Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Saturday, May 24, 2008

Prahara di Manila (2)


Jalannya Pertandingan

Joe Fraizer dikenal sebagai petinju slow starter, untuk itu Ali mencoba melakukan serangan pada ronde-ronde awal. Tidak biasanya Ali yang lincah menari, kali ini Ali langsung merangsek Frazier. Fraizer sempat terdesak pada ronde-ronde awal, dan beberapa kali goyah terkena pukulan Ali. Namun, dengan mengagumkan Fraizer tidak bergeming, dan bahkan dengan berani melakukan serangan balik, sehingga pertandingan berkembang sangat menarik.

Ali yang ingin menyelesaikan pertandingan secepat mungkin, terpana dengan perlawanan Frazier, dan pada ronde empat, dia mengatai, "Kau bodoh sekali!" Joe Frazier tidak mempedulikan ocehan Ali, dan terus menggempur balik Ali.

Di pertengahan pertandingan, ronde 6-7, Ali mulai kehabisan stamina, dan gantian Joe Frazier berada di atas angin. Frazier dengan segala daya menghujani Ali dengan pukulan, dan Ali hanya bertahan di tali ring dengan double covernya. Di awal ronde 7, ucapan Ali sempat terdengar beberapa saksi mata di sisi ring, dia berkata kepada Frazier, bahwa kata orang-orang Ali, Joe Frazier sudah habis dan mudah dikalahkan. Joe Frazier menjawab, "Mereka bohong!", sambil terus menggempur Ali.

Untuk menghindari kekalahan fatal, Ali kembali mempraktekkan rope a dope yang sukses digunakannya dalam meredam George Foreman. Dengan bertahan di tali ring, Ali mencoba meredam segala serangan Frazier yang bagaikan lokomotif, sampai ronde 11, Fraizer mulai lelah. Angin kembali berhembus kepada Ali, dan Ali menggunakan gaya menarinya yang khas, mengelilingi Fraizer dan menari-nari sambil melepaskan pukulan-pukulan panjang. Beberapa kali kepala Fraizer terdongak karena pukulan Ali, dan mata Frazier membengkak.

Puncaknya adalah ronde 13, Ali terus menghujani Fraizer dengan pukulan, sampai pelindung gigi Frazier terlempar ke arah penonton di sisi ring. Ali unggul mutlak di rinde ini, sedangkan Frazier hampir tidak pernah menyarangkan pukulan sama sekali di ronde 13 ini. Pada saat jeda, pelatih Fraizer, Eddy Futch, menyarankan Fraizer agar menyerah, namun Fraizer berkata "satu ronde lagi". Ronde 14, kedua mata Frazier bengkak, dan sulit melihat, seperti orang buta. Sayang, Ali juga sudah terlampu lelah untuk menghabisi Fraizer yang praktis tidak bisa apa-apa, walau pada detik terakhir Ali sempat menghajar Frazier sampai goyah, namun Fraizer tidak kunjung jatuh.

Pada istirahat jelang ronde terakhir (15), Eddy Futch memutuskan menghentikan pertandingan, namun Frazier masih mencoba memprotes keputusan pelatihnya tersebut. "Aku masih mau menghajar dia, Boss!"

"Tidak," jawab Futch. "Tak ada seorangpun yang akan melupakan apa yang sudah kamu perjuangkan hari ini," kata Futch tegas.

Setelah dipastikan menang TKO, saat akan diwawancarai TV, Ali terjatuh hampir pingsan akibat kelelahan, sehingga wawancara dilakukan sambil Ali duduk di kursi. "Joe Fraizer, saya katakan kepada dunia, kamu adalah lawan terbaik saya. Dia adalah manusia hebat. Tuhan memberkatimu, Joe," kata Ali dengan terengah-engah. "Joe Frazier adlaah petinju terbaik sesudah saya!"

Pertandingan Ali vs Fraizer III ini dinyatakan sebagai pertandingan terbaik tahun 1975 oleh Majalah The Ring. Pada tahun 1999, pertandingan ini dinobatkan sebagai pertandingan tinju terbaik abad 20 oleh stasiun TV ESPN dan Majalah The Ring kemudian juga menyatakan sebagai pertandingan terbaik sepanjang masa. (Selesai)

Baca juga: Prahara di Manila

image: Ali vs Fraizier III poster

(oleh Jeffrey Pamungkas dari berbagai sumber dan video)

1 comment:

Anonymous said...

Wah sebuah drama yang luar biasa. Saya beberapa kali melihat pertandingannya, memang seru, tapi melihat tulisan ini, terasa lebih seru karena saya merasa ikut terlibat di dalamnya! Bravo Ali, Bravo Fraizier!@

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.