Berbicara petinju Meksiko, kita pasti tertuju pada legenda Meksiko, Julio Cesar Chavez, yang begitu dipuja dan dihormati, sebagaimana orang Brazil menghormati Pele, sang legenda sepakbola. Namun ada satu lagi petinju yang juga begitu dipuja dan mendapat penghormatan begitu besar oleh rakyat Meksiko, bahkan bisa jadi melebihi yang diterima Chavez, yakni Salvador Sanchez.
Salvador Sanchez, kelahiran Santiago Tianguistenco, Meksiko, 26 Januari 1959, adalah petinju besar, juara kelas bulu WBC tahun 1980-1982. Karirnya yang begitu pendek, sependek usianya, ternyata terpatri mendalam di hati rakyat Meksiko. Petinju muda yang simpatik dan murah senyum ini telah menumbangkan petinju-petinju terbaik di kelasnya pada masa itu. Tak kurang petinju sekaliber Danny Lopez, Juan Laporte, Wilfredo Gomez dan Azumah Nelson, pernah merasakan pahitnya kekalahan akibat permainan Sanchez yang indah di atas ring. Jika ingin dianalogikan, bolehlah Sanchez disamakan dengan Sugar Ray Leonard.
Pertandingan yang sangat diingat orang adalah dia mengalahkan petinju Puerto Rico,
Wilfredo Gomez, yang maju ke ring sebagai petinju tak terkalahkan dalam 33 laga dengan kemenangan 32 KO, dan status sebagai juara WBC kelas super bantam. Namun dengan gaya yang menawan, Sanchez mampu menundukkan Gomez dengan TKO ronde 8, dan mempertahankan gelar WBC kelas bulu miliknya, dalam pertandingan yang digelar di Las Vegas, 21 Agustus 1981.
Kisah kepahlawanan Sanchez berlanjut, saat Sanchez berhasil menjinakkan singa muda tak terkalahkan dari Afrika, Azumah Nelson (Ghana) yang tampil sangat-sangat agresif, 21 Juli 1982, di Madison Square Garden, New York. Azumah Nelson benar-benar tampil luar biasa dan sangat merepotkan Sanchez yang tetap tampil tenang dan simpatik. Pertarungan yang begitu keras ini akhirnya dihentikan wasit kurang lebih 1 menit saat menjelang usai ronde terakhir (ronde 15), ketika Sanchez menghujani Nelson dengan pukulan-pukulan bersih tanpa balas, sehingga wasit segera menghentikan pertandingan saat Nelson goyah.
Sayang, Salvador Sanchez tidak bisa lebih lama menikmati masa jayanya, ketika sedan Porchenya bertabrakan dengan sebuah truk trailer di jalan raya, dan merenggut nyawa sang bintang seketika. Sanchez yang disapa sebagai Chava oleh orang-orang dekatnya ini meninggalkan sejuta kenangan. Penguburannya dihadiri oleh ratusan ribu penggemar, bahkan hingga kini, makam Chava masih dikunjungi oleh para penggemarnya dari seluruh dunia, bukan dari Meksiko saja.
Selama hayatnya, Salvador Sanchez mengukir rekor 46 kemenangan (32 KO) 1 kalah dan 1 seri.
Bulan Juni 1991, sekitar 9 tahun setelah kematiannya, nama Sanchez diukir sebagai salah satu petinju terbaik sepanjang masa, dan dimasukkan dalam International Boxing Hall of Fame, New York.
Sumber: Boxrec et al.
Pranala luar: http://www.britannica.com/eb/article-9343195/Salvador-Sanchez
Sunday, May 11, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
No comments:
Post a Comment