
Dalam kunjungannya ke kota Malang, manajer tinju flamboyan kita, Aryo Sulkhan, kebetulan bertemu dengan mantan legenda Indonesia Moh. Solichin dan H.M. Nurhuda. Bagi yang tumbuh di tahun-tahun 1980'an, tentunya masih ingat kedahsyatan dua legenda ini. Terutama Haji Nurhuda yang sangat terkenal dengan celana macan tutulnya, dan sempat merajai berbagai kejuaraan internasional.
(Foto oleh Aryo Sulkhan. Kiri: M. Solichin, kanan: M. Nurhuda)
5 comments:
Disco said...
Saya masih duduk di bangku SMP ketika Nurhuda sedang jaya-jayanya. Walaupun tidak memiliki pukulan maut, tapi beliau ini telah mengalahkan petinju-petinju top saat itu. Keistimewaan Nurhuda ada di pertahanannya yang sangat rapat, ditambah body moving yang membuat pukulan lawan "numpang lewat" begitu saja. Tak kurang dari Monod (Arema BC), Little Holmes (Gajayana BC), dan Robby Rahangmetan yang saat itu lagi hebat-hebatnya "dilibas" satu demi satu. Nurhuda sempat merebut gelar intercontinental setelah mengalahkan petinju top Filipina Ernie Cataluna dan mempertahankan gelarnya melawan petinju Filipina lain Boy Granciosa (menang angka) dan petinju Australia Tony Wehbee (draw) sampai saatnya Nurhuda mendapat kesempatan menantang juara dunia Vuyani Bungu di Afrika Selatan. Sayang dalam kejuaraan dunia tersebut Nurhuda kalah angka mutlak walaupun dalam persiapannya tim pelatih Nurhuda sampai bertirakat tidak tidur semalam suntuk demi memberi kekuatan spiritul bagi kemenangannya. Itu yang saya tahu (ingat).
Wah komplit sekali pengetahuan anda thd Nurhuda, sy yg ketemu aja kurang begitu faham dgn jam terbangnya. Hebat hebat hebat! Ya, Nurhuda bercerita dia ke Afsel utk melawan Vuyani Bungu, namun dia kalah..
Disco said...
Ah, Bung Aryo bisa aja...tapi memang saya nge-fans banget sama beliau. Kapan-kapan kalau Bung Aryo ketemu beliau lagi sampaikan salam saya dan saya berterima kasih buat "memori" yang Nurhuda berikan di fikiran saya pada masa-masa SMP dulu :)
Selain Nurhuda, petinju Indonesia lain yang seangkatan si Macan Tutul ini adalah Sambung, yang ahli menghindar dengan gaya kocaknya.
Ada lagi Hengky Gun, kalau sekarang saya mirip-miripkan dengan gaya Smile Brown, yang siap adu pukul di atas ring.
Monod (boxrec terdaftar sebagai Saipa Monod) juga ngetop sebagai petinju slugger yang tahan pukul.
---
Kalau mau mundur ke belakang, ada lagi Polly Pasireron (yang pernah di KO juara WBA park Chong pal). Yohanes Matahelemual, Rudy Siregar, raja kelas welter Kai Siong, Sperling Pangaribuan... dan Jeff Malcolm (Australia).
---
Waktu SD, Saya menggemari Jeff Malcolm, karena namanya mirip nama saya... hehehe. Sampai2 label nama (musim waktu itu), nama saya jadi Jeffrey M. Pamungkas... teman2 saya tanya M nya apa? Saya jawab Malcom... hehehe. Makanya waktu ketemu Jeff Malcolm di Bali 6-7 tahun lalu, saya begitu bangga... hahaha.
Disco said...
Wah itu artinya Bung JP satu angkatan dengan saya. Saya tambahkan: di kancah tinju nasional saat itu juga ada persaingan bebuyutan ala Pacquiao-Morales yaitu antara petinju Little Holmes (Gajayana-Malang) dan Wongso Indrajit (Sawunggaling-Surabaya)di kelas Bulu Yunior, mereka berdua saling mengalahkan. Lalu ada juga persaingan antara Alexander Wassa dan Rudy Heryanto (kelas Bulu) dan Suwarno dan Polly Pasireron (kelas Menengah).Persaingan keduanya sampai di level OPBF, dan satu petinju lagi yang prestasinya "agak lumayan" ( di level Inter-continental adalah Hengky Gun. Waktu itu barometer tinju ada di kota Surabaya dan Malang, menyusul Jakarta dan Bandung. Ikon tinju paling "hot" dari Bandung waktu itu adalah Cheppy "Macho" Holman (kelas Ringan)dia tidak terkalahkan di level nasional tapi sayang dalam kejuaraan OPBF Cheppy kalah kontroversial dari petinju Korea Selatan Yang-Soo Choi (kelak jadi juara dunia WBA). Setelah mundur dari dunia tinju nasib Cheppy terlantar, sekarang dia hanya bekerja menjadi tukang ojek dan petani sayur-mayur di Lembang (Bandung) bahkan dikabarkan dia telah menggadaika sabuk juaranya demi sesuap nasi
Post a Comment