Juan Manuel Marquez Mendez adalah penantang no. 1 WBO, saat petinju eksentrik Prince Nassem Hamed menjadi juara kelas bulu, dan selama dua tahun itu pula Marquez harus diuji kesabarannya, karena Hamed tak kunjung bersedia meladeni tantangannya, sampai akhirnya datang kesempatan emas, saat dia menantang juara kelas bulu WBA Freddy Norwood asal AS bulan September 1999. Keduanya sama-sama jatuh dalam pertarungan sengit itu, namun Marquez dinyatakan kalah angka, dan kubu Marquez menyatakan bahwa kekalahan itu kontroversial, dan merasa dirampok.
Kesempatan kedua datang pada Februari 2002, dimana Marquez bertanding melawan rekan senegaranya, Manuel Medina, untuk memperebutkan gelar IBF kelas bulu nyang lowong di Las Vegas. Kali ini Marquez sukses dengan kemenangan TKO ronde 7, dan berhak memboyong sabuk juara IBF kelas bulu. Sejak itu pula, nama Marquez melambung dan disebut-sebut sebagai petinju kelas bulu terbaik pada saat itu, apalagi setelah melakukan unifikasi gelar setelah menundukkan juara WBA Derrick Gainer dengan angka di bulan November 2003.
Marquez langsung dipertemukan dengan petinju Filipina yang tengah naik daun, terkenal sebagai si pukulan maut, Manny Pacquiao, yang baru saja menumbangkan raja Meksiko, Marco Antonio Barrera. Pertarungan dua petinju berkarakter keras ini cukup menarik, namun di ronde pertama El Dinamita, julukan Marquez, harus mencium kanvas tiga kali terkena sengatan pukulan Pacquiao. Saat itu yang dipakai adalah peraturan IBF, di mana pada aturan saat itu tidak mengenal three knock down rule, sehingga Marquez lolos dari kekalahan memalukan, TKO di ronde pertama. Ronde demi ronde berikutnya, Marquez lebih berhati-hati, dan tidak berani main adu pukul melawan Pacquiao. Alhasil, dia berhasil mengumpulkan banyak nilai, sehingga pertandingan berakhir seri . Kedua kubu mengklaim bahwa petinjunya dicurangi. Tapi setelah pertandingan, hakim Burt Clements, mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan penilaian pada ronde 1. Hakim lain memberikan skor 10-6 buat Pacquiao karena Marquez mengalami tiga kali knock down, sedangkan Clements memberikan nilai 10-7, sehingga dia menyimpulkan skor akhir seri (113-113). Jika Clements tidak melakukan kesalahan, dipastikan Pacquiao menang angka atas Marquez.
Di tahun 2006, Marquez harus meladeni tantangan sang Naga dari tanah Jawa, Chris John, juara WBA di Tenggarong, Kalimantan Timur. Promotor HM Arsyad yang membeli hak tanding kedua petinju itu memanggungkan Chris John vs JM Marquez pada bulan Maret 2006. Marquez sempat dicibirkan orang, karena menerima bayaran hanya US$ 30,000 dibandingkan tawaran bayaran untuk tanding ulang melawan Pacquiao sebesar US$ 700,000. Jaime Quintana, manajer bisnis Marquez, kepada penulis, berkilah bahwa bayarang sebesar US$ 700,000 tidak cukup besar dibandingkan gengsi tanding ulang lawan Pacquiao, maka dia pilih US$ 30,000 untuk melawan Chris John.
Chris John yang tadinya diremehkan, baik oleh publik sendiri maupun dunia, ternyata mampu tampil luar biasa, pukulan-pukulannya, yang tidak terlalu keras dan dijuluki sebagai pukulan nyamuk, selalui mendului Marquez yang mengintimidasi dengan pukulan-pukulan tajam dan keras ke arah perut dan ulu hati. Sempat dipotong nilainya dua kali akibat low blow, Marquez akhirnya harus mengakui keunggulan Chris John yang menang angka mutlak. Dan seperti yang sudah-sudah, kubu Marquez, melalui Jaime Quintana sang manajer bisnis, merasa petinjunya dirampok.
Pasca kekalahan menyakitkan dari Chris John, Marquez naik ke kelas ringan yunior, dan sukses sebagai juara WBO dan kemudian WBC, telah beberapa kali mempertahankan gelar melawan Barrera kali kedua dan Rocky Juarez.
Kini, genderang perang melawan sang Pembunuh Meksiko, Manny Pacquiao, sudah ditabuh. Dari tiga petinju hebat Meksiko, Erik Morales, Marco Antonio Barrera dan Marquez, hanya Marquez yang masih lolos dari kekalahan.
Mari kita sama-sama tunggu kiprah dua jagoan keras ini pada hari Minggu siang, 16 Maret 2008 dari layar Trans TV, yang berencana menyiarkan langsung dari Mandalay Bay Resort & Casino, Las Vegas, Nevada, AS.
Kesempatan kedua datang pada Februari 2002, dimana Marquez bertanding melawan rekan senegaranya, Manuel Medina, untuk memperebutkan gelar IBF kelas bulu nyang lowong di Las Vegas. Kali ini Marquez sukses dengan kemenangan TKO ronde 7, dan berhak memboyong sabuk juara IBF kelas bulu. Sejak itu pula, nama Marquez melambung dan disebut-sebut sebagai petinju kelas bulu terbaik pada saat itu, apalagi setelah melakukan unifikasi gelar setelah menundukkan juara WBA Derrick Gainer dengan angka di bulan November 2003.
Marquez langsung dipertemukan dengan petinju Filipina yang tengah naik daun, terkenal sebagai si pukulan maut, Manny Pacquiao, yang baru saja menumbangkan raja Meksiko, Marco Antonio Barrera. Pertarungan dua petinju berkarakter keras ini cukup menarik, namun di ronde pertama El Dinamita, julukan Marquez, harus mencium kanvas tiga kali terkena sengatan pukulan Pacquiao. Saat itu yang dipakai adalah peraturan IBF, di mana pada aturan saat itu tidak mengenal three knock down rule, sehingga Marquez lolos dari kekalahan memalukan, TKO di ronde pertama. Ronde demi ronde berikutnya, Marquez lebih berhati-hati, dan tidak berani main adu pukul melawan Pacquiao. Alhasil, dia berhasil mengumpulkan banyak nilai, sehingga pertandingan berakhir seri . Kedua kubu mengklaim bahwa petinjunya dicurangi. Tapi setelah pertandingan, hakim Burt Clements, mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan penilaian pada ronde 1. Hakim lain memberikan skor 10-6 buat Pacquiao karena Marquez mengalami tiga kali knock down, sedangkan Clements memberikan nilai 10-7, sehingga dia menyimpulkan skor akhir seri (113-113). Jika Clements tidak melakukan kesalahan, dipastikan Pacquiao menang angka atas Marquez.
Di tahun 2006, Marquez harus meladeni tantangan sang Naga dari tanah Jawa, Chris John, juara WBA di Tenggarong, Kalimantan Timur. Promotor HM Arsyad yang membeli hak tanding kedua petinju itu memanggungkan Chris John vs JM Marquez pada bulan Maret 2006. Marquez sempat dicibirkan orang, karena menerima bayaran hanya US$ 30,000 dibandingkan tawaran bayaran untuk tanding ulang melawan Pacquiao sebesar US$ 700,000. Jaime Quintana, manajer bisnis Marquez, kepada penulis, berkilah bahwa bayarang sebesar US$ 700,000 tidak cukup besar dibandingkan gengsi tanding ulang lawan Pacquiao, maka dia pilih US$ 30,000 untuk melawan Chris John.
Chris John yang tadinya diremehkan, baik oleh publik sendiri maupun dunia, ternyata mampu tampil luar biasa, pukulan-pukulannya, yang tidak terlalu keras dan dijuluki sebagai pukulan nyamuk, selalui mendului Marquez yang mengintimidasi dengan pukulan-pukulan tajam dan keras ke arah perut dan ulu hati. Sempat dipotong nilainya dua kali akibat low blow, Marquez akhirnya harus mengakui keunggulan Chris John yang menang angka mutlak. Dan seperti yang sudah-sudah, kubu Marquez, melalui Jaime Quintana sang manajer bisnis, merasa petinjunya dirampok.
Pasca kekalahan menyakitkan dari Chris John, Marquez naik ke kelas ringan yunior, dan sukses sebagai juara WBO dan kemudian WBC, telah beberapa kali mempertahankan gelar melawan Barrera kali kedua dan Rocky Juarez.
Kini, genderang perang melawan sang Pembunuh Meksiko, Manny Pacquiao, sudah ditabuh. Dari tiga petinju hebat Meksiko, Erik Morales, Marco Antonio Barrera dan Marquez, hanya Marquez yang masih lolos dari kekalahan.
Mari kita sama-sama tunggu kiprah dua jagoan keras ini pada hari Minggu siang, 16 Maret 2008 dari layar Trans TV, yang berencana menyiarkan langsung dari Mandalay Bay Resort & Casino, Las Vegas, Nevada, AS.
Foto: Juan Manuel Marquez (kiri) saat berhadapan dengan Chris John.
Jeffrey Pamungkas © 2006
No comments:
Post a Comment