Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Thursday, May 22, 2008

Prahara di Manila (1)

1 Oktober 1975, "Thrilla in Manila" (untuk versi bahasa Indonesia, ijinkan saya menyebutnya sebagai "Prahara di Manila"), adalah pertandingan yang bisa disebut sebagai salah satu pertandingan tinju terbaik yang pernah digelar di planet ini, antara dua petinju terbaik sepanjang masa, Muhammad Ali vs. Joe Frazier, di stadion bersejarah, Araneta Coliseum. Meskipun terkenal sebagai Thrilla in Manila, pertandingan ini berlokasi di Quezon City, kota tetangga Manila, ibukota Filipina.

Semua tentunya sudah tahu, bahwa Ali memenangi pertandingan ini dengan TKO ronde 14, karena kubu Frazier menyerah di saat istirahat menjelang ronde terakhir, 15, dimulai. Berikut ini adalah momen-momen yang dapat diingat, bahwa pertandingan ini betul-betul merupakan pertandingan terhebat yang pernah digelar di dunia.

- Rencana sebelumnya, pertandingan ini akan digelar di kota Kairo, Mesir. Bahkan majalah The Ring sudan menyebutkan Stadion Nasser telah dipilih sebagai tempat pertandingan. Namun akhirnya diputuskan Filipina menjadi tuan rumah kejuaraan akbar ini.

- Kubu Ali yakin bahwa Frazier sudah 'habis' sejak di KO oleh George Foreman pada tahun 1973, sehingga Ali menganggap remeh Fraizer. Mereka menanggap ini adalah pertandingan terakhir bagi Frazier, dan mereka memberikan bayaran terbesar bagi Frazier di penghujung karirnya. Akibatnya, Ali kurang latihan. Sebaliknya Frazier sangat serius berlatih dan berkonsentrasi penuh untuk pertandingan ini.

- Selain itu, Ali disibukkan dengan affair perselingkuhannya dengan Veronica, yang kini menjadi istri terakhir Ali. bahkan di Filipina, dia memboyong Veronica, dan memperkenalkannya sebagai istrinya. Belinda Boyd, istri Ali saat itu, meradang, dan menyusul ke Filipina, sehingga situasi bertambah kacau (Sebelumnya, di tahun 1974, Belinda juga masuk ke arena pertandingan ALi vs Foreman di Kinshasha, Zaire, dan sempat terekam kamera televisi marah-marah atas isu perselingkuhan Ali dan Veronica).
- Frazier sampai kini tidak dapat melupakan ledekan-ledekan Ali yang sangat melukai perasaannya sebelum pertandingan seperti sebutan dirinya sebagai "Gorila bodoh yang jelek", Paman Tom" dan "juara pujaan kaum kulit putih". ledekan Ali yang sangat terkenal adalah "It's gonna be a chilla, and a killa, and a thrilla, when I get the Gorilla in Manila".

-Frazier juga dendam terhadap Ali yang dianggapnya sebagai sahabat, dan Frazierlah yang mendukung Ali untuk mendapatkan kembali lisensi bertinjunya yang dicabut karena Ali menolak Wajib M Militer ke Vietnam. Frazier juga beberapa kali memberi beberapa ratus dolar saat Ali berada dalam kesulitan keuangan akibat dicabutnya lisensi tersebut.

(bersambung: Prahara di Manila 2)

No comments:

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.