Mimpi itu dipicu oleh sms sahabat saya, Temuzin Rambing, yang mengabarkan kini Filipina punya jago baru, masih belia, 19 tahun: Marvin Sonsona. Saya buru-buru cek ke Fightnews.com, Sonsona berhasil unggul angka mutlak atas juara bertahan Jose Lopez di Puerto Rico, dan merebut gelar WBO kelas bantam yunior, Jumat (4/9). Raja KO muda ini buat Filipina tentunya bukan hal yang baru, karena juara dunia pertama kali yang mereka miliki, Pancho Villa, juga merebut gelarnya di negara Paman Sam pada tahun 1930'an. Dan entah sudah berapa puluh juara dunia yang merebut gelar di luar negeri, termasuk sang dewa tinju, Manny Pacquiao dan Nonito Donaire, juara dunia kelas terbang WBA, yang juga laris manis dijual di AS.
Entahlah, apa yang beda antara kita dengan Filipina dan Thailand, dua negara terbersar di pertinjuan Asia Tenggara. Kita hanya bisa berbangga dengan satu juara dunia, Chris John, dan satu petinju berbakat: Daud Yordan. Bangga hanya sekedar bangga. Begitu mereka bertanding, jangankan nonton berbayar di TV atau langsung ke stadion jika mereka bertanding di Indonesia. Tayangan di TV gratis saja banyak teman saya yang emoh nonton, dan lebih suka tanya ke saya hasilnya melalui SMS atau telpon. Capek juga jempol saya menceritakan kembali hasil pertandingan melalui sms. Mbok ya nonton TV, wong gratis ini... atau paling tidak baca boxing-indonesia (meskipun belakangan jarang update karena kesibukan saya :)
Saya dengar di Filipina, kejahatan di jalan jauh menurun jika Pacquiao sedang bertanding. Mungkin para bandit jalanan di FIlipina itu menggunakan uang hasil kejahatannya untuk membeli tayangan TV yang menayangkan Pacquiao secara pay per view. Atau mereka ikut nonton rame-rame di bar, warkop atau bioskop-bioskop di Manila yang menayangkan pertandingan Pacquiao (dengan menjual tiket, tentunya). Bisakah Indonesia seperti itu?
5 comments:
Antusiasme masyarakat kita thd tinju memang msh rendah
contohnya di kantor saya ada 40an karyawan, jangankan menanyakan hasil Ring Tinju TVRI,ngobrolin hasil CJ VS RJ saja hanya 1 orang yg tahu, sisanya paling mengatakan, emang CJ udh tanding?,menang apa kalah CJnya?,kemarin tanding lawan siapa?,gue gak nonton lupa....
respon yg sangat berbeda thd sepak bola yg sudah menyerap milyaran rupiah dari APBD
Tinju mau maju, harus kelola dari Amatir. PERTINA kita aja loyo, gimana mau ngarepin juara dunia.
Saya melihat, problemnya adalah DANA. Sejak diharamkannya PORKAS, SDSB, dll, maka seluruh cabang olahraga kita tidak dapat berprestasi. Contohnya jelas terlihat di SEA-GAMES, dulu kita selalu juara UMUM, sekarang ranking 5, memalukan.
-DD-
Betul... itulah perlunya kita memastikan bibit-bibit tinju muncul secara berkesinambungan. Maraknya tinju pro d tv beberapa waktu lalu sudah cukup bagus, dengan lahirnya CJ, Rachman dan Daud. Tapi sayang, sekarang sulit menjawab generasi pelapis di bawah Daud.
Namun maraknya tinju pro di tv juga membawa dampak buruk, karena tinju amatir jadi lesu peminat. Semuanya ingin jadi juara dunia dengan bayaran ratusan juta. Selain itu juga, ada efek negatif lain: kematian petinju meningkat drastis.
DK
Promotor kita takut rugi kalo menggelar pertandingan tinju International , makanya banyakan petinju kita mencari duit di negeri orang dan akibatnya selalu dicurangi oleh petinju tuan rumah sendiri . Harus ada bibit2 muda untuk pengganti CJ
Sebenarnya semua insan tinju Indonesia memiliki impian yg sama..tp,memang kualitas ptnju2 kita msh krng memenuhi syarat. CJ-pun msh memiliki kekurangan yg berdampak thd daya jual pertarungan2nya. Memang CJ adlh ptnju yg terbaik yg dimiliki bangsa Indonesia,tp krng menarik di mata fans tinju dunia. Maka dr itu,buktikan CJ bahwa km adlh benar2 sang juara !!!
Post a Comment