Penulis: Herry W. Sulaksono
Setelah meninggalnya P. Setijadi Laksono dan Herry Aseng Sugiarto - dua tokoh tinju Jawa Timur – perkembangan tinju bagai mundur 20 tahun. Sebenarnya fenomena ini bukan hanya terjadi di Jawa Timur tetapi sudah menjadi gejala umum di Indonesia. Namun Jawa Timur yang pernah menjadi tolok ukur perkembangan tinju nasional sangat terasa pengaruhnya.
Saat ini sangat jarang digelar pertandingan. Dari catatan penulis dalam kurun waktu 2006-2007 hanya terlaksana tujuh kali pertandingan. Itupun hanya di bawah pengawasan Komisi Tinju Indonesia (KTI). Dua badan tinju lain, Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) dan si bungsu Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) kurang ada kiprahnya di Jawa Timur. Hal ini membuktikan banyaknya badan tinju tidak signifikan dengan perkembangan kegiatan dan prestasi petinju.
Bandingkan dengan ketika kedua tokoh itu masih hidup. Setiap bulan rata-rata ada dua atau tiga kali pertandingan tinju di Jawa Timur, atau paling tidak pertandingan tinju di Jakarta atau tempat lain yang melibatkan petinju dan wasit tinju Jawa Timur. Ibaratnya mereka tidak kehabisan order dan bisa menggantungkan hidup dari tinju professional.
Seiring dengan surutnya pertandingan, seleksi alam bicara. Sasana-sasana besar satu persatu bubar atau hanya tinggal nama. Diawali dengan Sawunggaling, kemudian Akas dan lainnya. Kini hanya tinggal beberapa yang masih bertahan karena didukung pendanaan yang masih kuat seperti Pirrih BC, Semen Gresik BC dan Mirah BC Banyuwangi. Sasana-sasana kecil sebenarnya masih ada namun tidak lagi mengasramakan petinju, apalagi memberikan uang saku bulanan.
Petinju hanya diberi kesempatan berlatih saja. Itupun jika mau. Jika malas berlatihpun tidak ada sanksi. Mau bagaimana lagi?! Pemasukan sasana sangat minim. Pertandingan sangat jarang. Belum tentu seorang petinju dalam setahun dapat kesempatan walau hanya sekali. Latihan saja tanpa ada petandingan lalu makan apa? Otomatis mereka mundur dengan teratur: Mencari pekerjaan lain.
Bukan hanya petinju yang kehidupannya mengalami kemunduran secara ekonomis. Para wasitpun demikian. Dulu ketika masih banyak pertandingan seorang wasit bisa tiga bahkan empat kali memimpin pertandingan. Paling sering mereka memimpin pertandingan yang dilaksanakan di stasiun televisi, baik itu di Indosiar, RCTI, SCTV dan JTV. Kini hanya Indosiar saja yang masih rutin menyelenggarakan Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI), setiap Kamis tengah malam. Namun semua wasit Jawa Timur tersingkir dari sana karena yan memimpin pertandingan wasit dari KTPI sementara wasit Jawa Timur bertahan di KTI dan ATI.
Dulu ada sorang wasit berprofesi sebagai pengajar di sekolah swasta dengan status guru tetap. Karena terlalu seringnya jadi wasit ia jadi sungkan kepada guru lain dan muridnya. Ia pun mengundurkan diri dari profesi pendidik dan terjun seratus persen ke dunia tinju. Keputusannya (saat itu) benar. Perekonomiannya meningkat. Profesi sebagai wasit bisa menghidupi keluarga.
Saat ini, seiring dengan minimnya pertandingan, kini ia kelimpungan. Pertandingan bisa ditunda tapi makan tidak. Akhirnya ia mencoba profesi baru sebagai makelar. Baik itu sepeda motor, HP, burung berkicau dan apa saja ia “embat”. Yang penting halal dan dapur tetap ngebul. Sedangkan wasit yang berprofesi sebagai PNS atau guru sekolah negeri, selamat. Mereka bisa menekuni profesi lamanya walau wajahnya kini jarang masuk TV.
Para petinju juga begitu. Karena tidak ada pertandingan mereka mencari pekerjaan lain. Ada yang jaga parkir, satpam, mendaftar tentara, anggota Satpol PP hingga jadi tukang tagih. Sebenarnya semangat mereka cukup besar. Latihan juga masih rutin. Namun tuntutan perut mengalahkan segalanya. Latihan thok kan gak mangan. Begitu jika ditanya alasan mengapa tidak latihan seaktif dulu.
Masih Ada harapan
Kendati secara kuantitas pertandingan di Jawa Timur, bahkan di Indonesia makin merosot, tetapi masih ada petinju yang diharapkan meraih prsstasi. Sebut saja Irvan Ogah dan Sofyan Efendi, keduanya dari Pirrih BC serta Aldo Hummer dari Semen Gresik. Irvan dan Aldo masih memegang sabuk juara Indonesia versi KTI, Bahkan Aldo tanggal 14 November ini akan bertanding di Jepang melawan Kazayuki Ichikawa dalam partai perbakan peringkat OPBF (Oriental Pacific Boxing Federation). Irvan dan Sofyan beberapa waktu lalu juga bertanding di Filipina walau kalah.
Di lapis kedua masih ada Wido Paez dan Victor Mausul (Malang), M Yusuf dan Iko Sambung (Jember), Bogi GoNzales (Tulungagung), Firdaus (Probolinggo) Muhadin dan Rocky (Grasik), Andi dan Thomas (Banywangi). Mereka adalah petinju-petinju yang siap tanding saat ini. Usianya pun maih muda. Ada pula Petinju bernama Ricky Morales dari Banyuwangi sekarang “diambil” Craig Christian pemilik Harry’s Gym Australia untuk berlatih di sana. Sementara beberapa petinju senior seperti La Amir dan Sony Manakane yang sempat berjaya ketika promotor Aseng masih hidup kini hilang bak di telan bumi.
Beberapa tokoh tinju juga masih konsisten membina petinju-petinju muda. Yani Malhendo masih melatih di sasana Rokatenda (Surabaya), H. Abu Dhori dan H. Nurhuda melatih petinju muda di Malang. Mudafar masih setia di Piirih BC. Begitu pula dengan Terry Joe tetap setia mendampingi M. Rachman berlatih di kaki Gunung Kelud, Nglegok Blitar. Anis Roga juga ikut terjun membina petinju muda, tetapi ia masih berpindah-pindah. Ia sempat melatih di Guyub Rukun BC Tulungagung. Lalu pindah ke Lumajang. Sekarang kabarnya ia di Surabaya.
Artinya, mereka tetap punya semangat. Gairah dan semangat mereka akan menggelora lagi jika ada pertandingan. Ke manapun akan dikejar. Pada beberapa kesempatan penulis masih sering bertemu para tokoh tinju itu. Biasanya mereka berkumpul di ruang ganti. Sekadar bertemu teman lama , memberi semangat dan berbagi pengalaman dengan petinju muda yang akan bertanding.
Namun apa artinya semangat tanpa ada pertandingan. Lama-lama semangat akan layu bagai bunga mawar yang tidak disiram. Layu lalu mati. Kalaupun ada yang hidup dan bersemangat lagi tentunya bukan mereka tetapi generasi sesudahnya. Regenerasi tidak berkesinambungan.
Ring Rutin
Ketika almarhum Setijadi Laksono masih hidup, dialah orang paling rajin melakukan inovasi untuk mencetak juara. Ide-ide Setijadi inilah yang harus dimiliki oleh penerusnya. Sayangnya hingga kini belum ada yang mewarisi ide-ide cemerlangnya.
Setijadi sadar seorang juara itu harus dicetak. Bukan muncul dengan sendirinya. Seperti seorang anak, petinju harus diajari, dilatih, dituntun dan diarahkan. Seorang calon petinju harus diberi kebanggaan dan rasa percaya diri. Untuk membentuk rasa percaya diri itulah seorang petinju harus rajin bertanding. Ia pun melakukan inovasi. Bersama PMTI (Persatuan Manajer Tinju Indonesia) di mana ia menjadi sekjennya, dilaksanakalah kejuaraan nasional empat ronde, lalu enam ronde.
Dari pertandingan-pertandingan itu banyak lahir petinju bagus, di antaranya Junai Ramayana, Yani Malhendo, Agus Ekajaya hingga Dobrak Arter. Bagi petinju yang tidak terakomodasi dalam kejuaraan nasional, Setijadi mengadakan kejuaraan Jawa Timur. Ada kejuaraan Brawijaya untuk juara Jawa Timur delapan ronde, ada Kejuaraan Gajah Mada untuk juara Jawa Timur sepuluh ronde. Setijadi bersafari dari kota ke kota. Bahkan di kota kecamatan seperti Mojosari ia pernah mengadakan pertandingan.
Dari pertandingan-pertandingan kecil yang diselenggarakan secara rutin inilah banyak lahir juara. Bahkan Adrian Kaspari, Anis Roga dan M Rahman menjadi juara dunia hasil dari pertandingan rutin yang diselenggarakan Aseng. Chris John pun produk ring rutin di GTPI. Mulai dia bertanding empat ronde, masuk peringkat, juara Indonesia, juara PABA hingga juara dunia, sebelum ia bergabung dengan Harry’s Gym Australia.
Jika kini ring rutin sudah amat jarang, bahkan di Surabaya tidak pernah ada lagi pertandingan, bagaimana bisa muncul juara? Beberapa tahun lalu JTV pernah menyelenggarakan pertandingan rutin dengan promotor Erick dan Mona Pirrih. Sayang sekali kegiatan itu sekarang tidak berlanjut. Satu-satunya yang diharapkan sebagai ring rutin adalah GTPI di Indosiar. Namun jarang petinju Jawa Timur yang bertanding di sana. Seorang tokoh tinju mengungkapkan, pihak GTPI saat ini hanya bisa membayar petinju Rp 1 juta all in. Biaya ini hanya cukup membayar ongkos bus malam Surabaya – Jakarta. Doa orang, petinju dan pelatih. Sisanya seperti makan, hotel dan bayaran petinju harus ditanggung sendiri olah sasana atau manajernya.
Di tengah “krisis” seperti ini dibutuhkan orang yang “gila tinju”. Yaitu orang yang punya dana dan siap untuk tidak kembali modal sebab sponsor sekarang sudah enggan. Mengharapkan dana penonton? Jangankan pertandingan kelas pembinaan, kejuaraan dunia yang menampilkan M Rahman atau Chris John saja gratis. Itupun penontonnya tidak penuh. Apalagi dikarciskan. Jika tidak ada “dewa penyelamat” kemungkinan lima tahun lagi tinju pro Jawa Timur benar-benar mati. Tidak ada lagi petinju muda yang mau berlatih. Sedang yang tersisa sudah pensiun. Siapa yang mau jadi penyelamat?.
Thursday, January 17, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
No comments:
Post a Comment