Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman
Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

Wednesday, January 16, 2013

Kilas Balik 2012 dan Harapan Tahun 2013

Kilas Balik 2012


Tahun 2012 memberikan kita kenang-kenangan dengan terjadinya beberapa pertandingan yang menarik. Nonito Donaire masih terlalu perkasa di kelas bulu yunior dengan penampilan 4 kali di sepanjang tahun ini, dan terakhir dia berhasil menghajar veteran Meksiko, Jorge Arce dengan KO pada ronde 3 menjelang Natal tahun lalu.

Yang tidak kita lupakan adalah kemenangan KO “:bersejarah” Juan Manuel Marquez atas Manny Pacquiao di awal Desember. Pacquiao tumbang dengan posisi tertelungkup, bahkan pingsan selama beberapa menit dan mengharuskannya menjalani test MRI di rumahsakit. Untunglah, tidak ada masalah serius yang dialami Pacquiao.

Berikut adalah Floyd Mayweather Jr. Petinju ini hanya tampil sekali di tahun 2012, dengan kemenangan angka atas Miguel Cotto. Miguel Cotto sendiri kalah lagi atas petinju yang sedang naik daun, Austin Trout. Tahun 2012 tampakntya tidak berpihak kepada Cotto yang sangat cemerlang pada tahun 2011 dengan dua kemenangan sensasional atas Margarito dan Mayorga.

Yang perlu dicermati berikut di tahun 2012 adalah JC Chavez Jr. yang harus menelan pil pahit dikalahkan oleh Sergio Martinez yang sempat terpukul knockdown oleh Junior. Amir Khan juga perlu diperhatikan, melakukan debut kemenangan dengan pelatih barunya. Chris John dan Daud Yordan juga perlu disebut dengan sukses tampil di Singapura pada tahun ini.

Harapan Tahun 2013

Untunglah kiamat ramalan suku Maya tidak terjadi, jadi kita masih bisa melihat pertandingan-pertandingan menarik di tahun 2013.

Beberapa pertandingan yang bisa kita harapkan terjadi pada tahun 2013 ini:

1. Rematch Marquez vs. Pacquiao V tampaknya menjadi isu paling menarik saat ini.

2. Rematch Martinez vs JC Chavez Jr. akan menjadi pilihan runner-up rematch paling menarik di tahun 2013

3. Mayweather akan bertarung melawan Robert Guererro tahun ini, tapi bolehlah kita harapkan Mayweather sudi bertarung melawan Saul Alvarez atau Austin Trout. Ide Mayweathet vs Pacquiao tampaknya harus dikesampingkan dulu, menyusul kekalahan Pacquiao.

4. Bagaimana dengan Nonito Donaire? Tampaknya dia sudah tak terbendung di kelas bulu yunior alias bantam super, dan harus segera naik ke kelas bulu. Banyak pilihan lawan di kelas bulu ini: Orlando Salido, Daniel Ponce de Leon, Juan Manuel Lopez, Javier Fortuna, Chris John, Daud Yordan, dan masih banyak lagi.

5. Amir Khan yang bercokol di kelas welter yunior tampaknya menarik jika dihadapkan dengan Brandon Rios.

6. bagaimana dengan Chris John dan Daud Yordan? Dengan keberhasilan di tahun 2012, tampaknya Singapura masih jadi comfort zone mereka. Unifikasi melawan juara IBF Billy Dib adalah pilihan lawan paling menarik bagi Chris John menurut saya, walau saya tahu tidak akan mudah negosiasinya. Sedang Daud, dari suara-suara komentator di boxing-indonesia ini, nama petinju Fipina, Jun “Hercules” Deliquez mengemuka sebagai calon lawan berikut Cino. Banyak yang menyarankan agar DY bisa menghadapi petinju Filipina yang cukup berkualitas seperti Rey Bautista atau Bernabe Conception.

7. Dari Jepang, Takashi Uchiyama digadang-gadang melawan Yuriorkis Gamboa. Ini pasti sangat menarik untuk disimak, dan kalau pertandingan ini jadi berlangsung, semoga ada televisi swasta yang mau menyiarkan langsung pertarungan keras ini. Petinju bertipe counter fighter Kazuto Ioka juga patut mendapat perhatian. Sukses merebut gelar kelas terbang mini WBA dari tangan Akira Yaegashi, Ioka langsung naik kelas dan mengalahkan Jose Rodriguez untuk merebut gelar WBA kelas terbang yunior.

Begitulah sekilas harapan pertandingan – pertandingan menarik di tahun 2013 ini. Tentu ini masih jauh dari lengkap, karena sama sekali belum menyinggung pertandingan-pertandingan di kelas atas, termasuk kelas berat, dimana Amerika Serikat mulai kembali menggeliat dengan hadirnya Deontay Wilder (26-0, 26 KO), Joa Hanks, Bryan Jennings dan Seth Mitchell yang disebut-sebut sebagai Top 4 American Heavyweight Boxers 30 and Under oleh Yahoosports. Bagaimana dengan Anda?


Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Thursday, June 28, 2012

Ada Gula, Ada Semut

Dalam kehidupan modern ini, hampir semua didasarkan pada popularitas bukan pada prestasi atau kualitas. Dari pemilihan pemimpin sampai pemilihan olahragawan idola, hampir semua didasarkan pada popularitas. Tidak heran, dalam lomba menyanyi "idol-idolan", sering pemenang bukanlah yang terbaik, melainkan yang paling populer. Ada terkadang yang menang memang peserta dengan kualitas terbaik, namun dalam karier sesungguhnya mereka justru tenggelam dan sama sekali tidak populer. Demikian juga dalam film. Film peraih piala Oscar atau piala Citra, belum pasti diminati penonton. Jika beruntung, pemimpin politik yang populer dan terpilih memang pemimpin berkualitas. Jika yang terpilih adalah peimpin yang populer namun tidak berkualitas, yah itulah resikonya alam demokrasi bebas ini.


Demikian pula dalam bidang olahraga. Olahraga terpopuler belumlah tentu olahraga yang sudah berjasa melahirkan juara dunia. Seperti di negara kita, juara dunia tinju, bulutangkis, karate, tae kwondo, angkat berat dll, pasti akan kalah populer dibanding pemain sepakbola kita yang juara tingkat Asean saja tidak. Fenomena ini sebetulnya tidak hanya di negara kita. Kita lihat Piala Eropa 2012 yang tengah berlangsung di Polandia dan Ukraina, yang kalau disamakan dengan tinju profesional, "paling-paling" setingkat kejuaraan PABA, OPBF atau kejuaraan Eropa. namun lihat saja, gaung mereka jauh melebihi kejuaraan tinju dunia kelas berat yang melibatkan petinju terbesar asal Ukraina, Klitskscho bersaudara. Bahkan, meskipun sudah menjadi legenda hidup tinju di negeri asalnya, Klitskchko bersaudara, nyaris tidak pernah (bahkan tidak pernah) bertanding di tanah kelahiran mereka di Ukraina, yang tahun lalu menjadi tempat diadakannya konvensi WBA. Apakah mereka tidak memiliki dana untuk mengadakan pertandingan tinju bagi pahlawan nasional mereka? Pembiayaan pertandingan tinju tentulah tidak sebesar pembiayaan sebuah turnamen sekelas Piala Eropa. OK, lupakan itu. Tentulah semua itu ada perhitungan bisnisnya.

Hal yang mirip juga terjadi di negeri kita. Jadi tidak usah iri, jika di setiap sore kita disuguhi pertandingan liga lokal (yang terpecah menjadi 2 liga itu). Oh ya, Sampai titik ini saya masih bisa memahami, mengapa di sepakbola terjadi dualisme kompetisi. Karena ada pepatah tua, "Ada gula ada semut". Yang tidak saya pahami, tinju Indonesia itu demikian miskin, tetapi kenapa ada 4 badan tinju yang memutar kompetisi tinju profesional secara nasional? (malah saya dengar sebuah rumor, bakal ada badan tinju ke-5 lahir. Sekali lagi sekedar rumor). Wah ini pepatahnya seharusnya berbunyi: "Ada banyak semutnya, di mana sebetulnya gulanya?"

Ah, tulisan saya kok malah merambah kemana-mana, lepas dari topik inti tulisan saya: Jangan iri dengan sepakbola yang secara faktual lebih diidolai daripada olahraga sepakbola di negara kita. Kita ini sekarang hidup di jaman idol. Yang penting populer dulu. Mari kita buktikan, tinju bisa sukses secara mandiri. Mari kita bekerjasama. Jika ada promotor, pemilik sasana, pelatih, petinju, wasit, hakim, tokoh badan tinju nasional, penonton, atau sekedar blogger semacam saya, mari kita berjuang bersama-sama memajukan tinju Indonesia secara mandiri.

Kalau di tinju, juara dunia sekelas Chris John dan Daud Yordan masih belum cukup kualitas untuk diidolai. Tuan-tuan tak berbentuk itu hanya bisa berkata, "Chris John dan Daud Yordan bukan Pacquiao. Sulit dijual di sini...". Kelak jika ada juara dunia tinju di 10 kelas berbeda yang lahir di Indonesia, tuan-tuan tersebut akan berpekik "Dia juara besar, kami tak sanggup mengucurkan dana menggelar pertandingannya di sini..."

Maaf jika tulisan ini tidak jelas juntrungannya.


Hidup Idol! Ada gula, ada Idol!

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Sunday, February 5, 2012

Antara Donaire Jr. dan JC Chavez Jr.

Terlalu jauh membandingkan Nonito Donaire Jr. dan JC Chavez Jr. Sama-sama berlabel “junior”, yang satu adalah juara kelas bantam super WBO, dan yang satu adalah juara kelas menengah WBC. Yang satu hanyalah anak petinju amatir yang kemudian hijrah ke Amerika, sedang yang satu adalah anak dari petinju legendaris Meksiko dan dunia. Donaire Jr. Donaire Jr. Kini dilatih oleh pelatih hebat Robert “Grandpa” Garcia yang sukses menangani puluhan petinju top seperti Fernando Vargas, Miguel Angel Garcia, Antonio Margarito, Mia St. John, dll; sedang Chavez Jr. Kini ditangani oleh Freddie Roach yang menangani Pacquiao, Amir Khan, Oscar de la Hoya dan Virgil Hill.

Namun pada malam 4 Februari (Minggu siang di Jakarta) di Alomodome, San Antonio, Texas, saya melihat aura berbeda dari kedua petinju. Donaire Jr. Tampil begitu cepat dengan pergerakan sempurna, bahkan memukul knockdown lawannya, Wilfredo Vazquez, Jr. dengan sambaran counter yang sangat cepat. Sungguh saya berpikir Donaire akan bisa menjadi legenda dalam 2-3 tahun mendatang. Bahkan kalau dalam benak saya, skill Donaire masih di atas seniornya, Pacquiao. Sekali lagi ini pendapat saya, silakan didebat. Kemenangan angka split Donaire atas Vazquez (saya tidak mempertanyakan kenapa penilaian hakim Ruben Garcia begitu timpang memenangkan Vazquez, lain dari penilaian halim lain yang memberi nilai kemenangan absolut bagi Donaire, karena saya hanya menyaksikan mulai ronde 6 sesuai tayangan RCTI) membawanya Donaire merengkuh sabuk ketiga di kelas yang berbeda-beda.

Sebaliknya, Chavez Jr. tampil begitu lamban dan monoton. Dia selalu membongkokkan badan dan mendesak lawannya dari jarak dekat sekali. Saya hanya berpikir, apakah pelatih Roach memang menginstruksikan demikian agar dagu Junior terlindung dari sengatan pukulan lawan, ataukah memang ada tekanan dari berbagai pihak agar tampilan Junior sama persis dengan gaya sang bapak yang terus merangsek maju dengan membungkukkan badan sambil melindungi wajahnya dari pukulan lawan. Untung yang dihadapi adalah Marco Antonio Rubio, petinju mediocre belaka. Memang Junior sangat layak menang malam itu dan pantas diganjar kemenangan angka mutlak atas Rubio, namun batin saya berkata bahwa Junior hanya perlu waktu untuk bertemu lawan bagus dan cerdas guna “memetik” kekalahan pertamanya. Chavez tampil begitu monoton dan sangat lamban. Speednya nol besar, hanya mengandalkan power jarak dekat saja.

Apalagi kubu Chavez, termasuk pelatih Roach, terus berkoar untuk segera mempertemukan Junior dengan Sergio Martinez dari Argentina, juara WBC Diamond kelas menengah (malas ah, membahas WBC Diamond ini). Saya sudah mensimulasikan Chavez dan Martinez bertemu di ringdi dalam benak saya. Hasilnya, Martinez berhasil menguasai ring dengan jab-jabnya yang sangat bertenaga dan akurat. Jab-jab tersebut berhasil mengganjal Chavez yang terus merapat dan menunduk. Saat Chavez sudah melemah dan double cover Chavez berusaha memblok jab-jab keras Martinez, perutnya yang defenseless dihajar oleh uppercut-uppercut Martinez yang powerful, disusul kombinasi hook ke dagu Chavez. Habislah putra sang mega bintang ini. What do you think?

Foto: Nonito Donaire dan Erick "Los Lobos" Irawan (2009)

Thursday, April 28, 2011

Pacquiao vs Mosley:

Mosley akan Adopsi Gaya Clottey?

7 Mei 2011, pagelaran akbar kelas welter versi WBO antara Manny Pacquiao vs. Sugar Shane Mosley akan diadakan di MGM Grand, Las Vegas (rencana siaran langsung TVOne pada Minggu pagi, 8 Mei). Banyak yang menjagokan Pacquiao dan meremehkan 'si gaek' Mosley, yang menginjak 40 tahun pada tahun ini.

Semua sudah mahfum akan gaya bertinju Pacquiao yang akan terus meluncurkan pukulan terkuatnya dari segala sudut, yang kerap membuat lawan kewalahan dan akhirnya menyerah. Bagaimana dengan Mosley? Apakah dia akan tetap mengandalkan speed seperti di masa mudanya? Dua pertandingan terakhir di tahun 2o10 tampaknya semakin menguatkan perkiraan analisis bahwa Mosley memang sudah habis. Tahun lalu Mosley memang tampil kurang greget, kalah angka mutlak dari Floyd Mayweather jr. dan seri dengan Sergio Mora.

Ada perkiraan, Mosley mempelajari habis-habisan gaya petinju Ghana Joshua Clottey yang menerapkan strategi bertahan total. Gaya tinju negatif ini sukses diterapkan Clottey jika misinya "asal jangan kalah KO dari Pacquiao". Clottey memang kalah angka mutlak, dan hampir seluruh ronde dimenangi oleh sang Legenda Asia tersebut.

Feeling saya, Mosley akan menyempurnakan strategi bertahan total ala Clottey. Kekurangan gaya Clottey adalah tidak bisa (atau tidak mau?) sekalipun melakukan serangan balik ke arah Pacquiao. Kekurangan ini yang akan dilengkapi oleh Shane Mosley. Mosley akan bertahan rapat dan sesekali melancarkan pukulan balik untuk mencuri angka, namun bukan mengejar kemenangan KO. Namun perlu diingat, serangan balik ini juga mengundang resiko besar, karena saat melancarkan pukulan, berarti Mosley membuka celah bagi pukulan Pacquiao untuk mendarat.

Saya tidak melihat alternatif lain bagi petinju seusia Mosley untuk mencuri angka dari Pacquiao kecuali bertahan total ala Clottey dan sesekali melakukan pukulan balik. Yang pasti 'si gaek' Mosley bukanlah 'si gaek' Muhammad Rachman yang memiliki pukulan counter dahsyat, dan Pacquiao bukanlah Kwantai Sithmorseng yang begitu mudah takluk oleh serangan balik Rachman. Jadi jangan samakan Mosley vs Pacquiao dengan Rachman vs Kwantai.

Bagaimana menurut Anda?

Monday, April 18, 2011

Apa yang Bisa kita Petik dari Chris John vs Daud Yordan?

Kita semua tahu, Chris John unggul mutlak atas sang yunior, Daud Yordan dalam pertandingan 17 April lalu di Jakarta International Expo. Hampir seluruh ronde Chris John menang, sehingga para hakim memberikan nilai 116-112, 116-112 dan 117-111 untuk Chris John.

Selain "mengajari" sang yunior cara bertinju yang benar, Chris John benar-benar tampil sempurna. Dia tidak sekedar pukul lari, namun dia juga meladeni tantangan Daud untuk bertukar pukulan dalam jarak dekat. Daud yang monoton dalam menyerang maupun bertahan (gerakannya hanya maju dan mundur) bagaikan langit dan bumi dengan Chris John, walaupun dibilang tak memiliki pukulan keras, namun gerakannya sangat sempurna, terus berputar. Saat terjebak dalam adu pukulan dan tidak bisa bergerak lagi, body weaving Chris yang "bermain", sehingga pukulan Daud meleset.

Saya kira masalahnya bukan sekedar Chris John unggul pengalaman atau unggul mental. Chris John, diakui atau tidak, suka atau tidak, memang unggul segala-galanya dari Daud. Daud yang berbakat sangat besar, ternyata hanya mampu tampil sangat monoton sehingga mudah diantisipasi oleh Chris John yang kalau dalam bidang akademis sudah bergelar doktor (PHd) dalam bidang tinju itu. Jika bakat alam Daud yang dikatakan orang sangat besar itu bisa dipoles, saya kira bukan hanya Chris John akan lewat. Daud sangat berpotensi menjadi petinju legendaris Indonesia.

Ayolah Daud... jalan masih panjang. Mulai dari awal untuk merengkuh gelar.

Untuk foto-foto pertandingan, bisa silakan klik di sini: http://www.fightnews.com/Boxing/john-schools-yordan-81914

Saya sendiri saat ini berada di Bangkok atas undangan teman untuk meliput pertandingan Rachman vs Kwantai dalam perebutan gelar juara WBC kelas minimum, sehingga agak kesulitan memposting foto-foto pertandingan. Sepulang dari Bangkok, saya janji akan memposting beberapa foto Chris John vs Daud Yordan dari sudut yang berbeda.

Monday, October 18, 2010

Maraknya Serbuan Petinju Nasional ke Mancanegara

Oleh Aryo Umbaran Sulkhan

Beberapa dekade terakhir ini, sangat marak pengiriman petinju nasional kita untuk bertanding ke negara tetangga seperti Thailand, Filipina, Jepang, Australia, bahkan hingga sampai Rusia & China dengan bantuan para penata tanding International yang menjembatani para manager dan petinju nasional kepada para promotor dari negara-negara tersebut.

Hal ini cukup membanggakan, namun juga cukup memprihatinkan. Karena seperti yang kita tahu, pengiriman petinju nasional ke negara-negara pengimpor petinju ini seperti serbuan yang tiada habisnya. Bangga karena dengan kondisi tinju nasional saat ini yang bisa dikatakan hidup segan mati tak mau, petinju tetap bisa bertanding dan mendapatkan nafkah untuk diri dan keluarganya, karena tinju profesional memang sebuah profesi, mereka berangkat dari minimnya perekonomian keluarga dan berharap bisa hidup dari tinju.

Memang bila dibandingkan dengan penghasilan mereka bila bertanding di Indonesia, penghasilan mereka bertanding di negara lain cukup jauh lebih baik. Namun bila tidak dibatasi, hal ini akan memicu turunnya harga jual petinju. Semakin banyak pengiriman petinju ke luar negeri dan minimnya ajang pertandingan di Indonesia, tentunya akan berdampak pada nilai kontrak pertarungan yang semakin kecil, karena lama kelamaan para pelatih dan manager mau tidak mau akan mengizinkan petinjunya bertanding di luar negeri, segi prestasi akan di nomor duakan, yang penting petinju mereka bisa bertanding.

Tidak salah memang mengirim petinju nasional ke negara-negara tersebut, namun yang cukup memprihatinkan adalah karena rata-rata petinju yang dikirim untuk bertanding adalah hanya dijadikan batu loncatan bagi jawara-jawara dari negara pengimpor tersebut. Hanya sedikit dan bisa dihitung dengan jari adanya petinju nasional yang benar-benar bertanding ke luar negeri karena berprestasi ataupun karena mandatory fight untuk melakukan kejuaraan dunia.Sudah menjadi rahasia umum bagi para insan tinju nasional bahwa petinju yang dikirim bukan karena baiknya prestasi adalah hanya sebagai penambah rekor KO atau minimal sekedar untuk menambah jam terbang bagi para jawara dari negara lain yang kemungkinan sudah dipersiapkan untuk bersaing di tingkat dunia, bahkan mungkin sudah dipersiapkan untuk merebut atau mempertahankan juara dunia. Petinju nasional yang sanggup bertahan hingga ronde akhir pertandinganpun juga tidak akan dihitung angkanya dengan adil oleh hakim, hingga ada istilah untuk apa susah-susah bertarung di negara lain bila akhirnya tetap saja kalah. Oleh karena itu banyak pula petinju nasional kita yang berangkat bertanding hanya untuk mencari uang, tidak mempedulikan persaingan prestasi dan tidak peduli dengan semakin buruknya rekor mereka.

Manager dan pelatih di Indonesia juga tidak bisa disalahkan, karena minimnya ajang pertandingan yang ada di Indonesia, dengan sangat terpaksa mereka "merelakan" petinju mereka untuk bertanding di luar negeri tanpa didampingi pelatih. Inilah yang menjadi pokok permasalahan, karena petinju dan pelatih adalah ibarat dalang dengan wayang, mereka saling terkait untuk menentukan strategi pertarungan, pelatihlah yang tahu sifat dan gaya setiap petinjunya, maka bila seorang petinju tidak didampingi oleh pelatih, maka petinju tidak akan bisa bertarung dengan maksimal, padahal sebenarnya banyak juga petinju nasional kita yang potensial.

Memang semua saling terkait antara promotor - sponsor - manager - pelatih - petinju - penonton, itu semua adalah satu kesatuan, jadi dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan dan disini bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya marilah kita sebagai insan tinju Indonesia saling introspeksi diri, marilah kita bersama-sama menyatukan visi misi dan saling bekerja untuk meningkatkan kualitas petinju dan kuantitas pertandingan di Indonesia, karena dengan kualitas dan kuantitas baguslah dunia tinju profesional Indonesia bisa menjadi maju dan disegani di tingkat dunia.

Majulah tinju Indonesia!

Tuesday, November 3, 2009

Miguel Cotto Rules!

Pada pertandingan Pacquiao vs. de la Hoya, saya meramalkan tubuh kecil Pacquiao akan mudah dibantai oleh de la Hoya yang pernah bertanding hingga kelas menengah super. Memang ramalan saya salah total, karena de la Hoya mengundurkan diri (K-TKO ronde 8) di MGM Grand, Las Vegas, tahun lalu. Namun saya tetap berpikiran bahwa tak seharusnya de la Hoya tumbang, karena pertimbangan bahwa dia harus berjuang menurunkan berat badan sebanyak 6 kg. dari berat tanding yang biasa dia lakoni (kelas menengah), bahkan mungkin bisa jadi berjuang 10-15 kg. dari berat sehari-harinya. Oscar tampil lemas, lesu, sedang Pacquiao yang mendapat asupan gizi lebih banyak karena harus menaikkan bobot, tampil trengginas dan fantastis. Seusai pertandingan, saya baca pada saat pertandingan de la Hoya pun menderita sakit, namun dia memaksakan diri turun ke ring. Bahkan menurut kabar, de la Hoya mendapat teguran dari Nevada States Athletic Commission karena memaksakan diri turun ke ring dalam kondisi sakit. Mungkin akibat tugas ganda sebagai petinju dan promotor sekaligus, membuat de la Hoya tak mau menderita kerugian secara material.

Berangkat dari itulah, saya mengenyampingkan hasil Pacquiao vs. de la Hoya sebagai referensi dalam pertarungan perebutan gelar kelas welter WBO Pacquiao vs. Cotto, juga di MGM Grand, Las Vegas, 14 November. Sebagai juara bertahan, Cotto kali ini akan turun di kelas aslinya, yakni kelas welter. Jelas ini suatu keuntungan besar bagi dia.

Sebaliknya, referensi bagus untuk Pacquiao adalah saat dia me-knockout Ricky Hatton guna merebut sabuk IBO kelas welter ringan, juga di MGM Grand, Mei tahun ini. Namun itupun bukan jaminan 100%, karena kekalahan Hatton lebih dikarenakan akibat kebebalan dirinya sendiri yang bertanding bagai petinju buta, mengandalkan pukulan keras serta kurang menggunakan akalnya, sehingga Pacquiao bisa mengakhiri pertandingan besar itu dengan relatif mudah. Jika dibandingkan Hatton, saya berani memastikan Cotto akan tampil jauh lebih cerdik saat melawan Pacquiao.

Cotto, seperti halnya Pacquiao adalah seorang fighter sejati. Saya cenderung menyamakan Cotto vs. Zab Judah. Pacquiao memang jauh lebih cerdik daripada Judah, dan dia tidak akan gegabah mengajak Cotto beradu pukulan. Namun dalam beberapa adegan, Pacquiao akan keluar aslinya, dan sesekali akan berani barter pukulan lawan Cotto. nah, pada saat Pacquiao keluar aslinya inilah, Cotto boleh berharap mampu mencuri kemenangan KO.

Kita tunggu bersama-sama. Atau kalau Anda punya pendapat lain, silakan tumpahkan di komentar berikut.

Tuesday, September 8, 2009

I Have a Dream

Bukan... saya bukan mau meniru Marthin Luther King, tokoh kulit hitam AS yang memperjuangkan kesetaraan derajad manusia di AS yang terkenal dengan jargon "I have a dream" nya itu, tapi saya memang betul-betul bermimpi. Mimpi saya adalah kesetaraan derajad pertinjuan Indonesia di mata negara-negara Asia, khususnya Asia Tenggara, lebih khusus lagi mimpi saya mengenai kesetaraan pertinjuan Indonesia dengan Filipina...

Mimpi itu dipicu oleh sms sahabat saya, Temuzin Rambing, yang mengabarkan kini Filipina punya jago baru, masih belia, 19 tahun: Marvin Sonsona. Saya buru-buru cek ke Fightnews.com, Sonsona berhasil unggul angka mutlak atas juara bertahan Jose Lopez di Puerto Rico, dan merebut gelar WBO kelas bantam yunior, Jumat (4/9). Raja KO muda ini buat Filipina tentunya bukan hal yang baru, karena juara dunia pertama kali yang mereka miliki, Pancho Villa, juga merebut gelarnya di negara Paman Sam pada tahun 1930'an. Dan entah sudah berapa puluh juara dunia yang merebut gelar di luar negeri, termasuk sang dewa tinju, Manny Pacquiao dan Nonito Donaire, juara dunia kelas terbang WBA, yang juga laris manis dijual di AS.

Entahlah, apa yang beda antara kita dengan Filipina dan Thailand, dua negara terbersar di pertinjuan Asia Tenggara. Kita hanya bisa berbangga dengan satu juara dunia, Chris John, dan satu petinju berbakat: Daud Yordan. Bangga hanya sekedar bangga. Begitu mereka bertanding, jangankan nonton berbayar di TV atau langsung ke stadion jika mereka bertanding di Indonesia. Tayangan di TV gratis saja banyak teman saya yang emoh nonton, dan lebih suka tanya ke saya hasilnya melalui SMS atau telpon. Capek juga jempol saya menceritakan kembali hasil pertandingan melalui sms. Mbok ya nonton TV, wong gratis ini... atau paling tidak baca boxing-indonesia (meskipun belakangan jarang update karena kesibukan saya :)

Saya dengar di Filipina, kejahatan di jalan jauh menurun jika Pacquiao sedang bertanding. Mungkin para bandit jalanan di FIlipina itu menggunakan uang hasil kejahatannya untuk membeli tayangan TV yang menayangkan Pacquiao secara pay per view. Atau mereka ikut nonton rame-rame di bar, warkop atau bioskop-bioskop di Manila yang menayangkan pertandingan Pacquiao (dengan menjual tiket, tentunya). Bisakah Indonesia seperti itu?

Monday, July 6, 2009

Dari Ronde ke Ronde

Sasha Bakhtin vs Richard Samosir

Catatan Temuzin Rambing dari Pulau Okinawa, Jepang

Juara OPBF kelas Bantam, Sasha Bakhtin sukses mempertahankan gelarnya setelah wasit Jae Bong Kim (Korea) memutuskan menghentikan perlawanan Richard Samosir pada ronde ke delapan.

Sejak ronde awal Bakhtin tampak unggul kecepatan dan pengalaman atas Samosir. Kecerdikan mengatur ritme permainan dan melakukan clinch ketika terdesak di sudut ring menjadi kunci kemenangan Bakhtin. Kecerdikan melakukan clinch dengan tekanan siku merupakan kepintaran Bakhtin dalam menguras tenaga Samosir.

Walaupun terjatuh 3 kali (2 kali ronde ke-4 dan 1 kali ronde ke-6) tidak menyurutkan langkah Samosir untuk infight di tiap ronde. Pada ronde ke-8 sebuah pukulan lucky blow kembali memaksa Samosir terduduk tapi mampu bangkit kembali. Namun wasit Kim tidak melihat pukulan tersebut dan menilai Samosir yang menurun staminanya dinyatakan kalah TKO.

Ditanya komentarnya mengenai kekalahan petinjunya, Manager/Pelatih M. Sutan Rambing menyatakan tidak terlalu kecewa atas permainan anak didiknya tersebut. “Bakhtin merupakan petinju berpengalaman namun tidak cukup istimewa, dia hanya menang jam terbang dan speed pukulan. Ini merupakan pengalaman yang baik bagi Richard untuk menimba pengalaman di level internasional. Lawannya Bakhtin adalah peringkat # 2 WBC, # 4 WBA dan # 5 IBF, namun dia bisa mengimbangi”, Jelas Sutan.

Usai pertandingan Richard Samosir disambut antusias oleh para penonton yang menyaksikan di Okinawa stadium. Hampir semua penonton mengatakan 'good fight' bahkan beberapa diantaranya meminta tanda tangan Samosir sebagai tanda kekagumannya.

Rombongan tim Indonesia bertolak dari Okinawa kembali ke Jakarta hari ini (6/7).

Saturday, April 4, 2009

Marbun dan Sianturi Sama-Sama Target KO!

oleh Erick Purna Irawan

Dua petinju yang akan saling bertarung memperebutkan gelar juara nasional ATI kelas bantam super; juara bertahan Marangin Marbun dan penantangnya Christian Sianturi, sama-sama sesumbar akan meng-KO lawannya di atas Ring Tinju TVRI nanti malam, 4 April di Studio TVRI, Senayan, Jakarta. Hasil timbang badan semalam menunjukkan bobot sedikit lebih ringan, yakni 54,9 kg. sedangkan Christian Sianturi berbobot 55,2 kg. Sianturi, dalam sesi jumpa pers menyatakan sudah berlatih selama 1 bulan dengan 40 ronde latihan sparring partner, dan siap memukul KO Sianturi dalam 4 ronde saja. Tak kalah gertakan, Marbun juga menginformasikan dia sudah berlatih selama 1 bulan dengan 30 ronde sparring, juga sesumbar akan menundukkan Sianturi dengan KO ronde 9 dari 10 ronde yang direncanakan.

Prediksi saya adalah 60:40 untuk Marbun, mengingat Marbun, kelahiran Sileu-leu, 18 Agustus 1986, selain memiliki persiapan lebih matang juga dia lebih berpengalaman (22-18, 11 KO) serta pengalaman amatir yang cukup "ok" dengan menjuarai piala Kapolda Sumut. Meskipun Sianturi (kelahiran Medan, 14 Oktober 1983) dianggap sebadai underdog, Marbun sama sekali tidak boleh lengah dalam melawan Sianturi yang memiliki rekor 13-3-2, 7 KO.

Di partai tambahan kelas terbang non gelar 10 ronde, Alfons Tobing akan berhadapan dengan Tommy Seran.

Erick Purna Irawan adalah seorang Penata Tanding

Monday, March 2, 2009

Ulasan dari Ronde ke Ronde CJ vs. Juarez

Chris John tampil bagus dengan langkah enteng, gerakan sempurna ke kanan dan ke kiri sepanjang pertandingan. Namun stamina yang terkuras menyebabkan Juarez mampu merebut dua ronde terakhir untuk membukukan hasil seri, walaupun menurut pengamatan saya CJ seharusnya unggul tipis atas Rocky Juarez. Secara keseluruhan, CJ tampil bagus, namun secara prib adi saya menganggap penampilan CJ saat menggulung Juan Manuel Marquez di Tenggarong, tiga tahun lalu, jauh lebih bagus dan lebih taktis, sehingga Marquez harus puas dengan kekalahan angka mutlak. Jab-jab disusul straight kanan CJ saat itu berulangkali datang lebih cepat daripada pukulan Marquez.

Dalam pertandingan melawan Juarez, CJ memang tampil bagus namun masih kurang taktis, sehingga beberapa kali tekanan Juarez mampu merepotkan CJ. Bahkan di dua ronde terakhir, terutama ronde 12, CJ kehabisan stamina, sehingga Juarez mampu memasukkan banyak pukulan bersih dan unggul mutlak di ronde 12. Dalam pertandingan melawan Marquez, lawan sama sekali tidak mampu mendominasi di salah satu rondepun.

Mari kita ikuti jalannya pertandingan dari ronde ke ronde.

Ronde 1: Juarez langsung mencoba menekan, CJ jaga jarak dengan jab-jab. ronde ini draw.

Ronde 2: Juarez semakin agresif, CJ menampilkan permainan ala Muhammad Ali, menari-nari dengan footwork lincah. Juarez terus memburu. Ronde ini tipis untuk Juarez.

Ronde 3: Kali ini CJ bergerak taktis. Pukulan-pukulan lurusnya banyak masuk ke sasaran. Juarez beberapa kali melakukan counter, namun berhasil diblok double cover CJ yang rapat.

Ronde 4: Keadaan masih sama, Juarez agresif, CJ jaga jarak. Namun dua pukulan telak Juarez di pertengahan ronde mampu membuat dian unggul di ronde ini.

Ronde 5: Kembali CJ tampil taktis dengan gaya menari ke kanan dan ke kiri. Pukulan CJ banyak masuk sasaran. Juarez mampu mendaratkan straight kanan telak di tengah ronde, namun CJ lebih banyak mendaratkan pukulan bersih. Pelipis di atas mata kiri Juarez mulai berdarah. Ronde ini untuk CJ. Komentator HBO Bob Sheridan secara khusus memuji penampilan CJ di ronde ini, dia mengatakan CJ memiliki pukulan sangat lengkap: jab, straight, hook, uppercut dan gerakan yang sdangat bagus dan lincah.

Ronde 6: CJ terpancing untuk bertanding dalam jarak yang agak rapat, sehingga Juarez mendapatkan keuntungan. Namun Juarez gagal memanfaatkan situasi ini, karena pukulan-pukulannya mampu diredam pertahanan CJ. Ronde untuk CJ.

Ronde 7: Sama dengan ronde 7, CJ kali ini 'meladeni' pertarungan jarak tanggung. Namun lagi-lagi Juarez gagal memasukkan pukulan-pukulan mautnya. CJ unggul tipis ronde ini.

Ronde 8: Kali ini CJ mengambil jarak terlalu dekat dengan Juarez. Satu pukulan straight kanan Juarez mendarat telak. Ronde ini untuk Juarez.

Ronde 9: CJ tampak mulai lelah untuk terus berlari dan menari guna menjaga jarak. Dia mencoba menjaga jarak, namun Juarez kali ini mampu menempel rapat dan masuk. Juarez paling tidak mendaratkan dua pukulan telak di ronde ini. Sekali di pertengahan, dan sekali di akhir. Ronde ini untuk Juarez.

Ronde 10: CJ mulai mendapatkan stamina untuk menjaga jarak, di samping Juarez mengendurkan serangan agresifnya. CJ unggul tipis pada ronde ini.

Ronde 11: CJ mulai nampak kelelahan lagi, sehingga Juarez mampu menekan CJ. Pertandingan sempat panas di 20 detik terakhir, saat keduanya bertukar pukulan di sudut netral. Ronde ini untuk Juarez.

Ronde 12: CJ sudah sangat lelah, sehingga Juarez mampu mendominasi ronde ini dan memasukkan banyak pukulan. Ronde ini mutlak untuk Juarez.

Kesimpulan akhir saya, Ronde 1 draw; Juarez unggul 5 ronde pada ronde 2, 8, 9, 11, 12. Sedang CJ unggul di 6 ronde pada 3, 4, 5, 6, 7 dan 10. Total skor saya adalah 115-114 (sama dengan skor Bob Sheridan, komentator TV HBO).

Foto-foto karya Paul Wahyudin, fotografer asal Indonesia yang berdomisili di kota Houston, dikirimkan oleh Andy Candra.

Monday, February 9, 2009

Can Yordan Overcome the Ghost?

as published by Asian Boxing News

It was a big surprise to me (and to most of Indonesian boxing fans) to find out the next opponent of young Indonesian talent Daud “Cino” Yordan is the high regarded former featherweight IBF champion Robert “The Ghost” Guererro. The two meet on March 7 at The Tank in San Jose, California... Complete story: Click Here

Tuesday, January 27, 2009

The Romance of the Three Boxing Commissions

as published by Asian Boxing News

For a country like Indonesia, where boxing is not as popular as soccer, badminton, volleyball, or racing sports, having three sanctioning bodies is somewhat unbelievable. What makes it even more bizarre is the fact that the current numbers of active boxers in Indonesia is around 100 or less... (click here for complete story)

Saturday, January 10, 2009

Ricardo Rocky Juarez - Penantang sang Naga

Bermodalkan medali perak kelas bulu Olimpiade Sydney 2000, Juarez adalah ancaman serius bagi mahkota juara kelas bulu WBA milik Chris John. Walaupun secara reputasi Juarez kalah dari 3 juara dunia yang pernah ditundukkan Chris John, Osamu Sato, Derrick Gainer dan Juan Manuel Marquez, namun secara teknis dan kualitas, Juarez tidak kalah dari mereka.

Petinju Hispanik kelahiran Houston, Texas, 15 April 1980 ini merupakan petinju dengan ciri khas Amerika Latin yang kental, bertipe fighter murni, bergaya ortodoks, dan tak segan 'pasang badan' untuk beradu pukul selama 12 ronde.

Sejak 'lulus' dari kawah candradimuka olimpiade, Juarez langsung menjadi primadona, dan diramalkan menjadi petinju besar di kemudian hari. Portofolio awal karir Juarez di tinju pro juga sangat mengesankan. Dia berhasil menundukkan serangkaian petinju papan atas pada masa itu: Frankie Archuleta, Antonio Diaz, Hector Velazquez, Zahir Raheem (disebut-sebut sebagai kemenangan berbau kontroversial), Gutty Espadas, Jr. dan Juan Carlos Ramirez. Bahkan saat memukul KO Antonio Diaz ronde 10, majalah tinju bergengsi "the Ring" memberi penghargaan sebagai "KO Terbaik tahun 2003"

Namun sayang, reputasi Juarez yang bagus itu tidak didudukung oleh keberuntungan. Juarez selalu kalah dalam partai kejuaraan dunia. Nasib sial Juarez dialami pertamakali tahun 2005, saat dia dikalahkan angka oleh Humberto Soto, dalam kejuaraan interim kelas bulu WBC. Dalam beberapa pergelaran partai kejuaraan dunia selanjutnya, Juarez juga takluk: Dua kali kalah angka dari Marco Antonio Barrera (2006, WBC bulu super), dan kalah angka dari Juan Manuel Marquez, 2007, kejuaraan WBC kelas bulu super.

Banyak pihak mengatakan bahwa secara teknis Chris John masih di atas Juarez. Pukulan Chris lebih cepat dan lebih lengkap. Jika diamati sekilas dari rekaman pertandingan Juarez, gaya bertinjunya mirip dengan Hiroyuki Enoki, petinju Jepang yang dikalahkan Chris John dengan angka tahun lalu. Gaya fighter dan fighting spirit tinggi dipastikan akan menjadi andalan utama Juarez dalam menghadapi Chris.

Namun, pertandingan Enoki vs Chris John janganlah dijadikan patokan. Saat itu Craig Christian, menurut perkiraan saya, memang sengaja "melatih" Chris John agar tampil sebagai seorang fighter. Pernah suatu ketika Craig berkata kepada saya bahwa dia melatih Chris John sedemikian rupa untuk merubah gayanya menjadi lebih 'fighter' karena untuk kepentingan pemasaran di AS. Memang, dalam beberapa kali penampilan di bawah Craig, Chris tampil bak seorang fighter. Ada yang bagus, ada yang jeblok.
Penampilan terbaik sebagai seorang fighter, menurut saya adalah saat Chris menundukkan Derrick Gainer di Jakarta. Saat itu Chris John, walau sempat knockdown di ronde 1, tampil bagaikan seorang punching machine yang terus merangsek Gainer yang kewalahan menghadapi serbuan beringas Chris John yang tiada henti.
Penampilan terburuknya sebagai fighter (bahkan terburuk dalam partai kejuaraan dunia Chris) adalah saat menundukkan Jose Rojas (partai kedua) di Jakarta. Chris John yang mencoba tampil slugger justru kehabisan stamina di ronde-ronde akhir. Pelatih Craig Christian dengan jujur sempat berkomentar mengenai penamopilan buruk Chris, bahwa itu adalah kesalahan dia dalam menerapkan strategi bertanding.

Pertandingan melawan Hiroyuki Enoki, saya kira bukan penampilan terbaik Chris John, namun pertandingan itu sendiri merupakan salah satu pertandingan terbaik (jika tidak mau disebut paling brutal) dalam karir Chris John. Chris John dan Enoki tampil sebagai dua slugger yang terus saling bertukar pukulan sebanyak 12 ronde, sehingga sebelah muka Enoki bengkak, sedang Chris John harus menjalani 70 jahitan akibat luka akibat pukulan dan serudukan kepala Enoki.

Namun bagaimanapun, penampilan paling ciamik Chris adalah saat dia tampil dengan gaya alamiahnya, yakni gaya boxer sejati. Penampilan luar biasa melawan Osamu Sato dan Juan Manuel Marquez adalah bukti bahwa Chris John mampu tampil superior sebagai seorang boxer. Namun tentunya masalah penampilan di ring, pelatih Craig Christian tentunya lebih tahu bagaimana menerapkan strategi dalam menghadapi Rocky Juarez.

Faktor non teknis dalam pertandingan tinju terkadang pengaruhnya lebih besar daripada faktor teknis. Bertanding di kampung halamannya sendiri di Houston, tentunya merupakan keuntungan besar Juarez. Dia akan didukung segenap kawan dan kerabatnya, sehingga akan memompa semangat bertanding. Sedang bagi Chris John, penyesuaian iklim merupakan faktor yang cukup berat, mengingat kini Houston masih beriklim dingin namun kering.

Kendala besar bagi Juarez adalah masalah berat badan. Kabarnya dia juga sering bermasalah saat bertanding di kelas ringan yunior (kelasnya saat ini). Bisa dibayangkan, dia akan menguras habis cairan di dalam tubuhnya untuk menyesuaikan dengan batasan berat di kelas bulu (57,1 kg.). Oscar de la Hoya sudah merasakan pahitnya turun berat badan secara drastis sebelum pertandingan. Dia yang turun dua kelas (kelas menengah ke welter) menghadapi Pacquiao Desember lalu, tampil lemas tak bertenaga, dan harus menangguk malu dipecundangi oleh si boncel dari Asia.

Apakah Juarez akan terus mengalami deja vu dalam setiap pertandingan berlabel kejuaraan dunia? Atau sebaliknya Chris John selalu mendapat berkah dari Dewi Fortuna seperti selama sepuluh kali mempertahankan gelar? Kita hanya bisa menunggu sampai 28 Februari sembari mengucapkan, "Good luck, Chris! Semoga sukses!"

Tuesday, December 9, 2008

Natatangi, Manny Pacquiao!

Koran-koran hari ini di Indonesia, semuanya memuat berita kemenangan Manny Pacquiao. Karena kemarin libur Idul Adha, media di Indonesia baru bisa menyajikan berita besar di dunia tinju itu hari ini. Untuk itulah, sekali lagi saya menyajikan tulisan tentang kemenangan besar Pacquiao, yang merupakan kemenangan rakyat Filipina dan Asia pada umumnya.

Pacquiao memang bermain bagus sekali, dan Oscar de la Hoya bermain buruk sekali. Itu adalah gambaran pertandingan berat sebelah antara Manny Pacquiao vs. Oscar de la Hoya, 6 Desember di MGM Grand, Las Vegas, atau Minggu siang waktu Indonesia. Dalam siaran langsung yang direlay oleh TVOne, Pacquiao menguasai penuh jalannya pertandingan sejak ronde pertama hingga delapan, yang membuat kubu Oscar de la Hoya menyerah dan tidak bersedia melanjutkan pertandingan. Wajah de la Hoya sendiri bengkak dengan mata kiri hampir tertutup akibat sengatan pukulan Pacquiao.

Penampilan Oscar de la Hoya begitu buruk, bahkan jauh lebih buruk daripada saat dia dipukul KO oleh Bernard Hopkins beberapa tahun lampau. Saat itu de la Hoya masih memberikan perlawanan, walau Hopkins tampak sangat dominan dan sukar ditembus. Penampilan de la Hoya saat melawan Pacquiao sangat memprihatinkan. Pukulan-pukulan lurusnya semua dapat diantisipasi oleh kelincahan Pacquiao yang terus bergerak ke kiri, kanan dan maju mundur, sehingga membuat peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu bagaikan petinju yang sedang belajar tinju, dan bergerak begitu lamban.

Sebaliknya Pacquiao, ini adalah penampilan yang terbaik dari seluruh penampilan terbaik yang pernah dilakoninya. Selain itu, pertarungan Pacquiao kali ini sekaligus mematahkan asumsi bahwa seorang fighter atau slugger semacam Paccquiao tidak dapat tampil sebagai seorang boxer. Pacquiao sudah membuktikan hal tersebut, di mana selama 5 ronde pertama, dia tampil bagaikan seorang boxer alami yang terus bergerak dari segala penjuru. Barulah pada ronde 6, di mana Pacquiao sudah merasa pede, dia tampil dengan gaya alaminya, sebagai seorang slugger.

Di sisi Oscar de la Hoya, tampak sekali kubunya, yang dikomandoi oleh Ignachio Beristain dengan penasehat teknis Angelo Dundee, sama sekali tidak mengira bahwa Pacquiao akan tampil sebagai seorang boxer. Mereka juga sama sekali tidak mengantisipasi hal tersebut. Di ronde-ronde awal, terlihat jelas de la Hoya menunggu dengan "sabar" saat Pacquiao ‘masuk’ dengan gaya brutalnya. Namun ternyata dia salah total. Pacquiao ternyata bermain dengan strategi pukul lari, dan de la Hoya hanya bisa menunggu dan menunggu sambil menyaksikan kelicahan Pacquiao bergerak ke kanan dan ke kiri sambil melontarkan pukulannya.

Kemenangan Pacquiao ini sekaligus merupakan kemenangan strategi coach Freddy Roach, pelatih terbaik saat ini, yang berhasil mengungguli ramuan teknis dua pelatih seniornya, Ignachi Beristain dan Angelo Dundee.

Juara dunia WBA kelas bulu Chris John, yang sebelumnya juga menjagokan Oscar bakal memenangi pertandingan, juga tidak dapat menyembunyikan rasa herannya dengan penampilan buruk Oscar de la Hoya. “Manny Pacquiao beramin sangat bagus sekali, namun saya heran mengapa Oscar de la Hoya bisa tampil seburuk itu,” kata Chris John yang saat ini sedang santai menunggu Natal bersama keluarganya di Semarang.

Hal senada juga disampaikan Temuzin Rambing, promotor tinju. “Gila sekali penampilan Pacquiao. Oscar tidak bisa menyarangkan satupun pukulan,” ujar Temuzin yang juga heran dengan penampilan buruk Oscar de la Hoya.

M. Rachman, mantan juara dunia IBF kelas terbang mini, yang sebelumnya juga menjagokan de la Hoya, memuji penampilan Manny Pacquiao. “Dia naik dua kelas namun dia tetap bisa menjaga kelincahannya, luar biasa!" Kata Rachman.

Yah, sekali lagi Pacquiao sudah mematahkan mitos bahwa dirinya hanya bisa bermain adu pukul. Ternyata dia juga bisa memenangi duel adu otak dalam olahraga tinju ini. Menurut kabar yang berhembus, untuk pertandingan berikut, Pacquiao akan menantang juara kelas welter yunior IBO, Ricky Hatton asal Inggris. Pertandingan ini jelas akan berlangsung keras, karena Hatton merupakan petinju dengan gaya asli Pacquiao, yakni slugger. Namun rasanya jika penampilan Pacquiao seperti saat dia menumbangkan de la Hoya kemarin, Hatton bukanlah lawan seimbang baginya.

Natatangi, Manny Pacquiao!

* Natatangi: Luar biasa dalam Bahasa Tagalog

Friday, December 5, 2008

SOS: Indonesian Boxing is Dying!

Indonesian boxing is dying. Boring, monotonous live events on TV, along with a dwindling pool of quality fighters have slowly killed the sport. In the 1980’s, there was one television station broadcasting boxing, the government-owned, TVRI. During this time, several Indonesian boxers were cultivated and achieved a measure of success during this time; OPBF welterweight champion Wongso Suseno (the first Indonesian to gain an international boxing title), IBF super flyweight champion Ellyas Pical, IBF strawweight champion Nico Thomas, and Thomas Americo, former WBA welterweight contender and the first Indonesian to challenge for a world title... Read completely here...

Oscar de la Hoya vs Manny Pacquiao: Size does Matter!

Pertandingan Manny Pacquiao vs Oscar de la Hoya pada 6 Desember mendatang atau minggu pagi waktu Indonesia (yang direncanakan disiarkan oleh TVOne), mengundang banyak kontroversi. Banyak yang mencibir pertandingan ini tidak bermutu, karena Oscar de la Hoya yang telah menjelajah hingga kelas menengah super, rela turun ke bawah, kembali hingga ke kelas welter guna meladeni tantangan Manny Pacquiao yang harus menggelembungkan berat badannya sekitar 5 kg. dari berat badan tanding terakhir di kelas ringan. Catatan: "wah, kok saya jadi teringat pada para eks menteri kita yang kini "turun ke kelas yang lebih ringan", dengan mengikuti pilkada, baik walikota, bupati, gubernur, dll"),

Banyak juga yang menyatakan bahwa pertarungan ini akan berlangsung seru, terutama dari para fans Pacquiao, yang yakin dengan segala kekurangan fisiknya, Pacquiao akan bisa meladeni Oscar de la Hoya yang saat ini sedang berkemas menyiapkan masa pensiun, dan 100% konsentrasi sebagai promotor tinju. Para pendukung Pacquiao itu yakin, setelah menandaskan seluruh lawan terbaik dari Meksiko di kelasnya, Pacquiao tak akan kesulitan melawan de la Hoya. Apalagi Oscar hanya mampu menang angka atas mantan juara kelas ringan Steve Forbes, yang secara kemampuan jauh di bawah Manny Pacquiao.

Saya sendiri meramalkan Oscar de la Hoya tidak akan menemui banyak kesulitan untuk mengandaskan Pacquiao. Semata-mata alasan saya adalah karena masalah fisik. Secara skill dan teknis bertinju, saya kira de la Hoya maupun Pacquiao seimbang. Tinggal masalah fisik dan faktor X yang menentukan.

Saya tidak akan berbicara masalah faktor X, selain hanya sedikit mengungkapkan ulasan yang pernah saya baca, bahwa bisa jadi Oscar de la Hoya akan memberikan kemenangan kepada Pacquiao, karena dia perlu menarik Pacquiao dari pelukan Bob Arum, dan menjadikannya tambang emas baru, di kala de la Hoya sudah pensiun, dan berkonsentrasi penuh menjadi promotor. Tapi itu hanyalah ulasan yang susah untuk dianalisis. Saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai hal ini.

Dengan tinggi badan 179 cm dan jangkauan 185 cm., de la Hoya akan senantiasa mengganjal lawannya yang lebih pendek dengan jab-jab dan straight, sehingga Pacquiao (T/B: 169, J: 170 cm), kesulitan menembusnya. Selama ini, lawan-lawan yang dikalahkan Pacquiao ukuran fisiknya seimbang, dan rasanya dia belum pernah mendapat lawan yang ‘menjulang’ seperti de la Hoya. Jikapun Pacquiao lolos dari ganjalan jab-straight de la Hoya, hook dan uppercut peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 (kelas ringan) ini masih lebih berat daripada berondongan pukulan Pacquiao.

Selain itu, Oscar sendiri adalah murni petinju kelas menengah, walaupun dia memulai karir dari kelas ringan. Sekeras-kerasnya pukulan Pacquiao yang berangkat dari kelas bulu sebelum akhirnya menjuarai kelas ringan, tidak akan seberat pukulan Bernard Hopkins yang telah merobohkan de la Hoya. Yah, itu memang analisis kelas kampung dari saya, yang istilahnya ‘gak usah lu omongin, gua juga udah tahu…”.

Tapi memang itulah kenyataannya. Saya tidak perlu berbusa-busa menganalisis teknis kedua petinju (padahal belum tentu benar). Contoh kasus tinju dengan gap fisik mencolok bahkan pernah juga dialami de la Hoya, saat dia dipermalukan oleh Bernard Hopkins, menyerah KO ronde 9. Hopkins yang jauh lebih tinggi dan kekar (T/B 185 cm, J: 191 cm), tidak mampu ditembus oleh de la Hoya yang coba merangsek dengan pukulan jarak dekat, namun dengan mudah Hopkins mencegat de la Hoya yang frustrasi dan akhirnya ‘merobohkan diri’ di ronde 9, dan menyerah KO, walaupun kelihatannya pukulan Hopkins tidak bersarang terlalu keras ke ulu hati de la Hoya. Namun de la Hoya tampak meringis kesakitan dan tak mau bangkit setelah hitungan 10.

Pacquiao tak bisa dibandingkan dengan Steve Forbes. Forbes cenderung defensif, susah buat Oscar untuk 'masuk', sedangkan Pacquiao yang agresif, akan senantiasa menjadi makanan empuk de la Hoya.

Yah, saya adalah seorang yang percaya hal-hal logis, dan sekiranya, ungkapan “Size does matter” tampaknya berlaku dalam tinju. Juga dalam teori tinju yang belaku umum, jika seorang petinju menaikkan bobotnya secara drastis, maka secara alamiah, kecepatannya akan berkurang. Yah, itu adalah teori, yang terkadang (atau malah sering) tidak sesuai dengan praktek di lapangan. Yah namanya juga ramalan dan prediksi. Jika kelak ramalan saya salah, saya tak akan ragu dan malu meralat pandangan saya.

Yuk, kita tongkrongin sama-sama layar TV One, Minggu pagi, 7 Desember, mulai jam 09.00. Semoga PLN berada di pihak saya, sehingga listrik di rumah saya tidak padam pada hari H tersebut... Juga anak saya tidak merecokkin saya mengajak main bola, sehingga saya bisa menikmati pertandingan dengan konsetrasi penuh :o)

Monday, September 15, 2008

Daud Yordan Tampil Cemerlang di Las Vegas!

Penampilan Daud Yordan di Las Vegas cukup menyita perhatian penggemar tinju setempat, dan partai kelas bulu 8 ronde tersebut disebut-sebut sebagai partai tambahan terbaik dalam gelaran Marquez vs Casamayor di MGM Grand, Las Vegas. Yordan vs Meza berlangsung dalam tempo tinggi dan sangat menarik, karena keduanya menampilkan permainan terbaik mereka.

Yordan tampil sangat bagus di ronde 1, beberapa kali pukulan kanannya yang keras berhasil masuk ke wajah Meza yang mengawali ronde ini dengan jab-jab lemah. Ronde ini mutlak untuk Yordan.

Ronde 2, Yordan tampil agresif, tapi Meza merubah gaya bertinjunya dengan gaya kidal, sehingga membingungkan Yordan. Ronde ini tipis untuk Meza.

Ronde 3, Meza kembali ke gaya ortodoksnya, dan Yordan dengan leluasa beberapa kali berhasil menyarangkan beberapa pukulan keras ke wajah Meza. Kemudian Meza kembali ke gaya kidal, dan kembali mempersulit Yordan yang terkena sambaran hook dan uppercut Meza. Ronde ini berjalan seimbang.

Ronde 4 dan seterusnya, Meza kembali dengan gaya kidal, namun Yordan sudah bisa beradaptasi, dan berhasil menyarangkan beberapa pukulan keras. Meza tak mau mengalah begitu saja, dia juga berhasil menyarangkan beberapa pukulan kombinasi. Sorak-sorai pendukung Meza, tentunya orang-orang Meksiko, mendominasi arena pertandingan.

Pada ronde terakhir (8), Yordan sudah berhasil menguasai keadaan, dan mengurung Meza sampai pertandingan selesai. Yordan dinyatakan unggul angka mayoritas 76-76, 78-74, 78-74.

Boxingscene.com dalam ulasannya menyampaikan pujian bahwa Daud, petinju muda Indonesia berusia 21 tahun, berhasil melalui ujian berat pertamanya dengan sukses, dengan mampu keluar dari kesulitan, berhasil menyarangkan pukulan-pukulan yang lebih keras, dan akhirnya mengungguli Meza yang lebih berpengalaman.

Selamat, Daud! Masa depan Anda tampaknya cukup cerah, dan semoga Golden Boy Promotions semakin mantap mengikat kontrak 5 tahun dengan Anda!

Sumber: Fightnews, boxingscene.com

Tuesday, July 29, 2008

Kerja Keroyokan, Biang Keladi Permasalahan Batalnya CJ vs Asiku

Kontrak yang tumpang tindih antara promotor, stasiun TV dan Chris John Management ditengarai sebagai akar permasalahan batalnya pertandingan Chris John vs Jackson Asiku.

Siapa yang patut dipersalahkan? Semua seyogianya patut dipersalahkan, baik promotor, TV maupun Chris John Management.
Berikut adalah kronologi bagaimana pertandingan yang sesungguhnya bisa dinikmati oleh pecinta olahraga tinju, menjadi polemik yang berkembang di media massa.

Hari Senin, 21 Juli 2008, 7 hari sebelum hari H pertandingan (27 Juli 2008), diadakan jumpa pers pertandingan di Cafe Front Row, Jakarta. Semua pihak yang berkepentingan sudah hadir; promotor, stasiun TV, dan kubu kedua petinju. Tak ketinggalan para wartawan sudah dengan antusias menunggu. Sedianya, selain diadakan jumpa pers, promotor, sesuai kontrak dengan petinju, diwajibkan membayar tunai uang muka sebesar 50% pada hari itu, sedang sisanya 50% dibayarkan dengan garansi bank.

Lebih dari dua jam ditunggu, ternyata akhirnya konperensi pers itu batal, karena pihak Chris John tidak mau menerima uang tunai yang disediakan promotor karena nilainya kurang dari 50% nilai yang disepakati dalam kontrak, tambahan promotor tidak membawa garansi bank yang diwajibkan dalam kontrak. Usut punya usut, rupanya ada perjanjian tersendiri antara promotor dan stasiun TV, bahwa sebagian dari dana tunai dan garansi bank itu akan disediakan oleh pihak TV, namun pada hari itu pihak TV tidak dapat menyediakannya. Karena beberapa kali bermasalah dengan pembayaran Chris John di Indonesia, maka Craig selaku pimpinan CJ Management menyatakan tidak mau tahu dengan urusan di belakang layar promotor dan TV. Maka dia memutuskan pertandingan dibatalkan. CJ Management yang berada di belakang MTM Promotions, promotor utama untuk partai-partai Chris John, segera melayangkan surat pembatalan kepada WBA yang direspons oleh WBA dengan membatalkan pengiriman para ofisialnya. Mereka juga mengirim kepada boxrec.com dan beberapa media lain di luar negeri untuk memberitahukan pembatalan ini. Jadi pertandingan sudah dipastikan batal.

Karena ada kepastian batal, Jackson Asiku pergi meninggalkan Jakarta, dan ternyata sudah berada di Bali. Chris John juga sudah sempat berkemas menuju Semarang, untuk menunggui istrinya yang tengah hamil tua, direncanakan lahir pertengahan Agustus ini.

Namun, pihak promotor kembali melakukan pendekatan dan negosiasi dengan kubu CJ Management. Menurut Craig Christian, dalam negosiasi yang sangat alot tersebut, Craig menyatakan bahwa karena sudah dibatalkan, maka Chris John maupun Asiku akan sulit mencapai kondisi optimal, dan sulit menyesuaikan berat badan di kelas bulu (57,1 kg) dalam waktu singkat. Menurut Craig Christian, promotor setuju bahwa ini adalah pertandingan non gelar. Namun Tourino Tidar, selaku co-promotor menyangkal keras bahwa telah tercapai kesepakatan pertandingan itu merupakan pertandingan non gelar, seraya membuktikan bukti-bukti berupa print out komunikasi e-mail.

Setelah mendapatkan jaminan dari Tourino Tidar yang dikenal dekat dengan orang-orang WBA, akhirnya WBA memutuskan 'menghidupkan' kembali partai yang sudah batal tersebut, dan para ofisial (wasit hakim dan supervisor) tiba di Jakarta pada hari Jumat, 25 Juli 2008. Pada hari Jumat itu, Chris John menjalani pemeriksaan oleh tim dokter, sedangkan Jackson Asiku tidak hadir, karena tidak diketahui posisinya. Setelah dicari-cari, baru ketahuan ternyata dia berada di Bali, dan menyatakan akan terbang ke Jakarta pada hari Sabtu, 26 Juli, untuk menjalani timbang badan.

Sabtu, 26 Juli 2008, pukul 4.00 sore hari, promotor, para ofisial WBA, Alan Kim (supervisor WBA), Anton Sihombing selaku ketua KTI, para petinju lokal untuk mengisi partai tambahan, serta para wartawan dari berbagai media, sudah berkumpul di Restoran Amigos, Jakarta. Alan Kim, supervisor WBA, mengumumkan bahwa sesi penimbangan resmi dimulai pukul 4.00, satu hari sebelum hari H pertandingan. Jika ada petinju yang terlambat atau overweight, akan diberi kesempatan dua jam, jadi jam 6.00 sore hari adalah batas waktu terakhir penimbangan badan. Ternyata kedua petinju tidak hadir pada penimbangan jam 4.00 itu, maka Alan Kim mengumumkan mereka menunggu kedua petinju sampai menjelang jam 6.00. Menurut kabar, Asiku akan mendarat dari Bali sekitar pukul 04.00 sore hari itu.

Sekitar pukul 5.30, kubu Chris John datang, namun hanya duduk-duduk saja, dan tidak melakukan penimbangan.

Hingga pukul 06.00, Asiku tidak menampakkan batang hidungnya. Chris John mengurungkan niatnya untuk melakukan timbang badan.

Alan Kim menyatakan pertandingan itu batal, dan dia akan melaporkan situasi ini kepada presiden WBA, karena posisi dia sebagai supervisor tidak dapat mengambil keputusan apapun.

Kepada boxing-indonesia, Alan Kim mengatakan bahwa menurut peraturan, jika kedua petinju tidak hadir, maka gelar juara akan dinyatakan lowong. Namun, beberapa saat sebelum batas akhir (jam 06.00) itu, Alan Kim mendengar informasi bahwa pertandingan itu ditunda ke bulan November. "Jika benar pertandingan ini ditunda, itu kasusnya lain," jelas Alan Kim. "Saya akan mencari tahu duduk perkaranya terlebih dulu, dan jika benar pertandingan itu ditunda, maka saya akan membuat laporan kepada WBA berdasarkan justifikasi saya dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pertandingan ini.," terang Alan Kim. Selanjutnya, dia berjanji akan menginformasikan kepada boxing-indonesia jika ada komentar atau keputusan dari WBA.

Pihak Chris John sendiri tetap menyatakan bahwa pertandingan itu adalah pertandingan non gelar, karena pertandingan perebutan gelar juara sudah dibatalkan oleh MTM Promotions. "Jika pertandingan non gelar, buat apa ada ofisial WBA?" tanya Craig dengan sengit.

Namun sekali lagi, Tourino Tidar membantah keras dia sudah bersepakat dengan CJ Management untuk membikin pertandingan non gelar dan menunjukkan print out korespondensi via e-mail sebagai bukti. Dia dan promotor Soeryo Goeritno siap terbang ke Panama, markas WBA, untuk membuat laporan tentang kejadian ini.

"Pembatalan ini telah mencoreng nama baik saya, dan saya menyatakan mengundurkan diri sebagai promotor!" tegas Goeritno, yang merupakan pengusaha terkenal di Indonesia.

Dengan berlinang air mata, Turino Tidar juga menyatakan penyesalannya atas pembatalan ini. "Tidak perlu saling menyalahkan. Sangat sulit menghasilkan seorang juara, perlu tetesan darah, keringat dan air mata," kata Turino sambil menyeka air mata. "Kita semua sudah bekerja keras, namun hari ini semua sia-sia."

Memang semuanya jadi sia-sia karena carut-marut dan kontrak yang saling tumpang tindih dan membingungkan. Idealnya seorang promotor adalah penyelenggara utama sebuah partai kejuaraan, sehingga berhasil tidaknya sebuah pementasan tinju adalah hasil upaya promotor tersebut. Anomali di Indonesia, sebuah pagelaran tinju besar adalah hasil kerja keroyokan, sehingga saat terjadi masalah atau salah satu pihak cuci tangan, sangat sulit mencari siapa yang paling bertanggung jawab.

Masalah seperti ini kabarnya bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga sering terjadi di Thailand, Filipina, dll. Untuk segi profesionalisme penyelenggaraan tinju, bisa disebut AS, Inggris dan Jepang sebagai negara-negara yang pertinjuannya sudah mapan, dan sebuah pagelaran tinju jarang terjadi kemelut berkepanjangan, karena penanggungjawabnya jelas dan pasti, yakni promotor.
Foto dari kiri ke kanan: Soeryo Goeritno, Tourino Tidar dan Alan Kim saat penimbangan badan yang batal (Jeffrey Pamungkas © 2008)

Sunday, June 22, 2008

Erick Diaz Menang Kontroversial

Keputusan ketiga hakim asal Indonesia untuk memenangkan Erick Diaz Siregar secara mutlak perlu dipertanyakan. Dalam pertandingan yang digelar Sabtu malam (21 Juni) di Trans 7 Studio tersebut, lawan Erick, Jun Erham (Filipina), tampil lebih dominan dan banyak menyarangkan pukulan bersih. Erick sendiri tampil dengan monoton dan jelas sekali kurang fokus dan minim persiapan. Padahal biasanya Erick, juara kelas bantam yr. KTPI, tampil meyakinkan dan penuh konsentrasi.

Akibat stamina yang bobrok, petinju yang postur dan wajahnya sekilas mirip petinju Meksiko Juan Manuel Marquez tersebut terjatuh walau tanpa terkena pukulan sebanyak lebih dari 10 kali, dalam pertandingan yang digelar sepanjang 10 ronde (non gelar) tersebut. Erham sendiri menunjukkan psy war (perang urat syaraf) dengan beberapa kali sengaja menahan pukulan keras Erick di wajahnya, mungkin itu menyebabkan jatuhnya mental Erick, dan menyebabkan buruknya penampilan Erick. Sayang, Jun Erham tidak memiliki insting ‘membunuh’ yang baik, sehingga Erick terselamatkan dari kekalahan KO.
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.