Inilah rekor rekor petinju Indonesia dari masa ke masa:Tinju Amatir
1. Hock Chiang Wei, Johnny Bolang (kakak Boy Bolang) dan Wahyu Wahmana
Mereka adalah tiga petinju yang pertama kalinya dalam sejarah mewakili Indonesia bertanding pada kejuaraan Olimpiade. Trio petinju itu bertanding di Olimpiade Roma 1960 (saat itu Cassius Clay jr. alias Muhammad Ali berhasil meraih medali kelas berat
ringan). Sayang, ketiga petinju Indonesia itu kalah pada penampilan pertama mereka.
2. Ferry Moniaga:
ringan). Sayang, ketiga petinju Indonesia itu kalah pada penampilan pertama mereka.2. Ferry Moniaga:
Petinju Indonesia pertama (amatir) yang mampu menembus babak delapan besar Olimpiade. Ferry menduduki peringkat 5 Olimpiade Munich (1972) kelas bantam. Di ajang itu Ferry menang angka atas René Silva (Nikaragua), Joe Destimo (Ghana), dan kalah dari Orlando Martinez (Kuba) di babak perempat final. Martinez akhirnya berhasil meraih emas kelas bantam, dan sesuai peraturan, Ferry Moniaga ditetapkan sebagai peringkat 5 dalam event itu, karena kalah dari petinju peraih emas.
Prestasi mencapai babak perempat final (atau babak delapan besar) juga dilanjutkan oleh petinju:
Prestasi mencapai babak perempat final (atau babak delapan besar) juga dilanjutkan oleh petinju:
- Alberth Papilaya (kelas menengah), Olimpiade Barcelona (1992). Papilaya mengalahkan Robert Buda (Polandia), Makoye Isandua (Tanzania), dan kalah oleh Lee Sung-bae (Korea Selatan) di babak perempat final.
- La Paene Masara (kelas layang) , Olimpiade Atlanta (1996) yang mengalahkan Jesus Martinez (Meksiko) dan kalah dari Rafael Lozano (Spanyol) di perempat final.
La Paene Masara juga terjun ke Olimpiade Sydney (2000), berhasil mengalahkan Ivan Calderon (kini juara dunia tinju profesional WBO kelas terbang yunior) di babak pertama, namun nkalah dari Kim Suk-kim (Korea Selatan) di babak kedua.
Tinju Profesional
Wongso Suseno:
- La Paene Masara (kelas layang) , Olimpiade Atlanta (1996) yang mengalahkan Jesus Martinez (Meksiko) dan kalah dari Rafael Lozano (Spanyol) di perempat final.
La Paene Masara juga terjun ke Olimpiade Sydney (2000), berhasil mengalahkan Ivan Calderon (kini juara dunia tinju profesional WBO kelas terbang yunior) di babak pertama, namun nkalah dari Kim Suk-kim (Korea Selatan) di babak kedua.
Tinju Profesional
Wongso Suseno:
Petinju profesional Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar juara internasional. Wongso berhasil merebut gelar OPBF (Orient Pacific Boxing Federation) – gelar juara regional Asia Pasifik - setelah mengalahkan Lee Chang-kil (Korea Selatan) dengan angka di Jakarta, 28 Juli 1975. Setelah mempertahankan gelar sebanyak dua kali di Jakarta, gelar itu melayang setelah dikalahkan angka oleh Moises Cantoja (Filipina) , pada 29 September 1977, juga di Jakarta.
Thomas Americo (kelahiran Timor Timur):
Thomas Americo (kelahiran Timor Timur):
Petinju profesional Indonesia pertama yang mendapatkan kesempatan menantang juara dunia. Americo menantang juara dunia WBC kelas welter Saoul Mamby (AS) di Istora Senayan, Jakarta, 29 Agustus 1981. Sayang, Americo kalah angka mutlak selama pertandingan 15 ronde yang didominasi oleh Mamby.
Ellyas Pical
Ellyas Pical
Empat tahun setelah Thomas Americo, tepatnya 3 Mei 1985, Ellyas Pical menjadi petinju Indonesia kedua yang menantang juara dunia. Kali ini, Ellyas Pical berhasil memukul KO ronde 8 juara bertahan Ju-do Chun (Korea Selatan), juga di Istora Senayan Jakarta, sekaligus merebut gelar juara dunia IBF kelas bantam yunior.Selain sebagai juara dunia pertama kali dari Indonesia, Ellyas Pical juga memegang rekor sebagai berikut:
1. Petinju profesional Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar juara internasional di luar negeri: Pical merebut gelar OPBF kelas bantam yunior yang lowong di Seoul, Korea Selatan dengan mengalahkan angka Chung Hi-young.
1. Petinju profesional Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar juara internasional di luar negeri: Pical merebut gelar OPBF kelas bantam yunior yang lowong di Seoul, Korea Selatan dengan mengalahkan angka Chung Hi-young.
2. Meraih gelar juara dunia terbanyak di Indonesia. Beberapa kali Ellyas Pical menang dan kalah dalam perebutan gelar juara, sehingga Pical menjadi petinju Indonesia pertama yang menjadi juara dunia sebanyak tiga kali (1985-1986, 1986-1987 dan 1987-1989).
3. Juara dunia asal Indonesia pertama yang berhasil mempertahankan gelar di luar negeri. Pical berhasil mempertahankan gelar di Singapura pada 25 Februari 2002 dengan mengalahkan Mike Phelps (AS). Ini juga adalah kejuaraan dunia tinju pertama yang digelar di Singapura.
Nico Thomas:
Nico Thomas:
Juara dunia tinju profesional kedua yang dimiliki Indonesia, setelah menang angka atas Samuth Sithnaruepol (Thailand) pada 17 Juni 1989, dan merebut gelar juara dunia kelas terbang mini versi IBF. Sayang, gelar tersebut melayang, setelah Nico Thomas dikalahkan oleh Eric Chavez (Filipina) dengan angka pada 21 September 1989.
Dengan demikian, Nico Thomas adalah pemegang rekor juara dunia asal Indonesia yang menyandang gelar paling singkat waktunya (96 hari atau 13 minggu dan 5 hari).
Chris John:
Chris John:
Juara dunia tinju kelas bulu versi WBA sejak 26 September 2003, saat dia mengalahkan Oscar Leon (Kolombia) di Bali (merebut gelar juara interim kelas bulu versi WBA) memegang beberapa rekor:
1. Sampai 5 Maret 2008 (saat tulisan ini dibuat), Chris John sudah tampil dalam 10 kali perebutan gelar dunia, termasuk 9 kali mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu versi WBA miliknya.
2. Tiga kali mempertahankan gelar di luar negeri, dan semuanya berhasil dimenanginya
- 4 Juni 2004: Menang angka atas Osamu Sato di Tokyo, Jepang, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu.
- 7 Agustus 2005: Menang TKO ronde 10 atas Tommy Browne di Penrith, NSW, Australia, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu
- 19 Agustus 2007: Menang TKO ronde 9 atas Zaiki Takemoto di Kobe, Jepang, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu
3. Sejak 26 September 2003 (saat Chris John memenangi gelar WBA interim di Bali) sampai dengan 5 Maret 2008 (saat tulisan ini dibuat), Chris John sudah menjadi juara dunia kelas bulu versi WBA selama 1,622 hari atau 231 minggu dan 5 hari.
Atas deretan prestasi dan rekor yang telah dicapainya, boleh dikatakan Chris John adalah petinju terbaik yang dimiliki Indonesia.
Muhammad Rachman
- 4 Juni 2004: Menang angka atas Osamu Sato di Tokyo, Jepang, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu.
- 7 Agustus 2005: Menang TKO ronde 10 atas Tommy Browne di Penrith, NSW, Australia, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu
- 19 Agustus 2007: Menang TKO ronde 9 atas Zaiki Takemoto di Kobe, Jepang, mempertahankan gelar juara WBA kelas bulu
3. Sejak 26 September 2003 (saat Chris John memenangi gelar WBA interim di Bali) sampai dengan 5 Maret 2008 (saat tulisan ini dibuat), Chris John sudah menjadi juara dunia kelas bulu versi WBA selama 1,622 hari atau 231 minggu dan 5 hari.
Atas deretan prestasi dan rekor yang telah dicapainya, boleh dikatakan Chris John adalah petinju terbaik yang dimiliki Indonesia.
Muhammad Rachman
Petinju kelahiran Merauke, 23 Desember 1971, adalah (mantan) juara dunia kelas terbang mini versi IBF. Ada beberapa rekor yang diciptakan Rachman:
1. Rachman merupakan petinju Indonesia tertua yang merebut gelar juara dunia. Dia berusia 32 tahun, 8 bulan dan 22 hari saat merebut gelar juara kelas terbang mini IBF dengan mengalahkan Daniel Reyes (Kolombia) di Jakarta, 14 September 2004. Setelah itu Rachman berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak 3 kali, sebelum akhirnya kalah angka atas petinju Filipina, Florante Condes di Jakarta, 7 Juli 2007.
2. Sampai 7 Juli 2007, saat dia dikalahkan Condes, usia Rachman adalah 35 tahun, 6 bulan dan 14 hari, merupakan rekor petinju Indonesia paling tua yang memegang gelar juara dunia.
Bahkan usia tersebut menjadi rekor dunia baru sebagai petinju tertua yang menjadi juara di kelas terbang mini. Rekor sebelumnya dipegang oleh Ricardo Lopez (Meksiko) yang berusia 33 tahun, 2 bulan 7 hari saat memutuskan melepas gelar juara kelas terbang mini IBF miliknya, dan memutuskan naik ke kelas terbang yunior memperebutkan gelar melawan Will Grigsby pada 2 October 1999
Roy Mukhlis
Roy Mukhlis
petinju kelahiran Sumba dan kini bernaung di sasana Bank Buana Semarang, asuhan pelatih bertangan dingin Sutan Rambing, adalah petinju Indonesia pertama yang berhasil menyatukan dua gelar internasional. Mukhlis berhasil merebut gelar juara PABA kelas ringan yunior pada 27 April 2007 dengan mengalahkan angka Aree Phosuwangym (Thailand) di Jakarta. Mukhlis kemudian mengalahkan Fernando Otic (Filipina) dengan KO ronde 5, dalam partai perebutan kelas ringan yunior PABA dan WBO Oriental.
REKOR MURI (Museum Rekor Indonesia)
Rekor yang tercatat di MURI (http://www.muri.org/) – ada tiga rekor yang berhubungan dengan tinju:
1. (138) TILLY PANGKEY
Tilli Pangkey adalah wasit tinju dan hakim tinju wanita pertama di Indonesia.
Tilli Pangkey adalah wasit tinju dan hakim tinju wanita pertama di Indonesia.
2. (742) REUNI MANTAN PETINJU SE – INDONESIA MULAI TAHUN ( 1950 – 1990 ) PERTAMA KALI DI INDONESIA DENGAN JUMLAH TERBANYAK ( 200 ORANG )
Pemegang rekor : Bp. Harry Efendi sebagai pemrakarsa.
Bp. Harry Efendi memprakarsai kegiatan reuni mantan petinju se-Indonesia mulai dari angkatan 1950 – 1990 pertama kali di Indonesia dengan peserta terbanyak, kurang lebih 200 orang.Kegiatan reuni ini mempunyai maksud yaitu untuk membangkitkan rasa persatuan dan kekeluargaan di antara mantan petinju di hari tua, sehingga bagi mereka yang dulunya pernah bertanding ( menjadi musuh ) kini bertemu untuk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Kegiatan mulia ini merupakan pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Penyerahan piagam penghargaan MURI pada tanggal 2 Agustus 2002.
3. (1219) WANITA PERTAMA DI INDONESIA YANG MENJADI RING ANNOUNCER DALAM BIDANG TINJU
Pemegang Rekor : Denada Tambunan
Foto: Ellyas Pical, Chris John, Muhammad Rachman (para juara/mantan juara dunia), berpose bersama Felix Aaron Wiratama Pamungkas (© Jeffrey Pamungkas)
1 comment:
foto bapaknya mana? kok cuma foto anaknya yg berpose dgn para petinju legendaris Indonesia?? huehehehehe...
Post a Comment