Mantan juara dunia di tiga kelas berbeda, Johnny Tapia, 41, berencana akan comeback ke ring dan bertanding melawan Pedro Rincon Miranda, asal Kolombia, di El Paso, Texas, pada tanggal 2 Mei. Miranda adalah lawan pengganti "Mi Vida Loca" ("My Crazy Love"), julukan Tapia, setelah sebelumnya Tapia dijadwalkan bertemu petinju veteran asal Meksiko, Jose Alonso.
Petinju kontroversial ini, hidupnya penuh diwarnai kekerasan. Pada umur delapan tahun, petinju kelahiran Albuquerque, New Mexico, 13 Februari 1967 ini menyaksikan ibu kandungnya diculik dan diperkosa oleh seseorang. Jenazah ibunya kemudian ditemukan di pinggir jalan beberapa hari sesudah kejadian naas tersebut. Tapia tumbuh menjadi pemuda yang bergabung dengan gang dan kecanduan narkoba, namun berbakat besar dalam tinju. Dalam pengaruh ketergantungan narkoba, Tapia membukukan 150 kemenangan dan hanya 12 kali kalah semasa amatir, serta memenangi kejuaraan Golden Gloves tahun 1983 dan 1985. Luar biasa!
Tapia yang terjun ke pro pada tahun 1988, berhasil menjuarai kelas super terbang versi WBO setelah mengalahkan Henry Martinez dalam perebutan gelar yang lowong pada tahun 1994. Beberapa kali mempertahankan gelar, sekaligus menyatukan gelar WBO dan IBF kelas super terbang setelah mengalahkan Danny Romero dalam sebuah pertarungan klasik , Tapia akhirnya naik kelas, dan berhasil merebut gelar WBA kelas bantam, dengan menundukkan Nana Konadu dari Ghana. Kalah dari Paulie Ayala (pertandingan terbaik tahun 2000 versi Majalah The Ring) tak membuat Tapia putus asa. Dia justru naik kelas, dan berhasil menghajar Manuel Medina dari Meksiko, untuk menjuarai kelas bulu versi IBF. Sayang, pasca kemenangan penting lawan Medina, Tapia dikalahkan oleh petinju besar Meksiko, Marco Antonio Barrera. kekalahan kali ini membuatnya terpuruk (2002). Namun keterpurukan itu tak berlangsung lama, karena pada bulan November 2003, Tapia bangkit, dan menyatakan diri sebagai 'born again Christian', dan meninggalkan segala masa kelam di masa lalunya.
Selama karirnya, Tapia dikenal sebagai petinju keras dan kontroversial. Pertarungannya dengan Danny Romero (1997) menjadi sorotan para penegak hukum, karena Tapia dan Romero merupakan anggota gang obat bius yang bermusuhan di Albuquerque. Polisi bersiaga di Thomas & Mack Center, Las Vegas, untuk mencegah segala resiko yang akan terjadi, jika pendukung kedua petinju tawuran di situ. Obat bius, kehidupan liar, perang antar gang, penjara, bukanlah hal asing bagi Tapia. Pada tahun 2003, dia nmemaksa polisi di Arizona untuk ikut dipenjara bersama sepupunya, dan setelah itu seusai ditahan, Tapia terpeleset di rumah, dan kepalanya membentur beton lantai rumahnya. Banyak yang menduga ini usaha bunuh diri Tapia. Masih pada tahun yang sama (2003), Tapia kembali menghebohkan dunia, karena mendadak tak sadarkan diri di rumahnya, sehingga menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Banyak pihak yang mengaitkan dengan kedekatan sang "Mi Vida Loca" dengan obat bius di masa lalu. Namun petinju dengan tato di sekujur badannya ini membantah, dan menyatakan bahwa dirinya kolaps akibat salah minum obat alergi yang diresepkan oleh dokternya. Sebagian besar komunitas penggemar tinju ymenduga Tapia sudah 'habis', namun waktu bicara lain. Tapia dalam usia 41 tahun, masih gigih, dan akan membuktikan bahwa dirinya masih eksis dengan melawan Miranda di El Paso.
(Boxrec etc.)
Friday, May 2, 2008
Johnny Tapia Comeback
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
No comments:
Post a Comment