Update: Montolalu menang angka 8-4 atas petinju Kamboja di kelas 64 kg, dan akan berhadapan dengan petinju Thailand di babak berikut.
Di saat tinju amatir justru berkembang di negara-negara yang sebelumnya lemah dalam cabor tinju, negara kita semakin terpuruk dalam persaingan cabor ini. Alex Tantotos kalah 4-13 dari petinju Cina Taipeh. Sore ini, petinju kedua kita, Vinky Montolalu, akan turun melawan petinju dari Kamboja, Svay Ratha di kelas 64 kg. Ada saran bagaimana membenahi tinju amatir yang terpuruk prestasinya ini?
Tak lupa kami ucapkan selamat kepada Tim Perahu Naga Putra Indonesia yang telah menyumbangkan dua medali emas di nomor 1000 meter dan 500 meter.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
3 comments:
saran Saya adlh STOP KORUPSI...!!!!!!
saran yg lain adlh memasukkan tinju sbg slh satu ekstrakurikuler di sekolah2 sprti layaknya karate yg jd ekskul di bbrp sekolah.
dgn cr ne Insya Allah akn bxk pelajar2 yg berminat thdp tinju n akhrnya jd penju ms dpn RI baik di amatir maupun di prof.
tak lupa jg perbanyak pertandingan tnju amatir n prof terutama di daerah2
demikian saran dr saya,smg bermanfaat
Menjadi petinju bukan kerna tekanan ekonomi atau ada hubungan baik dgn sasana ybs, tetapi menjadi petinju kerna memang mempunyai bakat untuk bertinju, itu baru petinju yang berkwalitas.
sistem olahraga kita adalah dari sepakbola, untuk sepakbola dan oleh sepakbola, mau bagaimanapun semua cabang olahraga tetap kalah sama sepakbola, sekarang tanya aja ke anak2 kecil, cita2nya mau jadi apa, mana ada yg mau jadi Chris John atau Taufik Hidayat, semua mau seperti Cristiano Ronaldo dll. Generasi penerus aja ogah...coba lihat di TV mana ada anak ditayangkan anak kecil mengidolakan CJ dan berbakat bermain tinju, semua di giring untuk bakat dalam sepakbola, tapi kenyataannya...? kita harus gimana....?
Post a Comment