Demi meladeni tantangan sang legenda yang sudah uzur, Bernard Hopkins, Kelly Pavlik (juara kelas menengah WBC/WBO) bersedia naik dua kelas ke kelas berat ringan. Namun, rencana mempertandingkan kedua petinju itu itu banyak mendapat kecaman pengamat, karena terlalu mengedepankan unsur duit, dengan memaksakan Pavlik naik dua kelas demi melawan Hopkins dalam sebuah pertarungan non gelar. Pertandingan ini rencananya digelar tanggal 18 Oktober di Atlantic City, NJ, hasil kolaborasi dua promotor beken, Top Rank (Bob Arum) dan Golden Boy Promotions (Oscar de la Hoya).Pavlik terkenal sebagai seorang petinju santun dan rendah hati. Namanya melesat bagai roket saat berhasil dua kali berturut-turut di akhir tahun 2007 dan awal 2009 mempecundangi jagoan kelas menengah yang sedang top-topnya, Jermain Taylor. Saat itu, Taylor dikenal sebagai seorang pembunuh para raksasa, karena sudah menundukkan petinju-petinju dengan nama besar seperti William Joppi, Ronald Winky Wright, Kassim Ouma, Corry Spinks, dan termasuk Bernard Hopkins yang dipecundanginya dua kali pada tahun 2005.
Dengan modal ini, apakah petinju kulit putih berusia 26 tahun ini akan dengan mudah menundukkan Bernard Hopkins yang sudah berusia paruh baya (43 tahun)? Jawabannya belum tentu. Pada penampilan terakhirnya bulan April lalu, Bernard Hopkins masih mampu tampil cukup meyakinkan dengan merepotkan Joe Calzaghe pada awal-awal pertandingan, walupun akhirnya dia harus mengakui keunggulan Calzaghe dengan angka tipis di Las Vegas.
Modal Pavlik tak hanya kemenangan atas Taylor. Pukulan-pukulannya dikenal cukup keras dan berbahaya, dan telah menelan 30 korban KO dari 34 kemenangan tanpa kalah atau seri. Namun Hopkins adalah petinju yang sangat liat dan selalu tampak perkasa di ring. Dari rekornya 48 (32 KO) menang - 5 kalah, tanpa sekalipun mengalamai kekalahan KO/TKO, Hopkins akan tetap menjadi lawan berbahaya bagi Pavlik. Dengan pertahanan prima, Hopkins adalah seorang petinju yang sangat sulit dipukul. Gaya bertinju dan postur tubuhnya mengingatkan pada legenda kelas menengah 1980'an, Marvelous Marvin Hagler yang juga begitu liat dan sulit dipukul.
Apakah modal rentetan pukulan keras Pavlik mampu mengikuti jejak Joe Calzaghe yang berhasil menundukkan Hopkins? Ataukah Hopkins berhasil membuktikan bahwa pengalaman dan keliatannya di atas ring bisa menundukkan usianya?
Hopkins pernah menyatakan "I would never lose to a white boy" sebelum melawan Calzaghe, namun nyatanya dia kalah. Masihkah dia mempertahankan pernyataan tersebut? Kita tunggu saja. Kebetulan lawan Hopkins kali ini juga seorang white boy.
No comments:
Post a Comment