Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Tuesday, July 29, 2008

Kerja Keroyokan, Biang Keladi Permasalahan Batalnya CJ vs Asiku

Kontrak yang tumpang tindih antara promotor, stasiun TV dan Chris John Management ditengarai sebagai akar permasalahan batalnya pertandingan Chris John vs Jackson Asiku.

Siapa yang patut dipersalahkan? Semua seyogianya patut dipersalahkan, baik promotor, TV maupun Chris John Management.
Berikut adalah kronologi bagaimana pertandingan yang sesungguhnya bisa dinikmati oleh pecinta olahraga tinju, menjadi polemik yang berkembang di media massa.

Hari Senin, 21 Juli 2008, 7 hari sebelum hari H pertandingan (27 Juli 2008), diadakan jumpa pers pertandingan di Cafe Front Row, Jakarta. Semua pihak yang berkepentingan sudah hadir; promotor, stasiun TV, dan kubu kedua petinju. Tak ketinggalan para wartawan sudah dengan antusias menunggu. Sedianya, selain diadakan jumpa pers, promotor, sesuai kontrak dengan petinju, diwajibkan membayar tunai uang muka sebesar 50% pada hari itu, sedang sisanya 50% dibayarkan dengan garansi bank.

Lebih dari dua jam ditunggu, ternyata akhirnya konperensi pers itu batal, karena pihak Chris John tidak mau menerima uang tunai yang disediakan promotor karena nilainya kurang dari 50% nilai yang disepakati dalam kontrak, tambahan promotor tidak membawa garansi bank yang diwajibkan dalam kontrak. Usut punya usut, rupanya ada perjanjian tersendiri antara promotor dan stasiun TV, bahwa sebagian dari dana tunai dan garansi bank itu akan disediakan oleh pihak TV, namun pada hari itu pihak TV tidak dapat menyediakannya. Karena beberapa kali bermasalah dengan pembayaran Chris John di Indonesia, maka Craig selaku pimpinan CJ Management menyatakan tidak mau tahu dengan urusan di belakang layar promotor dan TV. Maka dia memutuskan pertandingan dibatalkan. CJ Management yang berada di belakang MTM Promotions, promotor utama untuk partai-partai Chris John, segera melayangkan surat pembatalan kepada WBA yang direspons oleh WBA dengan membatalkan pengiriman para ofisialnya. Mereka juga mengirim kepada boxrec.com dan beberapa media lain di luar negeri untuk memberitahukan pembatalan ini. Jadi pertandingan sudah dipastikan batal.

Karena ada kepastian batal, Jackson Asiku pergi meninggalkan Jakarta, dan ternyata sudah berada di Bali. Chris John juga sudah sempat berkemas menuju Semarang, untuk menunggui istrinya yang tengah hamil tua, direncanakan lahir pertengahan Agustus ini.

Namun, pihak promotor kembali melakukan pendekatan dan negosiasi dengan kubu CJ Management. Menurut Craig Christian, dalam negosiasi yang sangat alot tersebut, Craig menyatakan bahwa karena sudah dibatalkan, maka Chris John maupun Asiku akan sulit mencapai kondisi optimal, dan sulit menyesuaikan berat badan di kelas bulu (57,1 kg) dalam waktu singkat. Menurut Craig Christian, promotor setuju bahwa ini adalah pertandingan non gelar. Namun Tourino Tidar, selaku co-promotor menyangkal keras bahwa telah tercapai kesepakatan pertandingan itu merupakan pertandingan non gelar, seraya membuktikan bukti-bukti berupa print out komunikasi e-mail.

Setelah mendapatkan jaminan dari Tourino Tidar yang dikenal dekat dengan orang-orang WBA, akhirnya WBA memutuskan 'menghidupkan' kembali partai yang sudah batal tersebut, dan para ofisial (wasit hakim dan supervisor) tiba di Jakarta pada hari Jumat, 25 Juli 2008. Pada hari Jumat itu, Chris John menjalani pemeriksaan oleh tim dokter, sedangkan Jackson Asiku tidak hadir, karena tidak diketahui posisinya. Setelah dicari-cari, baru ketahuan ternyata dia berada di Bali, dan menyatakan akan terbang ke Jakarta pada hari Sabtu, 26 Juli, untuk menjalani timbang badan.

Sabtu, 26 Juli 2008, pukul 4.00 sore hari, promotor, para ofisial WBA, Alan Kim (supervisor WBA), Anton Sihombing selaku ketua KTI, para petinju lokal untuk mengisi partai tambahan, serta para wartawan dari berbagai media, sudah berkumpul di Restoran Amigos, Jakarta. Alan Kim, supervisor WBA, mengumumkan bahwa sesi penimbangan resmi dimulai pukul 4.00, satu hari sebelum hari H pertandingan. Jika ada petinju yang terlambat atau overweight, akan diberi kesempatan dua jam, jadi jam 6.00 sore hari adalah batas waktu terakhir penimbangan badan. Ternyata kedua petinju tidak hadir pada penimbangan jam 4.00 itu, maka Alan Kim mengumumkan mereka menunggu kedua petinju sampai menjelang jam 6.00. Menurut kabar, Asiku akan mendarat dari Bali sekitar pukul 04.00 sore hari itu.

Sekitar pukul 5.30, kubu Chris John datang, namun hanya duduk-duduk saja, dan tidak melakukan penimbangan.

Hingga pukul 06.00, Asiku tidak menampakkan batang hidungnya. Chris John mengurungkan niatnya untuk melakukan timbang badan.

Alan Kim menyatakan pertandingan itu batal, dan dia akan melaporkan situasi ini kepada presiden WBA, karena posisi dia sebagai supervisor tidak dapat mengambil keputusan apapun.

Kepada boxing-indonesia, Alan Kim mengatakan bahwa menurut peraturan, jika kedua petinju tidak hadir, maka gelar juara akan dinyatakan lowong. Namun, beberapa saat sebelum batas akhir (jam 06.00) itu, Alan Kim mendengar informasi bahwa pertandingan itu ditunda ke bulan November. "Jika benar pertandingan ini ditunda, itu kasusnya lain," jelas Alan Kim. "Saya akan mencari tahu duduk perkaranya terlebih dulu, dan jika benar pertandingan itu ditunda, maka saya akan membuat laporan kepada WBA berdasarkan justifikasi saya dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pertandingan ini.," terang Alan Kim. Selanjutnya, dia berjanji akan menginformasikan kepada boxing-indonesia jika ada komentar atau keputusan dari WBA.

Pihak Chris John sendiri tetap menyatakan bahwa pertandingan itu adalah pertandingan non gelar, karena pertandingan perebutan gelar juara sudah dibatalkan oleh MTM Promotions. "Jika pertandingan non gelar, buat apa ada ofisial WBA?" tanya Craig dengan sengit.

Namun sekali lagi, Tourino Tidar membantah keras dia sudah bersepakat dengan CJ Management untuk membikin pertandingan non gelar dan menunjukkan print out korespondensi via e-mail sebagai bukti. Dia dan promotor Soeryo Goeritno siap terbang ke Panama, markas WBA, untuk membuat laporan tentang kejadian ini.

"Pembatalan ini telah mencoreng nama baik saya, dan saya menyatakan mengundurkan diri sebagai promotor!" tegas Goeritno, yang merupakan pengusaha terkenal di Indonesia.

Dengan berlinang air mata, Turino Tidar juga menyatakan penyesalannya atas pembatalan ini. "Tidak perlu saling menyalahkan. Sangat sulit menghasilkan seorang juara, perlu tetesan darah, keringat dan air mata," kata Turino sambil menyeka air mata. "Kita semua sudah bekerja keras, namun hari ini semua sia-sia."

Memang semuanya jadi sia-sia karena carut-marut dan kontrak yang saling tumpang tindih dan membingungkan. Idealnya seorang promotor adalah penyelenggara utama sebuah partai kejuaraan, sehingga berhasil tidaknya sebuah pementasan tinju adalah hasil upaya promotor tersebut. Anomali di Indonesia, sebuah pagelaran tinju besar adalah hasil kerja keroyokan, sehingga saat terjadi masalah atau salah satu pihak cuci tangan, sangat sulit mencari siapa yang paling bertanggung jawab.

Masalah seperti ini kabarnya bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga sering terjadi di Thailand, Filipina, dll. Untuk segi profesionalisme penyelenggaraan tinju, bisa disebut AS, Inggris dan Jepang sebagai negara-negara yang pertinjuannya sudah mapan, dan sebuah pagelaran tinju jarang terjadi kemelut berkepanjangan, karena penanggungjawabnya jelas dan pasti, yakni promotor.
Foto dari kiri ke kanan: Soeryo Goeritno, Tourino Tidar dan Alan Kim saat penimbangan badan yang batal (Jeffrey Pamungkas © 2008)

No comments:

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.