Kisah orang sukses yang hidup sengsara sebeloum dia meraih kesuksesan hasil dari kerja kerasnya tentu sudah sering kita dengar. Cerita seorang konglomerat yang berawal dari seorang kuli panggul tentu sudah sering pula kita dengar. Demikian juga dalam tinju, banyak para juara tinju berasal dari keluarga miskin seperti Muhammad Ali, Julio Cesar Chavez, hingga di masa modern Sergio Gabriel Martinez. Pernah sang legenda Muhammad Ali ditanya apakah dia menyesal menjadi petinju karena sekarang dia menderita sindrom Parkinson, Ali menjawab dengan tegas, “Tidak”. “Jika aku tidak bertinju, kini aku mungkin hanyalah seorang tukang cat jalan, profesi ayahku dulu,” jawab Ali saat itu.
Demikian pula kisah Daud Cino Yordan, yang hidup bergelimang kemiskinan di masa kecilnya. Sang juara kelas bulu IBO ini curhat kepada boxing-indonesia mengenai anaknya yang baru lahir, belum berusia 1 bulan, sudah hidup dalam kebahagiaan, fasilitas lengkap dengan popok sekali pakai impor, periksa ke dokter dengan diantar mobil nyaman ber AC, tidur dalam kamar yang nyaman, bersih dan sejuk karena AC.
Dia membandingkan dengan masa kecilnya, keluarga Daud tinggal di gubug sederhana di tengah ladang. Angin bebas menerobos masuk dalam gubug itu karena gubug itu tidak berdinding. Atap terbuat dari daun, lantai terbuat dari batang bambu, sehingga angin dingin bukan saja masuk dari samping, juga dari atap dan lantai. Bisa dibayangkan jika musim hujan seperti apa.
Daud yang masih bayi sering dibuai dengan ayunan yang dibuat dari kulit pohon, yang jelas sama sekali tidak nyaman. Sang ayah, Hermanus Lay Tjun dan ibu, Nathalia, menimang Daud kecil dengan ayunan tradisional itu. “Bokap mengayun dari depan dan nyokap mengayin dari belakang,” kisah Daud. Yang sungguh mengerikan, sewaktu ayah dan ibu Daud sedang pergi ke ladang untuk memanen, Daud kecil ditinggal sendirian di ayunan. Saat mereka kembali ke pondok, mereka mendapati seekor ular berbisa sudah membelit di tali ayunan dan siap-siap mematuk Daud.
Hingga usia 6 tahun, Daud tidak pernah merasakan dingin dan segarnya es. Saat pertama kali keluarganya memberi minuman es, Daud justru berteriak dan menangis histeris karena kepanasan. “Yah, saking “katrok”nya saya waktu itu tidak bisa membedakan antara panas dan dingin. Saya kira rasa dingin itu adalah rasa panas,” ujar Daud mengenang masa kecilnya yang penuh penderitaan.
Daud juga menceritakan kisah sang kakak, Damianus Yordan. Dami kecil, waktu itu SMP, bercita-cita membeli sebuah sepeda. Untuk itu dia menabung getah karet hingga beberapa lama, sampai akhirnya dia perkirakan beratnya cukup untuk dijual dan uangnya bisa untuk membeli sepeda idamannya. Kemudian dia berangkatlah ke toko dan karet tersebut ditimbang. Alangkah terkejutnya, uang pembayaran karet tersebut tidak sampai separuhnya untuk membeli sepeda. Rupanya boss toko karet memotong pendapatan Dami kecil atas hutang-hutang ayahnya sewaktu masih bujangan. "Bayangkan, hutang ayah saya semasa bujangan masih ditagih ke Bang Dami saat dia sudah di bangku SMP," keluh Daud.
Untunglah segala penderitaan masa kecil keluarga Daud dan Damianus kini sudah bisa ditebus atas hasil jerih payah mereka. Hasil bertinju, apalagi dengan gelar juara IBO kelas bulu, walaupun tidak berlimpah ruah seperti pendapatan Manny Pacquiao (petinju ini juga hidup dalam kelam kemiskinan di masa kecilnya), tentulah sudah bisa membuat kehidupan keluarga mereka hidup layak.
Semoga Daud bisa menjaga semua asetnya, sehingga kelangsungan hidup layak keluarga mereka bisa berlanjut.
Translate this article using Babelfish Yahoo Translator
Tuesday, January 8, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
6 comments:
disco
cerita yang sangat menarik bung...mungkin (waktu itu) daud memang miskin harta tapi dia belum sadar bahwa sesungguhnya dia memiliki kekayaan terpendam berupa bakat tinju alami dan keganasan hutan belantara borneo tanpa disadarinya menempa dirinya jadi petarung tangguh...salam buat keluarga daud dan jagoannya miguel yordan
mudah2an jadi pemicunya agar tambah berprestasi di dunia tinju lagi.. dan mudah2an jangan ada yg coment pake nama sayaa lagi... ~_~"
Wah..kisah yg sangat inspiratif.Kemiskinan memang dapat membuat seseorang jadi kuat!!Bravo Daud Cino Yordan!!
Ada yg tahu info soal pertarungan Daud berikutnya?
MAKANYA KALAU MAU JADI PETINJU HEBAT DAN KAYA RAYA HARUS MELARAT DAN MISKIN DULU....HAHAHAHHA
info lawan daud selanjutnya dapat ditanyakan kepada team chris john. daud hanya bertanding sebagai undercard Chris john. Daud calon juara IBO terlama didunia 20 x mempertahankan...
Setelah curhat Daud ini tayang, scr kebetulan saya baca ada peristiwa serupa dgn daud mau dipatuk ular, tp di australia. Tp bayi ini lbh apes krn sudah sempat dipatuk:
An Australian toddler had a lucky escape after being attacked by a python
which wrapped itself around the sleeping child's arm and then began
constricting and biting the infant.
Snake handler Tex Tillis said the two-year-old girl's mother woke at 3:00 am
on Saturday to find the 1.85 metre (six foot) reptile attached to her child
as they lay in bed in Lismore, about 600 kilometres (370 miles) north of
Sydney.
"She saw three coils of what looked like a snake around her baby's arm. She
naturally freaked, but with presence of mind... she went for what she
thought was the snake's head," Tillis told AFP on Monday.
But in the dark, the mother grabbed the snake below the its head, meaning
when the animal panicked it had enough room to attack.
"It immediately started to constrict the baby's arm and to bite the baby,"
he said.
"The mother then very, very courageously... pulled the snake off the baby."
Tillis said the mother did not know the snake was non-venomous when she
ripped it off her child and flung it into the corner of the room.
The toddler was taken to hospital but suffered only three superficial
wounds, said Tillis, adding that he later took the reptile to visit the
child and her mother, who named it Cecil.
Post a Comment