Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Thursday, February 16, 2012

Penelitian Mengenai Keselamatan dalam Tinju

Ada sebuah pertanyaan kuno mengenai tinju yang belum bisa terjawab hingga kini: “Mengapa ada petinju yang rutin bertanding selama berpuluh-puluh tahun, tapi tidak mengalami masalah apapun hingga masa tuanya; sedangkan ada beberapa petinju dengan durasi dan frekuensi bertinju yang sebanding, bahkan tidak sedikit yang jauh di bawah itu, mengalami masalah dengan kesehatannya (yang berhubungan dengan kerusakan syaraf/otak)?” Pertanyaan yang sama juga terdapat pada olahraga jenis lain seperti MMA, kick boxing, bela diri lain, bahkan dalam cabang American Football.

Tahun 1928, para dokter sudah meneliti penyebab kerusakan otak pada olahraga tinju. Saat itu, Dr. Harrison S. Martland menyimpulkan hasil observasinya, bahwa petinju yang mengalami tanda-tanda kerusakan syaraf atau otak adalah para petinju dengan gaya slugger. Juga beberapa petinju yang digunakan sebagai “sansak hidup” dalam latihan sparring atau yang mengalami knockdown beberapa kali dalam sehari, mengalami tanda-tanda kerusakan syaraf atau otak. Tapi nyatanya, kesimpulan observasi kuno tersebut tidak sepenuhnya berlaku. Ada beberapa atlet (petinju) yang banyak menerima pukulan selama karirnya, ternyata sehat-sehat saja hingga masa tuanya.

Investigasi tersebut kini dibuka ulang, kali ini oleh Dr, Charles Bernic dan team di Las Vegas. “Kita tidak dalam rangka menghentikan olahraga full body contact tersebut, tetapi kami ingin melindungi para atlet dari masalah otak secara jangka panjang,” ujar Dr. Bernick.

Sebanyak 148 atlet dari cabor tinju dan MMA sudah diteliti di Cleveland Clinic's new Lou Ruvo Center for Brain Health, Las Vegas. Para peneliti itu berharap paling tidak ada 600 atlet bisa ambil bagian sebagai onyek penelitian mereka.

“Ini adalah profesi saya dan saya menginginkan usia panjang dan sehat,” ujar Diego Magdaleno, petinju kelas bulu super yang belum terkalahkan, kini menduduki peringkat 2 WBA. “Jika ada sesuatu yang bisa mencegah cedera yang fatal, saya siap melakukannya.” Magdaleno yang sudah bertanding 132 kali di amatir dan 21 kali di profesional, menjadi partisipan penelitian bersama adiknya, Jesse, juga petinju pro.

Ahli syaraf pribadi petinju besar Muhammad Ali, yang baru saja merayakan ultah ke-70, yang ikut didengarkan pendapatnya, menyatakan bahwa dirinya tidak setuju bahwa penyakit Parkinson Syndrome yang diderita Ali berhubungan dengan olahraga yang telah melambungkan namanya tersebut.

Para atlet yang mengikuti penelitian tersebut, pertama-tama disuruh melakukan test MRI kepala serta beberapa tes kognitif dan memori. Kemudian para dokter mengamati masalah kejiwaan mereka melalui serangkaian tes lanjutan. Hasil tes tersebut akan menjadi patokan tes tahunan, dan para peneliti mempelajari data-data tersebut, apakah mereka saling berkaitan satu sama lain.

“Kami berharap penelitian ini bisa berlangsung selamanya, tapi kami paling tidak memerlukan waktu 4 tahun untuk bisa menarik suatu kesimpulan,” ujar Dr. Bernick.







Sumber: ABC News






Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

6 comments:

jerry pratama said...

banyak petinju yang bertanding lebih dari 100 bahkan sampai 250 kali bertanding tidak ada gangguan saraf

tidak semua dikarena beturan di kepala tapi ada juga faktor lain

dalam kasus muhammad ali sebenarnya bukan cuma karena benturan tapi faktor karena kelelahan yang sangat hebat dan bedanya peraturan bertanding amatir waktu itu

rata-rata petinju memiiki kemampuan yang berbeda-beda mengenai resistansi pukulan

Jeffrey Pamungkas said...

Aktor Michael J. Fox menderita parkinson, padahal dia sama sekali bukan petinju. Di kick andy juga pernah diwawancara penderita parkinson, dan dia pastilah bukan petinju/mantan petinju. Saya kira terlalu dini menyimpulkan parkinsonnya Ali dengan tinju.

pelatih el chino said...

kalau mma, muaythai sih saya percaya bisa menyebabkan kerusakan syaraf. ga mati aja itu orang udah sukur. wekekeke
masa kepala orang diadu sama kaki telanjang, sikut, lutut.
itu bukan olahraga, tapi sabung ayam

jerry pratama said...

betur juga sih sebenarnya trauma otak itu bukan cuma karena benturan

jake lamotta saja masih sehat sampai sekarang

faz said...

Parkinson bukan karena bertinju, pada dasarnya parkinson bisa dimiliki siapa saja, mungkin sekali faktor genetik berperan. Tp mungkin benturan(pola hidup) mempercepat prosesnya.

Sementara kematian di ring adalah umumnya adalah trauma otak karena benturan, kelelahan dan faktor lainnya. Setiap manusia terlahir berbeda, baik itu yang nampak diluar maupun yang tak nampak. Ibarat petinju, ada yg punya dagu kaca, dagu beton ato dagu besi. Sangat beragam, demikian pula dengan susunan tulang, jaringan syaraf, bentuk kepala. Hal ini tak dapat diduga, tetapi faktor banyaknya pukulan dan kelelahan dapat diminimalkan, inilah fungsi badan tinju, panitia, wasit dan juga ringside si petinju sendiri.

john_alvins said...

hadehhh... ni situs tinju apa politik yaa... stresss semua anggotanya.. hahaha :D

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.