hakim 11-4, dan Ali dinyatakan menang angka mutlak. Kemenangan Ali ini dicatat dengan tinta emas pertinjuan dunia, Ali dinobatkan menjadi petinju pertama yang menjadi juara dunia kelas berat sebanyak 3 kali.



Hampir setahun sesudah pertandingan ini, tepatnya 6 September 1979, Ali menyatakan mengundurkan diri dari dunia tinju. Jika saat itu Ali tidak tertarik dengan iming-iming Don King untuk mempertemukannya dengan Larry Holmes, tentu sangat baik bagi dia. Sayang, Ali silau oleh rayuan Don King, sehingga dia dipermalukan oleh Holmes. Pasca menyerah dari Holmes pada tahun 1980, Ali kembali turun di Bahama dan kalah angka dari Trevor Berbick.



Sebelumnya, pada tahun 1977, sahabat sekaligus dokter pendamping Ali di Sasana, Dr. Ferdie Pacheco, meninggalkan Sasana milik Ali karena Ali mengabaikan sarannya untuk pensiun dari tinju. Dr. Pacheco memperhatikan gerak Ali mulai melambat dan dari hasil analisisnya serta diskusi dengan beberapa rekan dokter lain, dia menyimpulkan ada suatu masalah besar pada syaraf Ali. Walaupun Pacheco sudah mundur dari Sasana, sebagai sahabat mereka masih saling berhubungan, dan Pacheco terus menasehati Ali agar segera pensiun dari ring.

Friday, August 19, 2011

Benny Lynch, Takluk Melawan Miras


Salah satu petinju terbesar yang pernah dimiliki Skotlandia dan Inggris Raya adalah Benny Lynch. Dia adalah juara dunia kelas terbang pada tahun 1930'an. Dia merebut gelar tersebut dengan menang angka atas petinju Filipina, Small Montana, di Stadion Wembley, London, 19 Januari 1937. Bulan Oktober 1937, dia mengakhiri "petualangan" petinju bertangan besi, Peter Kane untuk mempertahankan gelarnya tersebut.

Pada tahun 1938, Lynch gagal mempertahankan gelarnya dari petinju Amerika, Jackie Jurich, akibat kelebihan berat badan. Berbagai ulasan di surat kabar pada masa itu mengungkapkan bahwa kelebihan berat badan itu karena Lynch tidak dapat mengendalikan kebiasannya minum minuman keras. Gelar dunia kelas terbang pada waktu akhirnya dinyatakan lowong, karena Lynch dengan berat badan berlebih mampu memukul KO Jurich dalan 12 ronde dari rencana 15 ronde.

Kisah kepahlawanan Benny Lynch sudah diangkat ke dalam film pada tahun 2003. Group band rock asal Skotlandia, Gun, juga pernah mempersembahkan album kedua mereka berjudul "Gallus" kepada Lynch, dengan memajang foto Benny Lynch pada cover album mereka. Lebih daripada itu, nama Lynch masuk dalam daftar International Boxing Hall of Fame pada 1992.

Setelah pensiun dari tinju, Benny Lynch (2 April 1913 - 6 Agustus 1946), harus berjuang melawan ketergantungan alkohol, dan akhirnya meninggal pada usia sangat muda, 33 tahun. Dalam berbagai publikasi, disebutkan sebab meninggalnya Lynch adalah akibat kekurangan gizi. Sangat memungkinkan hal itu akibat pengaruh dari ketergantungannya terhadap miras tersebut.

Dalam hidupnya yang relatif singkat, Lynch mencatat rekor tinju 108 kali bertanding, 81 menang (34 KO), 12 kalah (1 KO) dan 15 seri.

(boxrec.com)

Tuesday, May 3, 2011

Azumah Nelson: Petinju Terbaik Afrika Sepanjang Masa

Azumah "the Professor" Nelson, kelahiran Accra, Ghana, 19 Juli 1958 ini adalah mantan juara WBC kelas bulu dan super bulu, disebut oleh hampir semua pihak sebagai petinju terbaik yang lahir dari bumi Afrika. Pertarungan yang paling dikenang orang adalah dua kali pertemuan dengan legenda Australia, Jeff Fenech. Pertemuan pertama di Las Vegas, 1991, Nelson hanya berhasil memaksa hasil seri. Saat itu, Nelson mengaku sedang terkena serangan malaria. "Jika dia benar terkena malaria, kenapa dia bisa bertanding?" ketus Fenech dengan sengit saat mengenang masa jayanya.



Pertarungan kedua pada 1992 di Melbourne, Azumah Nelson membuktikan diri bahwa dirinya memang petinju hebat. Dia langsung tampil agresif dan menyergap Fenech dari segala penjuru. Fenech bahkan terkena knockdown tigakali masing-masing pada ronde 1, 2 dan 8, sebelum wasit akhirnya menghentikan pertarungan dan Nelson dinyatakan menang TKO ronde 8.



Azumah Nelson tumbuh di daerah keras di propinsi Bokum, Ghana. Seperti anak sebanyanya di lingkungannya tinggal, Nelson sangat hobi berkelahi. Di Bokum, anak-anak diijinkan bertarung di jalanan, asal mereka sebaya dan tidak boleh menggunakan senjata. Anak-anak dari luar Bokum sangat paham kepiawaian anak-anak Bokum, sehingga mereka tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap anak dari Bokum.



Akhirnya Nelson muda melampiaskan kegemarannya berkelahi di jalanan dengan menekuni tinju. Di amatir, dia memiliki rekor 50-1 dan menjadi juara Persemakmuran. Pengalaman itu sudah cukup baginya, sehingga saat terjun di ring profesional, dia cukup bertanding sebanyak tiga kali saja, ketika berhasil menjadi juara nasional Ghana kelas bulu pada tahun 1980, dengan menundukkan Henry Saddler dengan KO ronde 9.



Prestasinya di ring tinju terus meningkat dengan menjadi juara Persemakmuran di kelas bulu. Impiannya untuk meraih gelar tertinggi di tinju pro sempat kandas saat dia dipecundangi dengan kekalahan KO di ronde terakhir, 15, saat mencoba merebut gelar dari petinju legendaris Meksiko, Salvador Sanchez, pada 1982 di New York. Sanchez tak lama setelah pertarungan ini meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas.



Tidak tenggelam dalam kekalahan, Nelson perlahan-lahan berhasil bangkit dan merebut gelar kelas bulU WBC dari juara bertahan, Wilfredo Gomez, 1984 di Puerto Rico dengan kemenangan KO ronde 11. Empat tahun dia bertahan sebagai juara kelas bulu WBC, kemudian dia naik kelas bulu super dan merebut gelar WBC lowong kelas tersebut dengan menundukkan Mario Martinez di California.Gelar tersebut melayang tahun 1990 saat dia ditumbangkan Pernell Whitaker ketika dia mencoba naik ke kelas ringan dalam perebutan gelar WBC & IBF kelas ringan.



Masih di tahun 1990, Nelson kembali ke kelas bulu super WBC, dan merebut gelar dari Juan La Porte. Dan berhasil mempertahankan gelar tersebut beberapa kali, termasuk dua kali duel legendaris melawan Fenech (saya ingat saat itu TVRI menyiarkan langsung partai pertama keduanya, saat tampil dalam partai tambahan Mike Tyson di Las Vegas).



Gelar sebagai raja WBC kelas bulu super sempat melayang saat Nelson berhasil ditundukkan oleh Jesse James Leija pada 1994. Namun Nelson masih mampu merebutnya kembali saat dia menundukkan juara setelahnya, Gabriel Ruelas. Nelson berhasil menuntaskan dendamnya dengan "menghabisi" Leija dengan kemenangan TKO pada tahun 1996. Tahun berikutnya, stigma Nelson sebagai raja kelas bulu WBC ludes, saat gelar WBC nya 'dipreteli' oleh Genaro Hernandez dengan angka tipis. Sempat bertemu sekali lagi dengan Leija pada 1998 untuk merebut gelar kelas ringan versi IBA, namun nelson harus mengakui keunggulan Laija kali ini.



Terakhir, pada tahun 2008, Nelson kembali turun ke ring, bertemu dengan seteru lamanya yang sudah sama-sama gaek, Jeff Fenech. Nelson kalah angka dalam pertarungan 10 ronde di kelas menengah yunior di Melbourne.



(sumber & foto: Boxrec)

Thursday, August 12, 2010

Sam Langford & Nasehat "Bijaksana"

Sam Langford, petinju kelas berat asal Boston, Massachussets, saat akan berhadapan melawan petinju sangar yang merupakan Raja KO pada masa itu, Fred Fulton, meminta petunjuk kepada salah satu sahabatnya, bagaimana cara mengalahkan buldozer tinju tersebut.

Wills, sang sahabat, menjawab santai, "Ambil tongkat golf, pukul kepalanya dengan tongkat golf. Jika dia berhasil menghindar, pukul sekali lagi. Jika luput lagi, segeralah lari menyelamatkan diri sebelum kamu tewas dihajarnya!" Langford kalah angka 4 ronde dalam pertandingan yang diadakan di Civic Auditorium, San Francisco, California, tersebut. Catatan boxrec menuturkan bahwa saat keduanya tampil di ring, penonton bersorak-sorai dan terpingkal-pingkal karena perbedaan postur keduanya. Fulton tinggi kurus bagai menara, sedangkan Langford (169 cm) pendek gempal dan justru bertubuh lebih berat dari Fulton yang memiliki tinggi badan 199 cm.

Sam Langford (1883 - 1956) yang dijuluki Boston Baby Tar adalah salah satu petinju terbaik yang pernah tampil di dunia ini sepanjang sejarah. Bertarung lebih dari 200 kali sepanjang kariernya, namun nasib Langford yang berkulit hitam ini cukup suram, karena dia tidak pernah memperoleh kesempatan untuk merebut gelar juara dunia karena masalah ras. Langford meninggal pada 12 januari 1956 di sebuah panti jompo di Massachussets dalam keadaan renta, miskin dan buta.

Thursday, August 5, 2010

Rachman Kili-kili, the Little Tyson

Rachman Kili-kili Taliak, petinju kelahiran Bitung, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974. Disebut-sebut sebagai petinju dengan bakat terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, dan kandidat kuat sebagai calon juara dunia pada masanya. Namun sayang, karirnya rusak karena narkoba. Keluar masuk penjara karena berbagai kasus narkoba dan penganiayaan, membuatnya dijuluki sebagai "Little Tyson". Petinju berdarah Manado dan Palembang ini ditemukan tewas bunuh diri di rumah pamannya di Palembang, 22 Februari 2007. Tidak terlalu jelas apa alasannya mengakhiri hidupnya, namun diperkirakan depresi akibat pengaruh narkoba.

Foto: anonymous

Tuesday, April 27, 2010

30 Tahun lalu: Mike Weaver Kandaskan John Tate

31 Maret 1980 adalah waktu yang tak terlupakan bagi saya dalam menggandrungi olahraga tinju. Itulah saat pertama kali saya, waktu itu saya belum genap 10 tahun, mengikuti dari awal sampai akhir suatu siaran langsung tinju (waktu itu hanya ada TVRI). Pertandingan yang disiarkan adalah John Tate vs. Mike Weaver. Memang, beberapa kali ayah sudah mengajak saya menyaksikan beberapa rekaman pertandingan Muhammad Ali, termasuk melawan Foreman dan Joe Frazier, namun semuanya hanya rekaman. Kala itu beberapa kali rekaman pertandingan Ali diputar di layar raksasa di alun-alun kota Magelang. Tapi untuk nonton siaran langsung, ya baru pertama kali itu.

Ayah dengan penuh antusias menjelaskan bahwa John Tate adalah calon pengganti Muhammad Ali. Dia adalah peraih medali perunggu kelas berat Olimpiade Montreal 1976, kalah di semifinal dari Theofilo Stevenson (Kuba). Nama John Tate muncul ke permukaan tinju pro dunia setelah unggul atas the White Hope Gerry Coetzee dalam kejuaraan WBA kelas berat. Ayah berhasil meyakinkan saya bahwa Tate akan mampu menghajar Weaver.

Analisis ayah hampir akurat, sepanjang 14 ronde Tate menguasai penuh jalannya pertandingan, yang menurut saya membosankan (pendapat saya ini ternyata benar. Setelah saya dewasa, saya banyak membaca artikel-artikel bahwa 14 ronde awal pertandingan ini memang menjemukan). Daya tarik pertandingan ini adalah pada ronde terakhir, ronde 15. Tate yang seharusnya bisa menang mudah, namun harus terjengkang kena hook kanan di rahang, 45 detik jelang berakhirnya pertandingan. Tate ambruk dengan wajah menghadap ke kanvas.

Sampai kini, pertandingan membosankan itu justru dianggap sebagai partai klasik, dan masih sering dikutip oleh para pecandu tinju, jika ada pertandingan yang agak menjemukan dan salah seorang petinju yang sudah unggul angka pada sebagian besar ronde dengan mutlak, namun ternyata malah 'kecurian' KO pada detik-detik jelang usai ronde terakhir, maka pertandingan tersebut sering disebut sebagai partai ala Tate vs. Weaver. Usai kekalahan KO itu, ayah saya menggebrak meja karena terkejut dengan peristiwa dramatis tersebut, saya hanya bisa ikut terkejut, tanpa tahu maknanya, selain saya hanya tahu bahwa Tate kalah KO.

Big John Tate, petinju berpostur tinggi besar, selain memiliki tinggi badan 193 cm. juga memiliki boxing skill yang sangat baik. Dia memang sangat meyakinkan untuk tampil sebagai penerus Muhammad Ali. Namun takdir berkata lain. Setelah kekalahan tersebut, Tate kembali dipukul KO oleh Trevor Berbick, dan selanjutnya dia hanya tampil dalam partai-partai kecil, dan gagal merengkuh kesempatan meraih kembali sabuk kelas beratnya.

Kematian John Tate
Tak kalah dengan karirnya yang gelap, nyawa petinju kelahiran Marion, Arkansas, 29 Januari 1955 inipun berakhir tragis. Tate mati muda dalam usia 43 tahun, akibat tumor otak. Saat mengendarai mobil, stroke akibat tumor itu menyerangnya, dan mobilnya terjebur ke dalam sebuah kolam. Pihak medis menyatakan bahwa Tate juga mengkonsumsi kokain selama 24 jam sebelum kematiannya tersebut.

Sebelum kekalahan Tate dari Weaver, Muhammad Ali sempat diberitakan akan kembali ke ring untuk meladeni kehebatan petinju muda berbakat ini. Namun karena kekalahan itu, Ali harus merevisi jadwalnya, dan dia 'turun gunung' melawan mantan sparring partner nya, yakni juara dari versi WBC, Larry Holmes, 2 Oktober 1980.

(dari berbagai sumber)

Tuesday, April 20, 2010

Adios, Valero!

Juara WBC kelas ringan asal Venezuela, Edwin Valero, mengikuti jejak jawara kelas berat Rocky Marciano dan juara kelas bulu WBC Salvador Sanchez yang menggenggam sabuk juara dunianya hingga ke alam baka. Jika Marciano tewas karena kecelakaan pesawat terbang dan Sanchez meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas pada saat mereka masih menggengam sabuk juaranya, Valero memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri. Kemenangan beruntun Valero sebanyak 27 kali, semuanya dengan KO tanpa kalah dan seri, menambah mengkilapnya prestasi petinju berusia 28 tahun ini.

Mulai berlatih tinju saat berusia 12 tahun, Valero mengawali karir tinjunya di amatir dengan rekor 86-6 dengan 45 kemenangan KO, dan memenangi kejuaraan nasional Venezuela sebanyak tiga kali berturut-turut. pada tahun 2001, saat akan menapak ke jenjang profesional, dia mengalami kecelakaan bermotor, yang mengakibatkan retaknya tulang tengkorak dan pembekuan darah di otak. Namun, untunglah nyawa Valero masih bisa terselamatkan, walaupun karir tinjunya nyaris 'habis'. Setelah sembuh dan dokter menyatakan dia boleh bertinju lagi, pada 17 Januari 2002, Valero langsung terjun ke tinju pro dengan kemenangan KO ronde 1. Rekornya terus berkembang mencengangkan dengan kemenangan KO 11 kali berturut-turut, dan semuanya kemenangan KO di ronde 1. Sempat berprestasi di Jepang di bawah naungan bagawan tinju Jepang, Mr. Honda, Valero kemudian memutuskan untuk berprestasi di luar Jepang. Namun sayang, upayanya memperoleh ijin bertanding di AS terganjal urusan kesehatan karena cedera kepalanya yang pernah dideritanya di masa lalu, walupun akhirnya negara bagian Texas memberikan ijin.

Prestasi dunia Valero adalah juara kelas super bulu WBC, dan selanjutnya dia hijrah menjuarai kelas ringan WBC di negara kelahirannya, Venezuela.

Bulan Maret 2010 adalah awal bencana bagi Valero. Istrinya, Jennifer Carolina Viera de Valero, 24, masuk ke rumahsakit dengan mengalami patah tulang iga hingga menusuk paru-parunya. Tim pengacara Valero menyatakan bahwa nyonya Valero terjatuh dari tangga saat berada di atap rumah. Tidak berapa lama kemudian, Valero harus menjalani rehabilitasi di sebuah klinik di Venezuela karena kecanduan alkohol dan tidak bisa mengendalikan rasa amarah. 18 April, sang istri ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kota Valencia dengan beberapa luka tusukan di sekujur tubuhnya. Valero diketahui meninggalkan kamar hotel sebelum subuh dan sempat mengaku kepada satpam hotel bahwa dia telah membunuh istrinya. Sebelum kejadian ini, Valero juga dituding memukuli seorang wanita tanpa alasan jelas, yang mengakibatkan dia diharuskan dirawat untuk pengelolaan rasa amarah (anger management).

Tidak lama setelah mayat istrinya ditemukan, Valero segera ditangkap pihak yang berwajib. Belum begitu jelas urusannya, Valero memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan pakaiannya sendiri di dalam sel tahanan.

Selain mengikuti jejak alm. Marciano dan Sanchez di atas, Valero juga kini menambah panjang daftar para petinju yang harus memutuskan bunuh diri dengan berbagai alasan dan cara seperti Arturo Gatti, Alexis Arguello, Chasimeros, Rachman Kili-kili, dll. (dua petinju terakhir adalah petinju Indonesia yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri).

Adios, Amigo!

Tuesday, March 2, 2010

Angelo Dundee, Pelatih Terbesar Sepanjang Masa

Tidak ada pelatih tinju yang secemerlang dan memiliki hubungan ayah-anak dengan anak didiknya sehebat pelatih ini. Tidak Emmanuel Steward, tidak juga Freddie Roach, melainkan Angelo Dundee yang kini berusia hampir 90 tahun.

Angelo Dundee, terlahir sebagai Angelo Merena, kelahiran 30 Agustus 1921, sudah menangani banyak juara dunia, tentunya yang paling terkenal adalah Muhammad Ali, selain pernah melatih Sugar Ray Leonard, Jose Napoles, George Foreman, Jimmy Ellis, Carmen Bassilio dan Luis Rodriguez.

Pelatih dengan penampilan kebapakan ini sudah melatih Ali di tahun 1960, sebelum Ali merebut gelar juara dunia kelas berat dari Sonny Liston pada tahun 1964. Begitu hormatnya Muhammad Ali pada Dundee, pada saat dia masuk kelompok Nation of Islam, Ali sama sekali tidak mau berhubungan dengan kaum kulit putih, yang dianggapnya sudah berlaku tiak adil kepada kaum kulit hitam, kecuali dengan Angelo Dundee. Dia berkeras tidak mau memutuskan hubungan dengan Angelo Dundee yang berkulit putih. Dundee menjawab hormat Ali dengan terus berada di sisi Ali hingga pertandingan melawan Larry Holmes di tahun 1980.

Di pertandingan terakhir di karir Ali (lawan Trevor Berbick, 1981), Dundee sudah berupaya keras untuk membujuk Ali yang sudah ditengarai mengalami kerusakan jaringan saraf agar membatalkan pertandingan yang sangat beresiko itu. Namun Ali berkeras, dan tetap tampil dalam partai yang bertajuk "The Last Hurrah" di kepulauan Bahama tersebut. Dundee yang untuk keduakalinya tidak tampil sebagai sekondan di kubu Ali, sengaja terbang dari Miami ke Bahama, khusus untuk mendampingi Ali dan menjadi penonton di sisi ring. Di tahun 1971, atas persetujuan Ali, dia berada di sudut Jimmy Ellis, yang menjadi lawan Ali.

Ada dua kasus kontroversial yang menonjol saat Dundee menangani Ali. Pertama adalah saat Ali (waktu itu masih Cassius Clay, Jr.), melawan Henry Cooper di Stadion Wembley, London (1963). Ali terkena knockdown hebat di ronde 4. Banyak saksi yang berbicara bahwa di saat jeda menjelang ronde 5, Dundee merobek sarung tinju Clay agar Clay mendapat 'napas' setelah ronde neraka itu. Clay akhirnya berhasil menang TKO ronde 5. Namun video dan keterangan resmi Dundee tidak membuktikan kontroversi tersebut, walaupun rumor misteri sarung tinju robek tersebut masih bergema hingga sekarang.

Kasus kontroversial kedua adalah saat Ali melawan Foreman di Kinshasha, 1974. Kubu Foreman protes keras karena menganggap Dundee sengaja membuat tali ring kendur, sehingga Ali bisa leluasa menjalankan taktik rope and dope yang digunakan Ali saat mempecundangi Foreman di ronde 8.

Hingga kini, Angelo Dundee masih dihormati oleh kalangan tinju. Dia masih sering dimintai menjadi penasehat teknis ataupun sekedar analisis atau ramalan bertinju. Terakhir dia berkolaborasi dengan Ignachio Beristain menangani Oscar de la Hoya saat melawan Manny Pacquiao.

Long live, Opa Angelo!

Wednesday, February 17, 2010

Guerrero Tanggalkan Gelar Bulu Super IBF

Robert Guerrero akhirnya memutuskan untuk menanggalkan sabuk kelas bulu super IBF miliknya yang kini lowong supaya lebih bisa berkonsentrasi penuh untuk mendampingi istrinya Casey yang menderita leukemia sejak 2007. Seperti di berita sebelumnya (Pertarungan Terberat Robert "The Ghost" Guerrero ), Guerrero mengundurkan diri tampil mempertahankan gelar 27 Maret mendatang lawan Michael Katsidis, karena berkonsentrasi dengan penyembuhan istrinya.

Casey saat ini sedang menjalani transplantasi sumsum tulang belakang dan serangkaian kemoterapi. Dalam dua hingga tiga minggu ke depan akan dipastikan apakah serangkaian pengobatan yang dijalani Casey akan berhasil atau tidak.

"Ini adalah hasil kerja keras tim kami semua, sehingga saya mampu meraih gelar juara ini. menjadi juara dunia adalah impian semua petinju di sleuruh dunia. Namun saat ini saya sedang berkonsentrasi mendampingi istri yang tercinta Casey guna melawan musuh terbesar yang pernah kami hadapi, yakni kanker. Apapun hasilnya nanti, saya percaya Yesus Kristus akan senantiasa mendampingi kami. Terimakasih atas doa dan dukungan kalian semua. Tuhan memberkati kalian," kata Guerrero dalam jumpa persnya kemarin.

"Kami semua mencurahkan semua pikiran dan doa untuk keluarga Guerrero dalam situasi sulit ini," ujar oscar de la Hoya, Big Boss Golden Boy Promotions yang mewadahi kiprah Guerrero. "Kami menghormati keputusannya untuk menanggalkan gelarnya, dan dengan segenap kekuatan kami, kami akan mengupayakan Guerrero meraih kembali gelar juaranya begitu dia siap tampil kembali di atas ring."

Sumber: Team Guerrero Press Release

Wednesday, February 10, 2010

Pertarungan Terberat Robert "The Ghost" Guerrero

Robert Guerrero, petinju tangguh yang pernah dihadapi Daud Yordan dengan hasil No Contest, kini berstatus juara dunia 3 kali, dan saat ini menyandang gelar juara IBF kelas bulu super. Petinju dengan rekor 25-1-1, 17 KO ini kini tengah berjuang dalam pertarungan sesungguhnya, pertarungan yang lebih penting daripada sekedar baku hantam di atas ring. Istri tercintanya, Casey, yang divonis menderita leukemia beberapa tahun lalu, harus menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang untuk mempertahankan hidupnya.
"Saat ini saya sedang menghadapi pertarungan terberat dalam hidup saya karena penyakit leukemia yang diidap Casey," kata Guerrero. "Beruntung, kami telah menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk istri saya, namun masih ada beberapa komplikasi yang membuat situasi menjadi sulit. Saya mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat tinju bagi Casey. Saya sendiri yakin Yesus Kristus juga akan menolong kami."

Sebetulnya Guerrero dijadwalkan bertanding melawan Michael Katsidis 27 Maret mendatang. Namun karena kondisi istrinya, dia harus mendampinginya, dan menunda pertarungan besar melawan Katsidis. "Saya berterimakasih kepada promotor Golden Boy Promotions atas pengertiannya terhadap situasi yang saya hadapi. Secara fisik saya siap menhadapi Katsidis, namun secara mental saya tidak 100% siap, dan menghadapi seorang ksatria seperti Katsidis, saya harus siap 100% baik secara fisik maupun mental," terang Guerrero.

Sumber: Team Guerrero

Tuesday, February 2, 2010

Hot Boxing: Hyun Min Choi

oleh Tokyo Tanaka

Jika anda bertemu gadis ini berjalan sendiri di malam gelap, jangan coba-coba menggoda apalagi mengganggunya. Gadis berusia 19 tahun ini adalah seorang juara dunia tinju, persisnya dia adalah juara WBA Female kelas bulu, yang direngkuhnya sejak tahun 2008.

Hyun-min Choi, nama gadis manis ini, kelahiran Pyeongyang, Korea Utara, kini sudah warga negara Korea Selatan dan berdomisili di Seoul, memiliki rekor tanding yang terdaftar di boxrec.com 3-0-1, 1 KO.

Ah..., sayang sekali wajah manis itu jika harus bengep-bengep terkena pukulan lawan. Dengan wajah semanis itu, tak sulit kiranya Choi untuk merambah dunia model yang tentunya lebih aman buat wajahnya. Namun hobinya kepada olahraga sekeras tinju jualah yang membuatnya tetap bertahan di olahraga tinju.

Ayo, siapa bersedia sparring melawan Choi? Mau clinch terus juga boleh... kalau Maria Ozawa saja sih lewat...


Friday, October 16, 2009

Hidup Bagaikan Roda Pedati

Judul di atas merupakan sebuah petuah kuno yang mengingatkan kita, bahwa nasib seseorang bisa saja mendadak atau secara perlahan berubah. Yang posisinya tadinya di atas, bisa jadi di bawah, jadi saat kita berada di atas, hendaknya kita senantiasa menghargai orang yang berada di bawah.

Pepatah tersebut berlaku pada kisah petinju Inggris awal tahun 1900'an, Sid Burn dan Ted "Kid" Lewis. Saat itu Burn merupakan petinju Inggris yang terkenal dan banyak penggemarnya, tentu saja hidup mewah dan bergelimang harta. Untuk latihannya, dia mengupah Ted "Kid" Lewis sebagai lawan sparring partnernya. Dalam latihan itu, Burn memperlakukan Lewis begitu buruk, penuh hinaan, caci maki dan tamparan jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Tahun demi tahun berlalu, Lewis tumbuh menjadi petinju hebat, bahkan mampu menjadi juara dunia kelas welter pada masa itu. Sedang Burn yang prestasinya sudah memudar, jatuh bangkrut. Lewis yang ingat masa lalunya yang pahit saat bersama Burn, mengajak Burn berlatih bersamanya, dan dia memberlakukan Sid Burn sama buruknya pada saat Burn memberlakukan dia di masa lalu.

Tentunya kita bersama-sama bisa memetik moral dari kisah nyata ini.

Sumber: My boxing trvia collection
--------
Ted "Kid" Lewis, (1893-1970), kelahiran London, berkarier tinju profesional selama 20 tahun (1909-1929), dengan rekor 235 pertandingan, 193-15-11, 80 KO. Sekitar tahun 1914-1918, Lewis berhasil merengkuh juara dunia kelas welter. Pertandingannya yang paling dikenal adalah saat melawan Jack Britton (AS) hinga 20 kali pertandingan. (boxrec)

Wednesday, August 5, 2009

Bagaimana Rupa Tyson Sekarang?

Penasaran dengan bagaimana penampilan Mike Tyson yang pernah begitu ditakuti? Klik laman ini

Tyson tampil bersama istri barunya, Lakiha Spicer, 15 Juli lalu di Nokia Theater, LA, dalam acara ESPY Awards. Si manusia baja itu tampak tua dan beruban di cambangnya, serta kerut wajah yang dalam. Bandingkan dengan Evander Holyfield, mantan seterunya yang berusia lebih tua, namun tampil leih fit, lebih langsing dan lebih segar. Kedua seteru ini sempat berpose bersama dalam suasana penuh persahabatan.

Tuesday, August 4, 2009

Kongres AS Setujui Pengampunan Bagi Jack Johnson

Jack Johnson (1878-1946) adalah juara dunia tinju berkulit hitam pertama, anak dari keluarga budak di Texas. Dalam catatan rekornya, dia mulai bertarung secara resmi tahun 1897 pada usia 19 tahun, meski banyak catatan lain yang menyebutkan dia telah bertarung sebagai petinju bayaran ilegal lama sebelumnya.

Pada masa itu, ras dan warna kulit masih begitu kental mewarnai keadaan politik di AS. Johnson yang berkulit hitam sulit mendapat tempat dalam olahraga yang pada waktu itu banyak digeluti oleh kaum kulit putih. Untuk itu, diciptakan gelar khusus, yakni "Juara Dunia kelas berat untuk Kaum Kulit Berwarna" (World Colored Heavyweight Title) yang dia rengkuh pada tahun 1903 dengan kemenangan angka 20 ronde atas Denver Ed Martin.

Jack Johnson akhirnya merengkuh glar sebagai juara dunia kelas berat sejati setelah menundukkan juara dunia Tommy Burns dengan angka ronde 14 di Sydney, Australia, 26 Desember 1908. Dia juga menjadi pionir sebagai juara dunia tinjui pertama yang berkulit hitam. Gelar Johnson terlepas darinya pada tahun 1915, setelah dipukul KO oleh Jess Willard pada ronde 26 dari rencana 45 ronde di Havana, Kuba. Setahun setelah pertandingan ini, Johnson mengaku mengalah setelah mendapat tawaran sejumlah uang.

Sebelumnya, pada tahun 1913, Johnson divonis bersalah oleh pengadilan, karena dia sudah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita kulit putih. Tidak menerima keputusan kontroversal tersebut, Johnson kabur dari Amerika, dan mengadakan pertarungan mempertahankan gelarnya beberapa kali di luar negeri.

Johnson akhirnya mau kembali ke pangkuan Paman Sam dengan menjalani hukuman penjara 10 bulan. Adalah Jack Curley, manajer Jess Willard, yang memberikan 'janji surga' kepada Johnson. Dia mengatakan kepada Johnson bahwa dia memiliki koneksi bagus dengan pemerintah AS, sehingga dia bisa membuat Johnson terhindar dari hukuman penjara di AS, asal dia mau bertarung melawan Jess Willard. Omongan Curley ternyata terbukti bualan saja, karena toh Johnson tetap dipenjara setibanya kembali di tanah airnya, AS. Ada dugaan, namun tidak ada pembuktian ataupun pengakuan resmi dari manapun, kalahnya Johnson dari Willard adalah bagian dari janji-janji surga Jack Curley, selain uang suap yang diakui Johnson belakangan. Saat di dalam masa tahanan, dalam catatan boxrec, ada beberapa pertandingan Johnson yang dilakukan di dalam penjara di negara bagian Kansas.

Sekeluar dari penjara, Johnson mencoba mengukir karir tinjunya lagi, namun gagal menjadi juara dunia kembali, sampai akhirnya pensiun di tahun 1938. Johnson meninggal pada usia 68 tahun akibat kecelakaan lalu lintas.

Atas peristiwa hukum berbau rasial di tahun 1913 itu, baru-baru ini, Kongres AS baru saja menyetujui resolusi untuk memberikan pengampunan atas vonis di tahun 1913 tesebut. Uniknya, resolusi ini pertama kali disponsori oleh eks lawan Barack Obama, Presiden AS kulit hitam pertama kali, Senator John McCain, dari Partai Republik.

"Saya bahagia bahwa Kongres AS telah menyetujui dikeluarkannya resolusi ini terhadap Jack Johnson, petinju kelas berat terbaik pada masanya, sehingga dia pantas mendapatkan pengampunan atas keputusan bersalah yang diterimanya pada tahun 1913," kata Senator McCain dalam sambutannya.

Upaya pengampunan Johnson juga tak terlupakan merupakan usaha Ken Burns, yang membuat film dokumenter mengenai ohnson berjudul "Unforgivable Blackness: The Rise and Fall of Jack Johnson" pada tahun 2005.

Sumber: Washington Post
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.