Tim tinju AS pada olimpiade Beijing 2008 ini berantakan, setelah hanya mampu menyisakan 1 petinju yang berhasil melaju babak semi final. Petinju kelas berat Deontay Wilder berhasil mengamankan wajah AS untuk sementara waktu setelah mencatat kemenangan angka tipis atas petinju Maroko, Mohammed Arjaoui, dengan angka 23-22. Penampilan Wilder sempat mengkhawatirkan, karena dia tertinggal terlebih dulu dari Arjaoui, bahkan Wilder sempat menerima potongan angka karena melakukan beberapa kali holding (clinch). Namun akhirnya Wilder berhasil mengungguli Arjaoui dengan angka tipis dan dramatis.Penampilan buruk Wilder diakui karena masalah mentalnya yang terpukul, setelah shock karena di dua partai sebelumnya, juara dunia amatir kelas welter tahun 2007, Demetrius Andrade, rekan setim Wilder, takluk dari petinju Korea Selatan, Jung Joo Kim, dengan skor 11-9. Kim adalah peraih medali perunggu Olimpiade 2004. Wilder sangat shock dan terpengaruh oleh kekalahan Andarde, karena Andarde menangis dengan begitu emosional di kamar ganti tim AS sesaat setelah kalah. Bahkan dikabarkan Wilder sangat larut dalam kesedihan rekan setimnya`dan ikut menangis. Wilder kemudian membujuk Andarde agar berhenti menangis karena khawatir mempengaruhi penampilannya. Kekalahan Andarde mengingatkan pada kekalahan Roy Jones Jr. di olimpiade Seoul 1988 yang sangat kontroversial.
Dengan kekuatan 9 petinju, AS diharapkan tampil memikat pada olimpiade kali ini, tapi tampaknya kenyataan berkata lain. Deontay Wilder akan turun di semi final kelas berat pada hari Jumat melawan petinju Italia, Clemente Russo. Langkah Wilder juga sepertinya akan menemui rintangan besar, karena yang dihadapi, Clemente Russo, adalah juara dunia amatir kelas berat tahun 2007.
Pemerhati tinju AS tampaknya harus menahan napas panjang, karena prestasi Wilder dan Russo sangat amat njomplang. Selain juara dunia, Russo juga merupakan juara Eropa dua kali (2005 dan 2007), sedang prestasi Wilder, barulah sekedar menjadi juara nasional AS. Menyitir salah satu ayat dalam Kitab Suci (bible), tampaknya peluang Wilder kali ini "lebih sulit daripada seekor onta masuk ke dalam lubang jarum".
Catatan:
Pertandingan Wilder vs Arjaoui berlangsung begitu menegangkan. Sampai akhir ronde 4 (terakhir), skor kedua petinju imbang, 22-22. Hasil ini merupakan hasil pencatatan elektronik, di mana jika kelima juri memencet tombol tanda pukulan masuk (merah atau biru sesuai sudut petinju yang mendaratkan pukulan) secara bersamaan, maka petinju tersebut mendapat 1 skor.
Karena hasilnya seri (22-22), maka akumulasi pukulan kedua petinju yang dianggap masuk oleh kelima juri diperhitungkan sebagai penentu kemenangan. Hasilnya, kelima juri mencatat bahwa Wilder lebih banyak memasukkan pukulan dibanding Arjaoui. Maka Wilder diberi satu poin tambahan yang menentukan. Pemenangnya adalah yang memperoleh "suara" terbanyak, atau minimal 3 dari 5 juri dalam tinju amatir mencatat Wilder lebih banyak memasukkan pukulan daripada Arjaoui.
Sumber: USA Boxing
No comments:
Post a Comment