Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman

Sunday, January 27, 2013

RIP Tubagus Sakti

Tubagus Sakti yang sempat dirawat karena menderita pendarahan otak di sebelah kanan usai bertanding melawan Ichal Tobidal di ring tinju TVRI Sabtu (25/1), akhirnya menghembuskan nafas terakhir siang ini, Minggu, 26 Jan, sekitar pukul 13.30 di RS UKI, Jakarta.

Selamat jalan kawan, semoga arwahmu mendapatkan tempat disisi Tuhan YME.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

19 comments:

johnalvin said...

Amin..

Anonymous said...

lawan nya tidak sport if. Sdh menyerah masih di serang. Parah.

Lamon T said...

Semoga beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan YME.

Bodok said...

RIP Tubagus Sakti dan korban ring tinju Indonesia lainnya.Kejadian seperti ini semoga tidak terulang lagi di masa depan.standar keselamatan petinju harus ditingkatkan

Anonymous said...

RIP, semoga tidak akan terulang lagi kejadian2 seperti ini

btw umurnya baru 17 tahun udah tanding 11x, apa mungkin itu salah satu penyebabnya?

Anonymous said...

RIP Tubagus Sakti..

to bung anonymous, IMO ini bukan masalah lawan tidak sportif... tapi lebih ke wasit yang kurang cepat reaksinya untuk menghentikan pertandingan .

salam,

Bagus

Anonymous said...

bagi yg ntn tentu lihat. Wasit sdh stop, lawan nya masih memukul.

Anonymous said...

Lawannya tdk sportif...org sudah angkat tangan menyerah masih pukul,,,ditambah lagi dgn wasit yg tdk becus...harusnya wasit bertindak cepat dgn menghentikan pertandingan...

S'lamat jln kawan,,,

Aryo Sulkhan said...

Menurut sy, kita semua tdk bisa saling menyalahkan. Bila kita mencari kesalahan, semua bertanggung jawab atas terjadinya kematian petinju setelah bertanding. Entah itu badan tinju, promotor, wasit, manager, pelatih, penonton, atau bahkan sang petinju itu sendiri.

Sy lihat dari segi wasit sdh cukup sigap, meskipun bbrp teman2 member boxing-indonesia menganggap bahwa wasit G.Borlack malam itu kurang tegas. Saat Tubagus terlihat gontai, wasit sdh mulai mendekat & mengamati kondisi Tubagus saat itu. Kemudian wasit langsung menghentikan pertarungan saat Tubagus tampak semakin gontai. Sy kira itu sudah benar & sesuai peraturan. Juga ada kesalahan dr Ical Tobida, yaitu sikapnya yg menyebalkan & tdk memiliki jiwa sportivitas. Hanya itu saja kesalahannya, bukan yg lain seperti faktor kesengajaan memukul belakang kepala, memukul saat pertandingan sdh dihentikan, dll. Menurut sy pukulan yg dilakukan oleh Ical itu tdk disengaja, Ical hanya tdk bisa mengendalikan emosi saja.

Sbg catatan, ada banyak petinju yg terlihat kondisinya lebih "mengerikan" dibanding Tubagus malam itu. Sy ingat sekitar tahun 1999 atau 2000 dlm pertandingan GTPI antara Rio Saragih melawan Ahmad Mandar. Saat itu kondisi Rio Saragih jauh lebih menakutkan. Sebuah pukulan hook menghantam telak rahang Rio Saragih hingga mengakibatkan Rio Saragih pingsan dlm kondisi berdiri, kemudian dilanjutkan dengan 3 pukulan hook saat Rio masih dlm kondisi berdiri namun sdh tdk sadar, lalu pertandingan dihentikan & Rio Saragih dinyatakan kalah TKO. Sy hampir tdk percaya setelah kejadian tsb Rio Saragih sanggup bertanding kembali. Bahkan beberapa bulan kemudian Rio sanggup membalas kekalahannya atas Ahmad Mandar dengan kemenangan TKO di ronde ke 4.

Semua kembali ke takdir, memang tinju adlh olahraga yg sangat beresiko, bahkan di negara maju sekalipun, yg namanya kematian ptnju tetap bisa saja terjadi. Memang hal tsb bisa diantisipasi, namun setiap ptnju memiliki daya tahan yg berbeda-beda. Ada yg kuat seperti Rio Saragih, ada jg yg daya tahannya kurang kuat. Bila tetap ingin menyalahkan, tahap seleksi petinju-lah yg bersalah. Bagaimana mungkin petinju yg masih berusia 17 tahun sdh bertarung belasan kali? Setahu sy, peraturan bagi petinju profesional minimal adlh 17 tahun utk memulai terjun dlm tinju pro. Mungkinkah Tubagus sdh bertarung secara profesional sejak umur 15 tahun? Kl memang benar, disinilah letak kesalahannya.

Namun apapun itu, kita tdk usah saling menyalahkan, kita bersama2 memperbaiki segala kekurangan yg ada, semoga tdk ada lg kejadian yg menyesakkan dada seperti ini lg. Kita doakan saja agar Tubagus Sakti mendapatkan tempat yg terbaik di sisi-Nya. Amien..

JP said...

Petinju di atas ring itu sudah sulit mikir. Emosi bercampur aduk, wasit sudah bilang stop, tdk bisa seketika bisa distop. Paling tdk ada 3 sekuens detik2 terakhir pertandingan naas tsb:

1. Tubagus menyatakan menyerah (dugaan kita) dgn angkat tangan. Tidak ada dalam kamus tinju tidak ada menyerah dengan cara itu. Apalagi saat lawan menyerang, sangat bahaya dan fatal. Bahkan saat wasit sudah bilang stop, petinju harus waspada.

2. Ical masih menyerang saat wasit sudah memerintahkan stop. Seperti saya ungkapkan di awal, sulit bagi petinju dalam puncak emosi utk berpikir jernih. Perintah otak kalah cepat dengan gerakan tangan dalam memukul. Banyak kejadian petinju sdh knockdown masih dipukul. Jarang petinju yg bisa kontrol dalam situasi ini, apalgi petinju dgn emosi meledak ledak spt ical, floyd atau zab judah. Bahkan elly picalpun pernah memukul petinju yg sdh knockdown, untung tdk kena disk

3. Wasit borlak sudah kuasai keadaan, tapi ical masih coba memukul. Tapi saat itu otak ical sdh bisa perintahkan tangan utk berhenti memukul. Jadi dia batalkan pukulannya.

Kunci adalah di nomor 2. Seandainya wasit borlak memeluk atau mendorong ical, bukan sekedar memisah dengan tangan, saya kira mungkin ada hal2 yg bisa dicegah. Tapi dalam hal ini borlak tidak salah, krn mmg situasi yg serba cepat, dan SOP wasit mungkin tdk seperti itu.

Aryo Sulkhan said...

Setuju atas komentar Bung JP. Semoga tdk kembali terulang kejadian menyedihkan seperti ini lg. :)

Anonymous said...

Pendek kata Ical tidak bisa mengendalikan emosinya..terlihat dironde ke 5 n 6, Ical diajak tukar pukulan oleh Tubagus, Ical terlihat emosi sampai menurunkan cover n meliuk2kan kepala yg menurut sy tanda org emosi..emosi semakin memuncak saat melihat Tubagus sempoyongan tanpa cover di kepalanya..menurut sy, jika pertandingan berlanjut sampai ronde terakhir, Tubaguslah yg menang krn lbh bs mengendalikan situasi...

vos said...

Kalo saya membandingkan ptinju dunia dengan petinju kita. Maka yang sering terlihat dari petinju Indonesia adalah emosi yang berlebihan dari salah satu atau kedua petinju. Sering kali penonton semakin bersorak dan tertarik dengan gaya emosional tanpa teknis yang membabi buta. Pelatih seringkali tidak mencoba menurunkan emosi berlebih tetapi menambah tekanan harus menang, tak peduli menang cantik atau asal2an. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan petinju kita sering kalah KO, karena power atau pressure lebih diutamakan daripada teknik.

Anonymous said...

Yang pastinya, petinju indo pada mati melulu. ini menjadi bahan koreksi. ada apa??? kalau menurut saya adalah kesiapan petinju itu sendiri mklm alasan2 urusan ekonomi kelaparan ini menjadi alasan utk dipertandingkan. Selain petinju yg kelaparan, didukung juga dgn manajer/ promotor yg motif menolong namun kejar target penayangan, didukung lagi dengan badan pengawas/ Bopi yg tidak tegas, paling laporannya sudah takdir. Orng indonesia cuma saling menyalahkan didunia maya, kalau didunia nyata semua permisif dan selalu ada excuse. Maklum semua saling bersaudara, kalau ga, bisa dibeli dgn duit.

Jika badan pengawasn tinju indo membuat aturan dan menghukum dgn tegas maka jumlah kematian petinju indo bisa ditekan seminimal mungkin.

Bhaskara Blog said...

saya melihat semua ini kesalahan WASIT, seharusnya begitu petinju mengangkat tangan tanda menyerah wasit harus langsung memisahkan untuk menyelamatkan petinju

Anonymous said...

wasit bukan superman bro. Masak begitu angkat tangan dia bisa langsung memisah dalam detik itu juga? Wasit perlu melihat dan memikir baru bertindak... lagian ada jarak antara wasit dan petinju.

Aryo Sulkhan said...

Sudahlah.. Tidak usah saling menyalahkan, bekerja saja bersama2 agar hal seperti ini tdk terjadi lg dalam sejarah tinju pro di Indonesia. Komentator yg bernada miring-pun tolong lebih menghargai posisi wasit, BOPI, dan pihak2 lain yg berkompeten dalam olahraga tinju pro. Selama ini mungkin mereka semua jg sudah bekerja dgn baik, bila terjadi sesuatu hal yg tidak di inginkan mari kita bersama2 berusaha agar hal tsb tidak terulang kembali. :)

Anonymous said...

betul bung aryo. jamed sudah dipensiunkan ?

mari kita bersama2 berusaha agar hal tsb tidak terulang kembali. :)

Anonymous said...

mungkin men0nton bs menilai akumulasi pukulan ical sbnarnya tidak begitu bgus,msh bnyk yg tertahan double cover ataupun mgkin bobot pukulanya msh standar ,...bahkan tubagus sakti beberapa kali berhasil memasukan bersih ,.gontainya tubagus mungkin akibat cidera sblum brtanding ,.bhkan boleh di bilang pukulan ical yg telak mengena cm saat tubagus sakti udah menyerah

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.