Saya sungguh tercekat dan termenung cukup dalam ketika mendengar nickname atau nama julukan petinju Heri Amol diumumkan dengan lantang oleh MC Ring Edwin Dwinanto, pada tayangan Best Boxing di Trans 7, 24 Mei 2008. Nama julukan Amol adalah “The Korean Assassin”. Bagi saya ini dalah nama julukan yang sangat provokatif. Bagi sebagian orang, mungkin masalah ini terdengar sepele, apalah arti sebuah nama?
Namun jika masalah yang terdengar sepele ini, jika sempat terdengar komunitas tinju internasional, dipastikan Indonesia kembali akan kebanjiran kecaman, karena nama provokatif yang dipergunakan oleh Heri Amol.
Masalah nama “The Korean Assassin” yang terdengar gagah itu, tentulah terinspirasi, kalau tidak mau dikatakan meniru, nickname “The Mexican Assassin” yang disandang oleh Manny Pacquiao. Tentu ini bukan sekedar tiru meniru nama, melainkan ada sesuatu yang tidak etis dengan nama Amol.
Pada pertandingan malam natal 24 Desember 2007, Heri Amol memukul roboh mantan juara kelas terbang WBC, Yo Sam Choi. Choi yang diputuskan menang angka tersebut akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah menjalani operasi otak dan koma selama hampir satu minggu lamanya. Mungkin peristiwa ini yang mengilhami kubu Amol menggunakan nama The Korean Assassin itu. Dan anehnya, nama itu seperti mendapat sambutan hangat dari pihak televisi, karena selain disebutkan dengan lantang, juga dijadikan pertanyaan dalam kuis: “Siapakah nama julukan Heri Amol?” jawabannya “The Korean Assassin”.
Persoalannya bukan masalah boleh atau tidak boleh menggunakan nama tersebut, tapi ini adalah masalah hati nurani, etika, sportivitas dan empati. Apakah Amol memang memiliki niat dan sengaja membunuh Choi di atas ring, sehingga bangga disebut sebagai “Pembunuh Orang Korea”? Jika memang demikian, sebaiknya Heri Amol tidak lagi melanjutkan kariernya sebagai petinju. Seorang petinju diharapkan memiliki hati nurani, etika, sportivitas dan empati, dan petinju pembunuh macam Amol sebaiknya dicabut lisensi bertinjunya. Maaf jika saya terlalu kasar, namun nama julukan Heri Amol terasa jauh lebih kasar dari sekedar himbauan saya ini.
Olahraga tinju di dunia ini sedang menghadapi tantangan berat akibat protes dari pihak medis, akibat banyaknya kematian di atas ring. Sebagai insan tinju, seharusnya menjadi duta olahraga tinju dan menunjukkan bahwa olahraga tinju bukanlah olahraga barbar dan bertujuan membunuh lawannya. Lewat tulisanini, saya hanya bisa menghimbau kepada Heri Amol, supaya mengganti nama julukannya. Badan tinju yang mengawasi pertandingan yang menaungi pertandingan Heri Amol juga diharapkan memberi bimbingan kepada Amol, karena membimbing dan membina memang merupakan peran badan tinju.
Nama yang tak memiliki empati macam ini tampaknya baru pertama kali terjadi di dunia. Bahkan seorang petinju sebesar Manny Pacquiao yang tak pernah sekalipun "membunuh” lawan di atas ring, baru-baru ini mengungkapkan ketidaksukaannya pada stigma “The Mexican Assassin” yang diberikan pers kepadanya. “Saya bukan pembunuh, dan saya tidak ada masaah dengan orang-orang Meksiko. Jangan panggil saya The Mexican Assassin lagi,” pinta Pacquiao dengan rendah hati dan manusiawi.
Bagaimana Amol? Masihkah bangga dengan stigma pembunuh Anda? Igat, olahraga tinju bukanlah olahraga barbar!
Sunday, May 25, 2008
"The Korean Assassin" - Nama Julukan Heri Amol yang Provokatif
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.
1 comment:
Julukan yg sangat sangat sangat tidak etis..
Post a Comment