Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Friday, December 5, 2008

Oscar de la Hoya vs Manny Pacquiao: Size does Matter!

Pertandingan Manny Pacquiao vs Oscar de la Hoya pada 6 Desember mendatang atau minggu pagi waktu Indonesia (yang direncanakan disiarkan oleh TVOne), mengundang banyak kontroversi. Banyak yang mencibir pertandingan ini tidak bermutu, karena Oscar de la Hoya yang telah menjelajah hingga kelas menengah super, rela turun ke bawah, kembali hingga ke kelas welter guna meladeni tantangan Manny Pacquiao yang harus menggelembungkan berat badannya sekitar 5 kg. dari berat badan tanding terakhir di kelas ringan. Catatan: "wah, kok saya jadi teringat pada para eks menteri kita yang kini "turun ke kelas yang lebih ringan", dengan mengikuti pilkada, baik walikota, bupati, gubernur, dll"),

Banyak juga yang menyatakan bahwa pertarungan ini akan berlangsung seru, terutama dari para fans Pacquiao, yang yakin dengan segala kekurangan fisiknya, Pacquiao akan bisa meladeni Oscar de la Hoya yang saat ini sedang berkemas menyiapkan masa pensiun, dan 100% konsentrasi sebagai promotor tinju. Para pendukung Pacquiao itu yakin, setelah menandaskan seluruh lawan terbaik dari Meksiko di kelasnya, Pacquiao tak akan kesulitan melawan de la Hoya. Apalagi Oscar hanya mampu menang angka atas mantan juara kelas ringan Steve Forbes, yang secara kemampuan jauh di bawah Manny Pacquiao.

Saya sendiri meramalkan Oscar de la Hoya tidak akan menemui banyak kesulitan untuk mengandaskan Pacquiao. Semata-mata alasan saya adalah karena masalah fisik. Secara skill dan teknis bertinju, saya kira de la Hoya maupun Pacquiao seimbang. Tinggal masalah fisik dan faktor X yang menentukan.

Saya tidak akan berbicara masalah faktor X, selain hanya sedikit mengungkapkan ulasan yang pernah saya baca, bahwa bisa jadi Oscar de la Hoya akan memberikan kemenangan kepada Pacquiao, karena dia perlu menarik Pacquiao dari pelukan Bob Arum, dan menjadikannya tambang emas baru, di kala de la Hoya sudah pensiun, dan berkonsentrasi penuh menjadi promotor. Tapi itu hanyalah ulasan yang susah untuk dianalisis. Saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai hal ini.

Dengan tinggi badan 179 cm dan jangkauan 185 cm., de la Hoya akan senantiasa mengganjal lawannya yang lebih pendek dengan jab-jab dan straight, sehingga Pacquiao (T/B: 169, J: 170 cm), kesulitan menembusnya. Selama ini, lawan-lawan yang dikalahkan Pacquiao ukuran fisiknya seimbang, dan rasanya dia belum pernah mendapat lawan yang ‘menjulang’ seperti de la Hoya. Jikapun Pacquiao lolos dari ganjalan jab-straight de la Hoya, hook dan uppercut peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 (kelas ringan) ini masih lebih berat daripada berondongan pukulan Pacquiao.

Selain itu, Oscar sendiri adalah murni petinju kelas menengah, walaupun dia memulai karir dari kelas ringan. Sekeras-kerasnya pukulan Pacquiao yang berangkat dari kelas bulu sebelum akhirnya menjuarai kelas ringan, tidak akan seberat pukulan Bernard Hopkins yang telah merobohkan de la Hoya. Yah, itu memang analisis kelas kampung dari saya, yang istilahnya ‘gak usah lu omongin, gua juga udah tahu…”.

Tapi memang itulah kenyataannya. Saya tidak perlu berbusa-busa menganalisis teknis kedua petinju (padahal belum tentu benar). Contoh kasus tinju dengan gap fisik mencolok bahkan pernah juga dialami de la Hoya, saat dia dipermalukan oleh Bernard Hopkins, menyerah KO ronde 9. Hopkins yang jauh lebih tinggi dan kekar (T/B 185 cm, J: 191 cm), tidak mampu ditembus oleh de la Hoya yang coba merangsek dengan pukulan jarak dekat, namun dengan mudah Hopkins mencegat de la Hoya yang frustrasi dan akhirnya ‘merobohkan diri’ di ronde 9, dan menyerah KO, walaupun kelihatannya pukulan Hopkins tidak bersarang terlalu keras ke ulu hati de la Hoya. Namun de la Hoya tampak meringis kesakitan dan tak mau bangkit setelah hitungan 10.

Pacquiao tak bisa dibandingkan dengan Steve Forbes. Forbes cenderung defensif, susah buat Oscar untuk 'masuk', sedangkan Pacquiao yang agresif, akan senantiasa menjadi makanan empuk de la Hoya.

Yah, saya adalah seorang yang percaya hal-hal logis, dan sekiranya, ungkapan “Size does matter” tampaknya berlaku dalam tinju. Juga dalam teori tinju yang belaku umum, jika seorang petinju menaikkan bobotnya secara drastis, maka secara alamiah, kecepatannya akan berkurang. Yah, itu adalah teori, yang terkadang (atau malah sering) tidak sesuai dengan praktek di lapangan. Yah namanya juga ramalan dan prediksi. Jika kelak ramalan saya salah, saya tak akan ragu dan malu meralat pandangan saya.

Yuk, kita tongkrongin sama-sama layar TV One, Minggu pagi, 7 Desember, mulai jam 09.00. Semoga PLN berada di pihak saya, sehingga listrik di rumah saya tidak padam pada hari H tersebut... Juga anak saya tidak merecokkin saya mengajak main bola, sehingga saya bisa menikmati pertandingan dengan konsetrasi penuh :o)

5 comments:

Anonymous said...

Size obviously matter.
Setuju sekali boz.
Prediksi anda jauh lebih akurat dibanding komentator tinju TV One. hehehe....

Yg seru nanti nih januari, Margarito Vs. Mosley. mudah2xan ada siaran langsungnya.

-DD-

Anonymous said...

Generally...I agree with you...your the expert...hehehehe..but let's see..Manny has a lot of heart...for sure he will fight his guts out

Anonymous said...

mas omong2 de la hoya itu memulai karirnya dari kelas bulu super bukan kelas ringan

-DV-

Anonymous said...

Saya fans PacMan tp memang komentar Bung Jeffrey sangat masuk akal. Kecuali bermain spt Roy Jones yg dulu pukul lari dg Ruiz, saya rasa PacMan akan maju ke depan dan Oscar dapat memukul dengan mudah.

AS

Jeffrey Pamungkas said...

Yah... karena Pacman petinju slugger, maka dia akan jadi makanan empuk Oscar. Entahlah kalau coach Roach menyuruh Pacquiao bermain hit and run, bisa jadi dia menangn angka atas Oscar, taua paling tidak dia tidak akan kena KO.

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.