Petinju yang sejak awal bertarung dengan nama Muhammad des Afrizal ini pada pertengahan tahun lalu mengontak saya dan memproklamirkan nama ring terbarunya, Afrizal Cotto, karena dia merupakan pengagum petinju Puerto Rico, Miguel Cotto. "Penyegaran saja bang," ujar Afrizal saat ditanya alasan lebih konkrit penggantian nama ringnya. Hubungan saya dan Afrizal memang cukup akrab, terutama pada tahun 2010 saya, Vicky Tahumil dan Afrizal berada di Bangkok untuk sebuah pertandingan. Afrizal saat itu kalah KO dari petinju tuan rumah Padjai Yongyoutgym dalam kejuaraan PABA kelas bulu."Saya sudah lelah bertinju, bang. Kalau sudah terkumpul cukup uang, saya mau pensiun dan berkonsentrasi ke ke pekerjaan saya," ujar Afrizal, karyawan PDAM kota Padang. Kebetulan, Dirut PDAM Padang, Azhar Latief, adalah manajer Afrizal. Sehingga dia mendapatkan beberapa privilege saat dia akan melakukan suatu pertandingan.
Mengenai kariernya yang sempat terseok-seok karena beberapa kali kalah beruntun, Afrizal pun mengalami tekanan psikologis. Azhar Latief, sang manajer, yang saya lihat cukup baik hubungannya dengan Afrizal bagaikan bapak dan anak, memberikan beberapa nasehat untuk memberi semangat petinju ini. Sayang, di kota Padang sendiri sarana berlatih dan rekan berlatih sparring sangat minim. Alhasil, sebelum bertanding dia hanya mempersiapkan seorang diri di Padang, dan biasanya 2 minggu jelang pertandingan dia bergabung dengan Sasana Bulungan, Jakarta di bawah asuhan Little Holmes.
Usahanya memang cukup diacungi jempol. Alhasil dia berhasil mempecundangi petinju berpukulan godam, Frans Yarangga, di Jakarta, guna meraih gelar juara nasional KTPI kelas bulu super dengan KO ronde 4. Sayang, dalam kesempatan pertama merebut gelar juara nasional kelas yang sama versi KTI Sabtu (31/3) lalu, Afrizal kalah angka dari Irvan Barita Marbun yang sempat membuatnya knockdown di ronde 3. Skill lumayan tinggi yang ditunjukkan Afrizal saat memukul KO Frans Yarangga seolah hilang malam itu. Afrizal banyak menerima pukulan dari Marbun, yang meski - menurut pengamatan saya - tidak cukup mematikan, namun mungkin karena akumulasi pukulan yang dia terima malam itu, terjadilah kejadian fatal tersebut.
Saya lihat di layar televisi, Afrizal menunjukkan kekecewaannya saat dinyatakan kalah angka. Saya pikir semua baik-baik saja. Namun sesaat setelah yang saya saksikan di layar televisi, bencana terjadi di ruang ganti. Dokter Putu Agus Partawirawan dari KTI bertindak sigap. Dia memeriksa kondisi Afrizal dan menanyakan apakah yang bersangkutan pusing, Afrizal menjawab tidak. Selanjutnya Dr. Putu berpesan jika Afrizal pusing atau muntah, harap segera dibawa ke RS terdekat. Beberapa menit kemudian, Afrizal ternyata muntah. Dokter Putu yang masih berada di lokasi pertandingan segera memerintahkan memboyong Afrizal ke RS dekat Indosiar yang merujuknya ke RS UKI. Dokter di RS UKI pun bertindak cepat melakukan CT-Scan, dan mendapati pecahnya pembuluh darah di sekitar otak Afrizal, dalam istilah medisnya disebut brain hemorrhage. Inilah yang dituding sebagai penyebab utama kematian para petinju baik di Indonesia maupun di dunia. Minggu pagi, setelah tim dokter dan peralatan operasi siap, Afrizal langsung menjalani operasi untuk menyedot darah yang mengaliri otak Afrizal.
Sekitar jam 14.30, operasi selesai dan Afrizal dibawa ke ruang ICU di RS UKI. Saat bezoek ke rumahsakit, saya hanya bisa berharap kondisi Afrizal tetap stabil dan berangsur-angsur meningkat. Saya juga tidak mampu mebisikkan apapun ke telinga Afrizal, karena takut bisikan saya justru mengganggu stabilitas emosi Afrizal. Apa daya, Tuhan berkehendak lain. Afrizal dipanggil ke pangkuannya pada pukul 5.00 pagi. Saya hanya berandai-andai Afrizal masih sempat melantunkan sholat subuh, walaupun hanya di dalam hati mengingat kondisinya dalam keadaan koma.
Siang ini, jenazah Afrizal akan diterbangkan ke kampung kelahirannya di Medan. Promotor Erick Irawan akan menyertainya dan menyerahkan kepada perwakilan keluarga Afrizal.
Kematian Afrizal dalam catatan saya adalah korban ke-27 dalam sejarah tinju di Indonesia.
Berikut daftar ring fatalities di Indonesia:
1. 1948; Surabaya: Jimmy Koko (opponent: Meyer)
2. 1950; Surabaya: Rocky Wang (or Ricky Huang)(opponent: VIC Suatman)
3. 1959; Surabaya: Robby Pav (opponent:Mohammad Yali)
4. 1961; ---: Sarono (opponent: Tan Hwa Soei)
5. 1978; Bandung: Atjeng Jim (opponent: Kai Siong)
6. 1979; ---: Nasir Kitu (opponent: unknown)
7. 1980; ---: Syamsul Bachri (opponent: unknown)
8. 1984; Jakarta: Domo Hutabarat (opponent: Dadang Krinsa)
9. 1985; --- : Suryanto (opponent: unknown)
10. 1987; Jayapura: Agus Souissa (opponent: Michael Arthur)
11. 1988; Blitar: Wahab Bahari (opponent: Hudi)
12. 1988; ---: Suryanto (opponent: John Bonnex)
13. 23 Desember 1990; Botang, Eastern Borneo: Bongguk Kendy (opponent: Bisenti Santoso)
14. 15 Juli 1993; Jakarta: Yance Samangun (opponent: Mahmud)
15. 11 Mei 1995; Jakarta: Akbar Maulana (opponent: Bugiarso)
16. 16 Juni 2000; Jakarta: Dipo Saloko (opponent: Roy Saragih)
17. 18 November 2000; Belawan: Bayu Young Iray (opponent: Herianto Kalam)
18. 11 Maret 2001; Bekasi: John Namtilu (opponent: Hasan Purba)
19. 2 April 2001; Cibinong: Muhammad Alfaridzi (opponent: Kongthawat Ora Sorkiti)
20. 28 Oktober 2001; Manado: Donny Maramis (opponent: Stenly Kalalo)
21. 4 Februari 2003; Jakarta: Johannes "Bones" Fransiscus (opponent: Slamet Nizar. "Bones" wafat pada 6 Februari 2003)
22. 21 September 2003; North Sumatera: Mula Sinaga - Petinju Amatir - (opponent: Asahan Tuerino. Mula Sinaga wafat pada 24 September 2003)
23. 23 januari 2004; Jakarta: Antonius Jonathan Mosse (opponent: Kaicho sor Vorapin)
24. 19 Februari 2004; Purwokerto: Jack Ryan (opponent: Syamsul Hidayat)
25. 05 Maret 2005; Jakarta: Hendrik Bira (opponent: Mones Arepas - Bira lost TKO in 3rd on March 3, 2005)
26. 16 Jun. 2006; Manado: Fadly Kasim - 22 years old (opponent: Jibril Soamole. Kasim lost TKO6)
27. 4 April 2012; Jakarta: Muhammad Afrizal (alias Afrizal Cotto) - 30 years old. (opponent: Irvan Barita Marbun. Afrizal lost UD on March 31)
Translate this article using Babelfish Yahoo Translator
10 comments:
Innalillahi wainnalillahin rojiun.
Smg amal ibadahnya diterime disisi Allah dan dosanya diampuni.
Slmt jln Afrizal
sory agak keluar topik.
GMN kabarnya Noldi yg lg tarung di jepang????? Smg menang. kalahin tuh ikan koki
turut berduka cita, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan..
rest in peace afrizal, semoga amal ibadah diterima di sisi Tuhan YME.
semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
sekaligus saya berharap agar dunia tinju Indonesia lebih mengutamakan faktor keselamatan.
RIP
untuk dimasa depan janganlah sungkan bagi pelatih untuk melemparkan handuk putih
keselamatan petinju itu penting lebih daripada yang lain
Selamat jalan, Muhammad Des Afrizal.....
Sy pernah berbicara kepadanya bahwa sy lebih suka memanggilnya dgn nama Muhammad Des Afrizal drpd nama Afrizal Cotto. Lalu dia bertanya, "Kenapa begitu,bang? Cotto itu nama keluarga sy, selain itu sy memang penggemar Miguel Cotto". Sy jawab, "Kalau sy ga mau sebut km Afrizal Cotto km mau apa?". Dia tertawa lepas.
Rindu, sy benar2 rindu & merasa sangat kehilangan. Sy kangen dgn telpon dr Afrizal dgn kata2 & suara khasnya, "Assalamu'alaikum.. Ini Afrizal,bang.. Bang Aryo apa kabar? Apa sudah ada jadwal utk sy lagi di Jepang,bang?". Lalu kami berbicara ngalor ngidul, biasanya dia menelpon sy cukup lama.. Pembicaraan terakhir dia mengatakan bahwa dia akan menikah tgl 15 April, namun takdir berkata lain.. :')
Sekali lg, selamat jalan sahabatku, semoga amal ibadahmu diberikan balasan yg setimpal & diberikan tempat yg terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yg km tinggalkan diberikan ketabahan. Amien..
Turut berbelasungkawa sedalam2nya buat Afrizal..
Semoga kelak kedepannya prioritas keselamatan petinju lebih ditingkatkan..
Ternyata bung as dan afrisal memiliki hubungan yg dekat. Pantas saja bung as merasa sangat kehilangan seperti kehilangan seorang sahabat. Semoga amal afrisal diterima oleh Tuhan YME dan kejadian tragis seperti ini gak akan terjadi lagi di indonesia juga tinju profesional di negara lain. Amen.
"koto" itu mmg nama fam di padang.
Saya juga lebih suka memanggil Muhammad des Afrizal, bukan Afrizal Cotto.
Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga amal ibadahnya diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan dapat tabah. Amin
Post a Comment