Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Hari ini 55 Tahun yang Lalu...


25 Maret 1958, Sugar Ray Robinson berhasil merengkuh gelar juara dunia kelas menengah untuk kali kelima setelah menundukkan Carmen Basilio dengan kemenangan angka tipis (spliut decision) di Chicago Stadium. Pertandingan pertama mereka, 23 September 1957, Robinson harus mengakui keunggulan Basillio, dalam sebuah pertandingan yang sangat keras. 

Tak kalah dari pertandingan pertama mereka, pertandingan kedua juga tak kalah keras.  Kedua mata Basilio nyaris tertutup karena bengkak sejak ronde 6, namun dia tidak pantang menyerah dan terus melakukan perlawanan sengit yang sangat merepotkan Robinson. Robonson dinyatakan menang angka tipiss (wasit/hakim Frank Sikora: 66-69, John Bray 71-64 dan Franklin Spike McAdams 72-64). Pertandingan ini dipilih sebagai Fight of the Year oleh Majalah The Ring.  



Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Wednesday, October 12, 2011

Sejarah Sabuk Tinju





Pernah terpikir kapan sabuk juara dalam tinju mulai digunakan? Berikut ada sejarahnya.




1. Sabuk Juara untuk John L. Sullivan


Pertama kali sabuk juara disematkan pada pinggang juara kelas berat John L. Sullivan (saat itu masih tinju tangan kosong) pada tahun 1887. untuk menghormati pahlawan dari kota mereka, penduduk kota Boston menggalang dana $10,000 untuk membuat penghargaan ini bagi Sullivan. Sabuk berlapis emas itu dihiasi dengan 350 batu permata (kini batu permatanya sudah hilang), dihiasi foto Sullivan dan bendera Irlandia, Inggris dan Amerika Serikat, serta bertuliskan "Presented to the champion of champions by the people of the United States." Sejak tahun 1983, sabuk bersejarah itu disimpan oleh Museum Smithsonian sebagai bagian dari koleksi sejarah olahraga mereka.




2. The Lonsdale Belt

Presiden National Sporting Club of Britain, Lord Lonsdale, mengadakan suatu turnamen tinju pada tahun 1909 di Inggris. Para petinju yang berhasil mempertahankan gelar juara pada turnamen tersebut sebanyak tiga kali berturut-turut, berhak mendapatkan sabuk ini.




3. Sabuk the Ring Magazine

Majalah the Ring didirikan pada tahun 1922, dan mereka disebut sebagai "the Bible of Boxing" karena ulasan-ulasan mereka yang sangat dihormati oleh para pelaku tinju pada masa itu (sampai sekarang). Sabuk the Ring Magazine pertama kali diberikan kepada juara kelas berat Jack Dempsey, dan sabuk kedua diberikan kepada juara dunia kelas terbang (juara dunia pertama dari bumi Asia/Filipina), Pancho Villa. Sejak itu the Ring senantiasa menganugerahi sabuk The Ring Magazine kepada para petinju yang paling hebat. Namun kebiasaan itu terhenti sejak tahun 1990an. Mulai tahun 2002, the Ring Magazine mulai menganugerahkan sabuk the Ring Magazine kepada para petinju terbaik di setiap kelas dengan kriteria yang mereka buat secara ketat.

4. Sabuk Kulit Singa
Ternyata, Sullivan bukan petinju pertama yang menerima penghargaan berupa sabuk. Sebelumnya, di Inggris, sabuk yang terbuat dari kulit singa dianugerahkan kepada Thomas Cribb, juara nasional Inggris. Sabuk tersebut diberikan kepada Cribb pada saat mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia tinju pada tahun 1822. Sabuk tersebut kemudian dibeli oleh Tom Sayers, juara kelas menengah Inggris. 20 Mei 1860, Sayers mengundurkan diri, dan dianugerahi Sabuk "Silver Championship".


Sumber+foto: wikipedia

Thursday, September 15, 2011

15 September 1978



Hari ini, 33 tahun lalu di Superdome, New Orleans, Louisiana, AS, terjadi pertarungan bersejarah antara sang legenda Muhammad Ali vs. Leon Spinks, petinju yang baru saja melucuti mahkota kelas berat milik Ali (sabuk WBA dan WBC kelas berat) pada Februari di tahun yang sama dengan kemenangan angka tipis di Las Vegas. Gelar WBC tidak dipertandingkan, karena sabuk tersebut telah dicopot dari pinggang Spinks sebab dia menolak mempertahankan gelar melawan penantang No. 1 WBC, Ken Norton.

Pertandingan ini adalah kebalikan dari pertandingan pertama. Dalam pertandingan pertama, Ali malas berlatih, sehingga tampil buruk di hadapan petinju yang usianya jauh lebih muda ini. Dalam pertandingan kedua, Spinks yang mabuk kemenangan lebih banyak menghabiskan waktunya di klub-klub malam, menikmati hidup, dan sering meninggalkan sasana tanpa alasan jelas. Sebaliknya Ali mempersiapkan diri dengan baik.



Disaksikan sekitar 63,000 penonton, pertandingan ini berjalan kurang menarik. Sepanjang pertandingan Ali terus melakukan strategi pukul-rangkul. Jab-straight, lalu Ali meraih tengkuk Spinks kemudian dan merangkulnya. Walaupun pertandingan berjalan menjemukan, namun strategi ini berjalan baik buat Ali. Ali juga kembali menampilkan langkah kaki yang enteng dan menari-nari sepanjang pertandingan. Sesuatu yang hilang pada pertandingan Ali vs Spinks 1.



Hasil penilaian sepanjang 15 ronde pada saat itu, 2 hakim menyatakan kemenangan Ali 10-4 dan 1 hakim 11-4, dan Ali dinyatakan menang angka mutlak. Kemenangan Ali ini dicatat dengan tinta emas pertinjuan dunia, Ali dinobatkan menjadi petinju pertama yang menjadi juara dunia kelas berat sebanyak 3 kali.



Hampir setahun sesudah pertandingan ini, tepatnya 6 September 1979, Ali menyatakan mengundurkan diri dari dunia tinju. Jika saat itu Ali tidak tertarik dengan iming-iming Don King untuk mempertemukannya dengan Larry Holmes, tentu sangat baik bagi dia. Sayang, Ali silau oleh rayuan Don King, sehingga dia dipermalukan oleh Holmes. Pasca menyerah dari Holmes pada tahun 1980, Ali kembali turun di Bahama dan kalah angka dari Trevor Berbick.



Sebelumnya, pada tahun 1977, sahabat sekaligus dokter pendamping Ali di Sasana, Dr. Ferdie Pacheco, meninggalkan Sasana milik Ali karena Ali mengabaikan sarannya untuk pensiun dari tinju. Dr. Pacheco memperhatikan gerak Ali mulai melambat dan dari hasil analisisnya serta diskusi dengan beberapa rekan dokter lain, dia menyimpulkan ada suatu masalah besar pada syaraf Ali. Walaupun Pacheco sudah mundur dari Sasana, sebagai sahabat mereka masih saling berhubungan, dan Pacheco terus menasehati Ali agar segera pensiun dari ring.

Monday, May 2, 2011

Sir Henry Cooper Tutup Usia

Mantan juara kelas berat Inggris, Persemakmuran dan Eropa, Sir Henry Cooper (rekor: 40-14-1, 27 KO) wafat dalam usia 76 tahun pada Minggu. 1 Mei 2011. Nama Cooper melejit setelah pada tahun 1963 nyaris "menghabisi' Cassius Clay yang digadang-gadang menjadi calon juara kelas berat masa depan. Saat itu, di stadion "keramat" Wembley Stadium, Clay (sebelum berganti nama menjadi Muhammad Ali) yang mempermainkan Cooper di awal-awal ronde, roboh terkena hook dahsyat Cooper yang menerpa rahangnya pada akhir ronde 4, untunglah Clay tertolong bunyi bel, dan Clay harus dipopoh oleh sang pelatih kembali ke sudutnya. Saat istirahat itulah terjadi kontroversi, karena ada dugaan pelatih Clay, Angelo Dundee, sengaja mengukur-ulur waktu dengan merobek gloves yang dikenakan Clay, dan Ali mendapatkan "keuntungan" beberapa menit, karena diperlukan waktu untuk mencari gloves pengganti. Ada yang berkata jeda waktu berkisar sampai 6 menit yang menguntungkan Clay, namun nyatanya waktu resmi mencatat waktu hanya 65 detik. Namun kontroversi ini dianggap tidak terbukti, dan kubu Ali (Clay) sudah membantahnya. Clay muda kemudian bangkit di ronde 5, dan menghajar Cooper yang bersimbah darah, sehingga pertandingan dihentikan dengan kemenangan TKO untuk Clay.

Sebelum munculnya Lennox Lewis yang fenomenal, Henry Cooper dianggap sebagai petinju terbaik kelas berat asal Inggris. Atas patriotismenya di atas ring tinju, pada tahun 1967, Ratu Inggris menganugerahinya dengan tanda jasa Order of the British Empire - Officer (OBE), dan berhak menyandang gelar Sir, serta pada tahun 2000, dia dianugerahi lagi dengan tanda jasa Knight Bachelor of the Order of the British Empire in the Queen's 2000 Millennium Honours List atas jasa-jasanya dalam bidang olahraga tinju.

Sepanjang sejarah, ada empat petinju yang pernah memukul knockdown Muhammad Ali (Cassius Clay): Sonny Banks, Joe Frazier, Chuck Wepner dan Henry Cooper sendiri.

Sumber: Boxrec

Saturday, May 29, 2010

Fakta Kelas Berat WBC

Informasi Terbaru: Klitschko vs. Sosnowski akan disiarkan langsung oleh TPI Minggu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

Vitali Klitschko adalah juara ke 23 yang menjadi juara dunia kelas berat dalam sejarah WBC, setelah mundur karena cedera, Klitschko bangkit dan mampu menjadi juara kembali (menjadi juara ke 27). Sonny Liston adalah petinju yang pertama kali menjuarai gelar di kelas dan badan tinju paling bergengsi ini. Sudah ada 21 nama petinju yang mampu menjuarai gelar ini, tapi hanya 5 petinju yang mampu meraihnya kembali setelah kehilangan gelar karena berbagai sebab termasuk Vitali Klitschko (plus Muhammad Ali, Mike Tyson, Lennox Lewis, dan Hashim Rahman). Sampai kini, sudah 119 pertandingan perebutan gelar kelas berat WBC digelar di 17 negara dan 44 kota di seluruh dunia.

Pertandingan perebutan gelar Vitali Klistchko vs Albert Sosnowski yang akan digelar 29 Mei di Veltins Arena, Sekirchen, Nordhein-Wesfalen, Jerman, akan menjadi pagelaran perebutan gelar kelas berat WBC yang ke 120 (atau perebutan gelar WBC seluruh kelas yang ke 795) serta yang ke 8 diadakan di Jerman dalam 48 tahun sejarah WBC.

Mampukah Sosnowski mengikutsertakan diri dalan sejarah sebagai nama ke 22 (juara ke 28)yang mampu menjadi juara kelas berat WBC? Ataukah Klitschko mampu memperpanjang dominasinya? Sebaiknya kita tunggu saja tanggal mainnya.

Sumber: WBC

Tuesday, April 27, 2010

30 Tahun lalu: Mike Weaver Kandaskan John Tate

31 Maret 1980 adalah waktu yang tak terlupakan bagi saya dalam menggandrungi olahraga tinju. Itulah saat pertama kali saya, waktu itu saya belum genap 10 tahun, mengikuti dari awal sampai akhir suatu siaran langsung tinju (waktu itu hanya ada TVRI). Pertandingan yang disiarkan adalah John Tate vs. Mike Weaver. Memang, beberapa kali ayah sudah mengajak saya menyaksikan beberapa rekaman pertandingan Muhammad Ali, termasuk melawan Foreman dan Joe Frazier, namun semuanya hanya rekaman. Kala itu beberapa kali rekaman pertandingan Ali diputar di layar raksasa di alun-alun kota Magelang. Tapi untuk nonton siaran langsung, ya baru pertama kali itu.

Ayah dengan penuh antusias menjelaskan bahwa John Tate adalah calon pengganti Muhammad Ali. Dia adalah peraih medali perunggu kelas berat Olimpiade Montreal 1976, kalah di semifinal dari Theofilo Stevenson (Kuba). Nama John Tate muncul ke permukaan tinju pro dunia setelah unggul atas the White Hope Gerry Coetzee dalam kejuaraan WBA kelas berat. Ayah berhasil meyakinkan saya bahwa Tate akan mampu menghajar Weaver.

Analisis ayah hampir akurat, sepanjang 14 ronde Tate menguasai penuh jalannya pertandingan, yang menurut saya membosankan (pendapat saya ini ternyata benar. Setelah saya dewasa, saya banyak membaca artikel-artikel bahwa 14 ronde awal pertandingan ini memang menjemukan). Daya tarik pertandingan ini adalah pada ronde terakhir, ronde 15. Tate yang seharusnya bisa menang mudah, namun harus terjengkang kena hook kanan di rahang, 45 detik jelang berakhirnya pertandingan. Tate ambruk dengan wajah menghadap ke kanvas.

Sampai kini, pertandingan membosankan itu justru dianggap sebagai partai klasik, dan masih sering dikutip oleh para pecandu tinju, jika ada pertandingan yang agak menjemukan dan salah seorang petinju yang sudah unggul angka pada sebagian besar ronde dengan mutlak, namun ternyata malah 'kecurian' KO pada detik-detik jelang usai ronde terakhir, maka pertandingan tersebut sering disebut sebagai partai ala Tate vs. Weaver. Usai kekalahan KO itu, ayah saya menggebrak meja karena terkejut dengan peristiwa dramatis tersebut, saya hanya bisa ikut terkejut, tanpa tahu maknanya, selain saya hanya tahu bahwa Tate kalah KO.

Big John Tate, petinju berpostur tinggi besar, selain memiliki tinggi badan 193 cm. juga memiliki boxing skill yang sangat baik. Dia memang sangat meyakinkan untuk tampil sebagai penerus Muhammad Ali. Namun takdir berkata lain. Setelah kekalahan tersebut, Tate kembali dipukul KO oleh Trevor Berbick, dan selanjutnya dia hanya tampil dalam partai-partai kecil, dan gagal merengkuh kesempatan meraih kembali sabuk kelas beratnya.

Kematian John Tate
Tak kalah dengan karirnya yang gelap, nyawa petinju kelahiran Marion, Arkansas, 29 Januari 1955 inipun berakhir tragis. Tate mati muda dalam usia 43 tahun, akibat tumor otak. Saat mengendarai mobil, stroke akibat tumor itu menyerangnya, dan mobilnya terjebur ke dalam sebuah kolam. Pihak medis menyatakan bahwa Tate juga mengkonsumsi kokain selama 24 jam sebelum kematiannya tersebut.

Sebelum kekalahan Tate dari Weaver, Muhammad Ali sempat diberitakan akan kembali ke ring untuk meladeni kehebatan petinju muda berbakat ini. Namun karena kekalahan itu, Ali harus merevisi jadwalnya, dan dia 'turun gunung' melawan mantan sparring partner nya, yakni juara dari versi WBC, Larry Holmes, 2 Oktober 1980.

(dari berbagai sumber)

Friday, November 20, 2009

Kelas Bantam dari Indonesia

Tahukah Anda, bahwa istilah kelas bantam itu menurut etimologi (ilmu asal usul kata), jika diurut, berasal dari Indonesia? Ceritanya begini.

Menurut ethymology online, bantam yang arti harafiahnya dalam bahasa Inggris adalah sejenis unggas (ayam) kecil yang dikenal oleh bangsa Eropa sebagai binatang hasil ekspor para pedagang Eropa dari salah satu wilayah di (waktu itu) Hindia Belanda pada sekitar tahun 1700'an. Istilah "Bantam" sendiri adalah berasal dari nama salah satu kota di wilayah barat pulau Jawa, yang pada masa itu merupakan salah satu pusat perdagangan yang terkemuka, yang merupakan sumber ekspor unggas lucu ini, yakni Bantam Regency (mungkin disesuaikan dengan lafal orang Eropa), pada masa kini kita kenal sebagai Banten. Unggas mini itu kita kenal sebagai ayam kate, yang memang merupakan binatang khas daerah ini.

Kata "bantam" yang dalam bahasa Inggris artinya unggas mini itu kemudian berkembang artinya dalam bahasa Inggris sebagai orang kate (kecil, pendek), dan kemudian dikenal sebagai kelas yang diperuntukkan bagi para petinju yang bertubuh kecil. Dalam tinju modern, kelas bantam mulai dipertandingan secara resmi pada tahun 1889, antara Chappy Moran melawan Tommy Kelly, waktu itu kelas bantam dipertandingkan pada berat 110 lbs. Baru pada tahun 1910, badan tinju di Inggris menentukan batas berat resmi kelas bantam adalah 118 lbs. atau 53.5 kg., yang berlaku sampai sekarang.

Secara kebetulan, kebanyakan petinju Indonesia berkecimpung di kelas bantam ini, dan cukup banyak yang berprestasi secara internasional, karena memang sesuai rata-rata ukuran badan orang Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, juara dunia yang pertama kali kita miliki, Ellyas Pical, merupakan juara IBF di kelas bantam yunior. Kebetulan pula, penulis ini tinggal di propinsi Banten, alias Bantam.
-----------
(Foto: Ellyas Pical saat menjadi juara dunia IBF kelas bantam yunior, kini tinggal di wilayah Propinsi Banten).

Friday, October 16, 2009

Hidup Bagaikan Roda Pedati

Judul di atas merupakan sebuah petuah kuno yang mengingatkan kita, bahwa nasib seseorang bisa saja mendadak atau secara perlahan berubah. Yang posisinya tadinya di atas, bisa jadi di bawah, jadi saat kita berada di atas, hendaknya kita senantiasa menghargai orang yang berada di bawah.

Pepatah tersebut berlaku pada kisah petinju Inggris awal tahun 1900'an, Sid Burn dan Ted "Kid" Lewis. Saat itu Burn merupakan petinju Inggris yang terkenal dan banyak penggemarnya, tentu saja hidup mewah dan bergelimang harta. Untuk latihannya, dia mengupah Ted "Kid" Lewis sebagai lawan sparring partnernya. Dalam latihan itu, Burn memperlakukan Lewis begitu buruk, penuh hinaan, caci maki dan tamparan jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Tahun demi tahun berlalu, Lewis tumbuh menjadi petinju hebat, bahkan mampu menjadi juara dunia kelas welter pada masa itu. Sedang Burn yang prestasinya sudah memudar, jatuh bangkrut. Lewis yang ingat masa lalunya yang pahit saat bersama Burn, mengajak Burn berlatih bersamanya, dan dia memberlakukan Sid Burn sama buruknya pada saat Burn memberlakukan dia di masa lalu.

Tentunya kita bersama-sama bisa memetik moral dari kisah nyata ini.

Sumber: My boxing trvia collection
--------
Ted "Kid" Lewis, (1893-1970), kelahiran London, berkarier tinju profesional selama 20 tahun (1909-1929), dengan rekor 235 pertandingan, 193-15-11, 80 KO. Sekitar tahun 1914-1918, Lewis berhasil merengkuh juara dunia kelas welter. Pertandingannya yang paling dikenal adalah saat melawan Jack Britton (AS) hinga 20 kali pertandingan. (boxrec)

Tuesday, August 4, 2009

Kongres AS Setujui Pengampunan Bagi Jack Johnson

Jack Johnson (1878-1946) adalah juara dunia tinju berkulit hitam pertama, anak dari keluarga budak di Texas. Dalam catatan rekornya, dia mulai bertarung secara resmi tahun 1897 pada usia 19 tahun, meski banyak catatan lain yang menyebutkan dia telah bertarung sebagai petinju bayaran ilegal lama sebelumnya.

Pada masa itu, ras dan warna kulit masih begitu kental mewarnai keadaan politik di AS. Johnson yang berkulit hitam sulit mendapat tempat dalam olahraga yang pada waktu itu banyak digeluti oleh kaum kulit putih. Untuk itu, diciptakan gelar khusus, yakni "Juara Dunia kelas berat untuk Kaum Kulit Berwarna" (World Colored Heavyweight Title) yang dia rengkuh pada tahun 1903 dengan kemenangan angka 20 ronde atas Denver Ed Martin.

Jack Johnson akhirnya merengkuh glar sebagai juara dunia kelas berat sejati setelah menundukkan juara dunia Tommy Burns dengan angka ronde 14 di Sydney, Australia, 26 Desember 1908. Dia juga menjadi pionir sebagai juara dunia tinjui pertama yang berkulit hitam. Gelar Johnson terlepas darinya pada tahun 1915, setelah dipukul KO oleh Jess Willard pada ronde 26 dari rencana 45 ronde di Havana, Kuba. Setahun setelah pertandingan ini, Johnson mengaku mengalah setelah mendapat tawaran sejumlah uang.

Sebelumnya, pada tahun 1913, Johnson divonis bersalah oleh pengadilan, karena dia sudah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita kulit putih. Tidak menerima keputusan kontroversal tersebut, Johnson kabur dari Amerika, dan mengadakan pertarungan mempertahankan gelarnya beberapa kali di luar negeri.

Johnson akhirnya mau kembali ke pangkuan Paman Sam dengan menjalani hukuman penjara 10 bulan. Adalah Jack Curley, manajer Jess Willard, yang memberikan 'janji surga' kepada Johnson. Dia mengatakan kepada Johnson bahwa dia memiliki koneksi bagus dengan pemerintah AS, sehingga dia bisa membuat Johnson terhindar dari hukuman penjara di AS, asal dia mau bertarung melawan Jess Willard. Omongan Curley ternyata terbukti bualan saja, karena toh Johnson tetap dipenjara setibanya kembali di tanah airnya, AS. Ada dugaan, namun tidak ada pembuktian ataupun pengakuan resmi dari manapun, kalahnya Johnson dari Willard adalah bagian dari janji-janji surga Jack Curley, selain uang suap yang diakui Johnson belakangan. Saat di dalam masa tahanan, dalam catatan boxrec, ada beberapa pertandingan Johnson yang dilakukan di dalam penjara di negara bagian Kansas.

Sekeluar dari penjara, Johnson mencoba mengukir karir tinjunya lagi, namun gagal menjadi juara dunia kembali, sampai akhirnya pensiun di tahun 1938. Johnson meninggal pada usia 68 tahun akibat kecelakaan lalu lintas.

Atas peristiwa hukum berbau rasial di tahun 1913 itu, baru-baru ini, Kongres AS baru saja menyetujui resolusi untuk memberikan pengampunan atas vonis di tahun 1913 tesebut. Uniknya, resolusi ini pertama kali disponsori oleh eks lawan Barack Obama, Presiden AS kulit hitam pertama kali, Senator John McCain, dari Partai Republik.

"Saya bahagia bahwa Kongres AS telah menyetujui dikeluarkannya resolusi ini terhadap Jack Johnson, petinju kelas berat terbaik pada masanya, sehingga dia pantas mendapatkan pengampunan atas keputusan bersalah yang diterimanya pada tahun 1913," kata Senator McCain dalam sambutannya.

Upaya pengampunan Johnson juga tak terlupakan merupakan usaha Ken Burns, yang membuat film dokumenter mengenai ohnson berjudul "Unforgivable Blackness: The Rise and Fall of Jack Johnson" pada tahun 2005.

Sumber: Washington Post

Sunday, September 7, 2008

Sejarah Pelindung Gigi

Pelindung gigi atau gum shield ditemukan oleh seorang dokter gigi yang juga penggemar tinju asal London, Jack Marles pada tahun 1902. Pada masa itu, pelindung gigi temuan drg. Marles hanya digunakan untuk mencegah luka di gusi atau mulut pada saat latihan. Petinju pertama yang tercatat menggunakan pelindung gigi dalam suatu pertandingan resmi adalah Ted "Kid" Lewis , petinju Inggris, juara dunia kelas welter tahun 1916-1918. Namun penggunaan pelindung gigi itu banyak mendapat tantangan dari berbagai pihak, termasuk pada tahun 1928, wasit memerintahkan untuk melepas pelindung gigi yang digunakan Lewis dan lawannya, Charley Bellanger. Lewis yang tidak setuju dengan keputusan wasit itu memutuskan mengundurkan diri, dan dinyatakan kalah diskualifikasi.

Sebelum pelindung gigi lazim dipakai dalam pertandingan tinju, banyak petinju masa itu yang menggunakan kulit jeruk di sela antara gusi dan bibir, sebagai peredam dan pencegah luka/pecahnya bibir akibat benturan dengan gigi saat wajahnya terkena hantaman pukulan lawan.

Jeffrey's trivia collection

Thursday, May 3, 2007

Boskbond Batavia Cikal Bakal KTI

Kompas, Minggu, 8 April 2001

BOKSBOND Batavia En Omstreken yang berkantor di Postweg Noord 11, Batavia, adalah cikal bakal organisasi tinju di Indonesia. -->Para marinir Belanda yang bertugas di Indonesia pada zaman penjajahan, bertinju sesama mereka karena masih tabu jika dikalahkan petinju inlander. Namun, ada satu petinju pribumi yang dengan tekun dan rutin berlatih, yakni Kid Darlin. Dia dilatih Jimmy Kick Stall, bersama petinju Belanda.
Akhirnya Kid Darlin mendapat lisensi untuk bertanding. Jadilah ia sebagai petinju pribumi pertama yang tampil di atas ring untuk bertanding melawan petinju penjajah. Mencontoh Kid Darlin, kemudian menyusul banyak pemuda Indonesia lainnya yang berlatih tinju dan pertandingan tinju pada zaman penjajahan semakin marak.

Tempat pertandingan biasanya berlangsung di Princen Park, Deca Park, Pasar Gambir, dan Bioskop Sawah Besar di Jakarta. Di Bandung, terselenggara Jaarbis dan Jaarmark di Surabaya, serta pada hampir setiap pasar malam di Semarang dan Medan.

Tersebutlah nama-nama beken di ring tinju yang masih belum dibedakan antara amatir dan profesional. Fighting Tiger, Kid Bellel, Young Sattar, dan Kid Darlin, serta yang lainnya. Mereka berasal dari Jimmy Kick Stall, Joe Eagle Stall, Ketteng Oliver Stall, Fighting Mick Stall, sasana tinju yang berdiri waktu itu. Untuk memeriahkan pertandingan antara Tan Gue Tek melawan Ricks di Jakarta pernah Max Scemeling, juara dunia tinju kelas berat saat itu, untuk menjadi wasit.
Organisasi tinju di Indonesia menjadi tak ada ketika kita meraih kemerdekaan, pertandingan tinju berlangsung pada setiap pasar malam. Pihak kepolisian kesulitan untuk memberikan izin karena tidak ada organisasi yang membina serta bertanggung jawab atas penyelenggaraan tersebut. Pihak kepolisian pula yang didatangi oleh para petinju dan manajer untuk menjadi pengurus organisasi tinju. Maka, berdirilah Pertigu (Persatuan Tinju dan Gulat) dengan SK Menkeh Nomor IA3/48/16/28 April 1955, dengan ketua pertamanya Frans Mendur.

***

KIBLAT politik Indonesia yang dekat dengan blok timur pada tahun 60-an dan di negara-negara sosialis tinju profesional amat dilarang, maka dengan SK No 5/25 November 1961, Menteri Olahraga selaku Komando Gerakan Olahraga melarang diselenggarakannya pertandingan tinju prof di Indonesia.

Banyak petinju kita pada waktu itu meneruskan karier bertinjunya di luar negeri, seperti Bertje Coldenhoff berkarier di Singapura dan Malaysia. Adalah SK Gubernur KDKI Jaya Nomor 8/1/ 39/ 1970 yang memperbolehkan pertandingan tinju profesional dilangsungkan di Jakarta.

Gubernur Ali Sadikin mendapat masukan dari kalangan pertinjuan tentang nasib petinju yang terkatung-katung karena tidak boleh bertanding serta tidak memiliki mata pencarian. Akhirnya lahirlah Peraturan Pemerintah Nomor 63 tanggal 2 Oktober 1971 yang mengatur organisasi tinju profesional di Indonesia dan terpilih sebagai ketua KTI (Komisi Tinju Indonesia) pertama, Drs Legowo.

Dalam perjalanannya, kehidupan ring tinju profesional mengalami pasang surut yang signifikan. Sejak diperbolehkannya kembali pertandingan tinju profesional, gejolak membina prestasi dengan sisa-sisa petinju lama yang ada menjadi bergairah. Petinju muka lama seperti Freddie Ramchie, Kid Bellel, MS Pagi masih menjadi bintang. Petinju-petinju muka baru seperti Rudy Siregar, Wongso Suseno, yang mantan petinju amatir ikut meramaikannya.

***

PARTAI pertandingan Rudy Siregar melawan Kid Bellel di Stadion Tambaksari, Surabaya, pertengahan dekade 1970-an sebagai yang terbesar dengan penonton yang memenuhi total stadion untuk pertandingan sepak bola itu.

Wongso Suseno menjadi bintang pada dekade 1970-an karena selain merebut gelar OPBF dia juga sempat menduduki peringkat ke-9 WBC setelah mengalahkan petinju Argentina Jose Gimenez. Prestasi spektakuler dicetak oleh Ellyas Pical pada tanggal 3 Mei 1985 setelah memukul KO Judo Chun dari Korea Selatan.

Prestasi Ellyas Pical pada dekade 80-an terkenal di seluruh dunia, seperti Thomas Americo, Juhari, Polly Posireron, Henky Gun, Lamhot Simamora, Marianus, dan Johannes Nanlohi. Ketika Ellias Pical menjadi juara dunia, booming tinju profesional terjadi.

Petinju-petinju amatir hampir secara keseluruhan di Jawa Timur beralih menjadi petinju profesional. Demikian juga pada daerah lainnya. Partai-partai pertandingan kejuaraan tinju dunia kelas bantam-yunior antara Ellyas Pical melawan lawan-lawannya hampir secara keseluruhan ditayangkan secara langsung oleh TVRI saat itu. Sehingga prestasi dan aksi Ellyas Pical bisa disaksikan oleh lebih dari separuh rakyat Indonesia. Hampir semua tayangan tersebut tidak pernah menghasilkan uang dari TVRI buat promotor pertandingan. Memang ada bantuan biaya waktu itu dari SDSB, tetapi tidak begitu besar.

(Syamsul Anwar Harahap/Kompas)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.