Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Wednesday, November 5, 2008

Lakva Sim, Satu-Satunya Juara Dunia asal Mongolia

Pernahkan Anda mendengar nama Lakva Sim alias Lkhagva Dugarbaatar?

Dia adalah satu-satunya juara dunia tinju pro asal Mongolia (atau mungkin lebih baik kita sebut saja juara dunia tinju pro pertama kali asal Mongolia). Petinju kelahiran Ulan Bator, Mongolia, 10 Maret 1972 ini, menurut catatan boxrec.com, di awal karirnya pernah bertanding di Indonesia, pada tahun 1995. Pada saat itu dia menundukkan petinju kita, Max Karamoy, melalui kemenangan KO ronde 4, serta merebut gelar juara PABA kelas ringan.

Gaya bertarungnya yang keras, sekeras wajah khas Mongolianya, merupakan adaptasi gaya para petinju Korea Selatan, karena memang sebagian besar pertandingannya dilakukan di Korea Selatan, selain bertanding di Indonesia, Thailand, Jepang, Turkmenistan, hingga AS. Dalam catatan boxrec.com, Sim hanya pernah bertanding dua kali di tanah kelahirannya, Mongolia.

Setelah beberapa kali mempertahankan gelar PABA tersebut, Sim mencoba peruntungan untuk merebut gelar kelas bulu super dari tangan Yong So Choi di Seoul, tahun 1997, namun sayang, Sim takluk dengan angka tipis dari Choi.

Pada kesempatan kedua, 27 Juni 1999, Sim tak mau menyia-nyiakan lagi kesempatan tersebut. Dia berhasil 'membantai' petinju pujaan Jepang, Takanori Hatakeyama, di depan publiknya sendiri, di Tokyo. Sim menang TKO ronde 5, dan merebut gelar kelas bulu super WBA. Publik tinju Tokyo menangisi kekalahan tragis Hatakeyama yang sangat populer di Jepang pada saat itu; sebaliknya pesta besar diadakan di Mongolia, menyambut kemenangan besar sang anak negeri.

Sayang, gelar juara tersebut hanya seumur jagung. Empat bulan berselang, tepatnya 31 Oktober 1999, gelar tersebut melayang ke negeri Korea, setelah Sim ditaklukkkan dengan angka tipis oleh Jong Kwon Baek di Pusan, Korea Selatan.

Sebelum menutup karir tinjunya di tahun 2005, Sim sudah dua kali mencoba merebut gelar juara dunianya, namun semuanya berakhir dengan kekalahan. Dia ditundukkan oleh petinju kuat Yodsanan sor Nantachai di Nakhon Ratchasima, Thailand, tahun 2002, dan kalah angka dari Juan Diaz saat mencoba merebut gelar kelas ringan WBA tahun 2004 di Houston, Texas, AS.

Sim menutup karirnya dengan manis pada 16 September 2005 di Gwinnett Center, Duluth, Georgia, Amerika Serikat, dengan menundukkan Ebo Elder melalui kemenangan TKO ronde 12 dalam pertandingan yang sangat menarik, dan merupakan salah satu laga terbaik yang pernah dilakoni Sim.

Pasca kejayaan Lakva Sim, tampaknya masa depan tinju pro Mongolia sangat cerah. Ini berkat keberhasilan Badar-Uugan Enkhbat, peraih emas kelas bantam Olimpiade Beijing 2008, dan Serdamba Purevdorj (perak, layang ringan). Kabarnya Golden Boy Promotions sedang berupaya merangkul kedua petinju amatir ini.

Foto pada artikel ini adalah foto Lakva Sim (kanan) bersama "Beijing" Bob Newman, salah satu kawan penulis. Bob Newman secara tak sengaja bertemu dengan Sim, yang kini memiliki posisi terhormat sebagai salah satu ofisial komisi tinju Mongolia, di Chengdu, di tengah-tengah acara WBC Convention.

No comments:

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.