Pertarungan kedua pada 1992 di Melbourne, Azumah Nelson membuktikan diri bahwa dirinya memang petinju hebat. Dia langsung tampil agresif dan menyergap Fenech dari segala penjuru. Fenech bahkan terkena knockdown tigakali masing-masing pada ronde 1, 2 dan 8, sebelum wasit akhirnya menghentikan pertarungan dan Nelson dinyatakan menang TKO ronde 8.
Azumah Nelson tumbuh di daerah keras di propinsi Bokum, Ghana. Seperti anak sebanyanya di lingkungannya tinggal, Nelson sangat hobi berkelahi. Di Bokum, anak-anak diijinkan bertarung di jalanan, asal mereka sebaya dan tidak boleh menggunakan senjata. Anak-anak dari luar Bokum sangat paham kepiawaian anak-anak Bokum, sehingga mereka tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap anak dari Bokum.
Akhirnya Nelson muda melampiaskan kegemarannya berkelahi di jalanan dengan menekuni tinju. Di amatir, dia memiliki rekor 50-1 dan menjadi juara Persemakmuran. Pengalaman itu sudah cukup baginya, sehingga saat terjun di ring profesional, dia cukup bertanding sebanyak tiga kali saja, ketika berhasil menjadi juara nasional Ghana kelas bulu pada tahun 1980, dengan menundukkan Henry Saddler dengan KO ronde 9.
Prestasinya di ring tinju terus meningkat dengan menjadi juara Persemakmuran di kelas bulu. Impiannya untuk meraih gelar tertinggi di tinju pro sempat kandas saat dia dipecundangi dengan kekalahan KO di ronde terakhir, 15, saat mencoba merebut gelar dari petinju legendaris Meksiko, Salvador Sanchez, pada 1982 di New York. Sanchez tak lama setelah pertarungan ini meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas.
Tidak tenggelam dalam kekalahan, Nelson perlahan-lahan berhasil bangkit dan merebut gelar kelas bulU WBC dari juara bertahan, Wilfredo Gomez, 1984 di Puerto Rico dengan kemenangan KO ronde 11. Empat tahun dia bertahan sebagai juara kelas bulu WBC, kemudian dia naik kelas bulu super dan merebut gelar WBC lowong kelas tersebut dengan menundukkan Mario Martinez di California.Gelar tersebut melayang tahun 1990 saat dia ditumbangkan Pernell Whitaker ketika dia mencoba naik ke kelas ringan dalam perebutan gelar WBC & IBF kelas ringan.
Masih di tahun 1990, Nelson kembali ke kelas bulu super WBC, dan merebut gelar dari Juan La Porte. Dan berhasil mempertahankan gelar tersebut beberapa kali, termasuk dua kali duel legendaris melawan Fenech (saya ingat saat itu TVRI menyiarkan langsung partai pertama keduanya, saat tampil dalam partai tambahan Mike Tyson di Las Vegas).
Gelar sebagai raja WBC kelas bulu super sempat melayang saat Nelson berhasil ditundukkan oleh Jesse James Leija pada 1994. Namun Nelson masih mampu merebutnya kembali saat dia menundukkan juara setelahnya, Gabriel Ruelas. Nelson berhasil menuntaskan dendamnya dengan "menghabisi" Leija dengan kemenangan TKO pada tahun 1996. Tahun berikutnya, stigma Nelson sebagai raja kelas bulu WBC ludes, saat gelar WBC nya 'dipreteli' oleh Genaro Hernandez dengan angka tipis. Sempat bertemu sekali lagi dengan Leija pada 1998 untuk merebut gelar kelas ringan versi IBA, namun nelson harus mengakui keunggulan Laija kali ini.
Terakhir, pada tahun 2008, Nelson kembali turun ke ring, bertemu dengan seteru lamanya yang sudah sama-sama gaek, Jeff Fenech. Nelson kalah angka dalam pertarungan 10 ronde di kelas menengah yunior di Melbourne.
(sumber & foto: Boxrec)
3 comments:
Nelson bukan hanya petinju terbaik di Afrika sepanjang masa tapi juga terkenal akan kerendah hatian serta sifat dermawannya baik saat masih di pro maupun saat pensiun..........kalau satu era dng CJ mungkin mereka bisa bertemu di kelas bulu jr.
1 pertandingan Azumah Nelson yg sy ingat hanyalah saat dia melawan Jesse James Leija. Pada pertandingan tsb, entah pertarungan pertama atau rematch, Azumah sempat memukul jatuh Leija pd ronde kedua. Pertarungan berlangsung sengit dan kl tdk salah berakhir dengan angka. :)
berbicara tentang petinju Ghana, bagaimana rencana bung AS ke Ghana?
pertandingan kejuaraan dunia kah? siapa petinjunya?
Post a Comment