
Bermodalkan medali perak kelas bulu Olimpiade Sydney 2000, Juarez adalah ancaman serius bagi mahkota juara kelas bulu WBA milik Chris John. Walaupun secara reputasi Juarez kalah dari 3 juara dunia yang pernah ditundukkan Chris John, Osamu Sato, Derrick Gainer dan Juan Manuel Marquez, namun secara teknis dan kualitas, Juarez tidak kalah dari mereka.
Petinju Hispanik kelahiran Houston, Texas, 15 April 1980 ini merupakan petinju dengan ciri khas Amerika Latin yang kental, bertipe fighter murni, bergaya ortodoks, dan tak segan 'pasang badan' untuk beradu pukul selama 12 ronde.
Sejak 'lulus' dari kawah candradimuka olimpiade, Juarez langsung menjadi primadona, dan diramalkan menjadi petinju besar di kemudian hari. Portofolio awal karir Juarez di tinju pro juga sangat mengesankan. Dia berhasil menundukkan serangkaian petinju papan atas pada masa itu: Frankie Archuleta, Antonio Diaz, Hector Velazquez, Zahir Raheem (disebut-sebut sebagai kemenangan berbau kontroversial), Gutty Espadas, Jr. dan Juan Carlos Ramirez. Bahkan saat memukul KO Antonio Diaz ronde 10, majalah tinju bergengsi "the Ring" memberi penghargaan sebagai "KO Terbaik tahun 2003"
Namun sayang, reputasi Juarez yang bagus itu tidak didudukung oleh keberuntungan. Juarez selalu kalah dalam partai kejuaraan dunia. Nasib sial Juarez dialami pertamakali tahun 2005, saat dia dikalahkan angka oleh Humberto Soto, dalam kejuaraan interim kelas bulu WBC. Dalam beberapa pergelaran partai kejuaraan dunia selanjutnya, Juarez juga takluk: Dua kali kalah angka dari Marco Antonio Barrera (2006, WBC bulu super), dan kalah angka dari Juan Manuel Marquez, 2007, kejuaraan WBC kelas bulu super.
Banyak pihak mengatakan bahwa secara teknis Chris John masih di atas Juarez. Pukulan Chris lebih cepat dan lebih lengkap. Jika diamati sekilas dari rekaman pertandingan Juarez, gaya bertinjunya mirip dengan Hiroyuki Enoki, petinju Jepang yang dikalahkan Chris John dengan angka tahun lalu. Gaya fighter dan fighting spirit tinggi dipastikan akan menjadi andalan utama Juarez dalam menghadapi Chris.
Namun, pertandingan Enoki vs Chris John janganlah dijadikan patokan. Saat itu Craig Christian, menurut perkiraan saya, memang sengaja "melatih" Chris John agar tampil sebagai seorang fighter. Pernah suatu ketika Craig berkata kepada saya bahwa dia melatih Chris John sedemikian rupa untuk merubah gayanya menjadi lebih 'fighter' karena untuk kepentingan pemasaran di AS. Memang, dalam beberapa kali penampilan di bawah Craig, Chris tampil bak seorang fighter. Ada yang bagus, ada yang jeblok.
Penampilan terbaik sebagai seorang fighter, menurut saya adalah saat Chris menundukkan Derrick Gainer di Jakarta. Saat itu Chris John, walau sempat knockdown di ronde 1, tampil bagaikan seorang punching machine yang terus merangsek Gainer yang kewalahan menghadapi serbuan beringas Chris John yang tiada henti.
Penampilan terburuknya sebagai fighter (bahkan terburuk dalam partai kejuaraan dunia Chris) adalah saat menundukkan Jose Rojas (partai kedua) di Jakarta. Chris John yang mencoba tampil slugger justru kehabisan stamina di ronde-ronde akhir. Pelatih Craig Christian dengan jujur sempat berkomentar mengenai penamopilan buruk Chris, bahwa itu adalah kesalahan dia dalam menerapkan strategi bertanding.
Pertandingan melawan Hiroyuki Enoki, saya kira bukan penampilan terbaik Chris John, namun pertandingan itu sendiri merupakan salah satu pertandingan terbaik (jika tidak mau disebut paling brutal) dalam karir Chris John. Chris John dan Enoki tampil sebagai dua slugger yang terus saling bertukar pukulan sebanyak 12 ronde, sehingga sebelah muka Enoki bengkak, sedang Chris John harus menjalani 70 jahitan akibat luka akibat pukulan dan serudukan kepala Enoki.
Namun bagaimanapun, penampilan paling ciamik Chris adalah saat dia tampil dengan gaya alamiahnya, yakni gaya boxer sejati. Penampilan luar biasa melawan Osamu Sato dan Juan Manuel Marquez adalah bukti bahwa Chris John mampu tampil superior sebagai seorang boxer. Namun tentunya masalah penampilan di ring, pelatih Craig Christian tentunya lebih tahu bagaimana menerapkan strategi dalam menghadapi Rocky Juarez.
Faktor non teknis dalam pertandingan tinju terkadang pengaruhnya lebih besar daripada faktor teknis. Bertanding di kampung halamannya sendiri di Houston, tentunya merupakan keuntungan besar Juarez. Dia akan didukung segenap kawan dan kerabatnya, sehingga akan memompa semangat bertanding. Sedang bagi Chris John, penyesuaian iklim merupakan faktor yang cukup berat, mengingat kini Houston masih beriklim dingin namun kering.
Kendala besar bagi Juarez adalah masalah berat badan. Kabarnya dia juga sering bermasalah saat bertanding di kelas ringan yunior (kelasnya saat ini). Bisa dibayangkan, dia akan menguras habis cairan di dalam tubuhnya untuk menyesuaikan dengan batasan berat di kelas bulu (57,1 kg.). Oscar de la Hoya sudah merasakan pahitnya turun berat badan secara drastis sebelum pertandingan. Dia yang turun dua kelas (kelas menengah ke welter) menghadapi Pacquiao Desember lalu, tampil lemas tak bertenaga, dan harus menangguk malu dipecundangi oleh si boncel dari Asia.
Apakah Juarez akan terus mengalami deja vu dalam setiap pertandingan berlabel kejuaraan dunia? Atau sebaliknya Chris John selalu mendapat berkah dari Dewi Fortuna seperti selama sepuluh kali mempertahankan gelar? Kita hanya bisa menunggu sampai 28 Februari sembari mengucapkan, "Good luck, Chris! Semoga sukses!"
2 comments:
analisa yg sangat bagus pak :)
Menurut info fightnews , Untuk tanding dengan Rocky Juarez , CJ menerima bayaran lebih rendah dari yang dia terima sewaktu tanding dgn Enoki 200k US$
Post a Comment