Visit this website:

Gadget Unik - Jual Beli Aman
Showing posts sorted by relevance for query Lasut. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Lasut. Sort by date Show all posts

Thursday, July 18, 2013

In Memoriam Willy Lasut

Oleh : Aryo Sulkhan

Bagi insan tinju tanah air, nama Willy Lasut pasti sudah tidak asing lagi. Mantan jawara Tinju Pasar Malam era 1950-an tersebut bukanlah sosok yang mudah tenggelam dimakan zaman. Benderanya selalu berkibar, mulai dari petinju profesional beberapa dekade yang lalu hingga petinju masa kini, hampir semuanya pernah berhubungan dengannya. Memang sudah bukan rahasia umum bahwa Willy Lasut merupakan seorang International Boxing Matchmaker yang ternama. Hampir 40 tahun sebagai Matchmaker bukanlah pengalaman yang tanggung-tanggung lagi, memang beliau adalah pelopor Penata Tanding Internasional di Indonesia.

Meski beberapa tahun belakangan ini Willy Lasut lebih sering bekerjasama dengan promotor-promotor Jepang, namun hubungan Willy Lasut dengan promotor-promotor negara lain seperti Australia, Filipina, Korea, dan Thailand tetap terjalin dengan baik. Sesekali beliau masih ke negara-negara tersebut untuk mengawal petinju-petinju Indonesia yang akan bertanding di sana. Saya membuktikan sendiri ketika saya ditugaskan mengawal petinju ke Filipina setelah sekian tahun beliau tidak menginjakkan kaki disana, semua orang yang saya temui menitipkan salam kepada beliau, itu menandakan bahwa Willy Lasut memiliki hubungan yang baik dengan semua orang. "Do you know Mr.Willy Lasut? He's my best friend!". Dalam hati saya menjawab "Ya iyalah saya tahu, orang saya kesini juga Pak Willy yang nyuruh!". Tapi memang begitulah rata-rata mereka menyampaikan hal itu dengan bersemangat. Semua mengenalnya, semua menganggap Willy Lasut adalah kawan dekat mereka. Namun mungkin mereka, terutama saya, tidak akan lagi mendapatkan kebaikan hatinya, Bapak Willy Lasut telah berpulang meninggalkan kita semua untuk kembali pada Tuhannya.

In Memoriam Meneer Willy Lasut....... Banyak sekali kenangan antara saya dengan beliau...

Disini saya tidak akan mengulas masa kejayaan Willy Lasut saat masih menjadi petinju, karena saya tidak hidup di masa itu dan mungkin ada yang lebih paham mengenai hal tersebut. Saya hanya ingin berbagi kenangan akan sikap dan kebaikan beliau. Hubungan kami bisa dikatakan adalah hubungan pertemanan, rekan kerja, guru, pimpinan, atau bila dijabarkan lebih dekat lagi hubungan kami seperti ayah dan anak. Ya beliau sudah seperti ayah saya sendiri, sosoknya yang "bagi saya pribadi" adalah seseorang yang super duper galak, lucu, serta terkadang usil, namun di mata saya beliau sangatlah berwibawa. Sering sekali beliau memberikan nasehat-nasehat tentang dunia tinju dengan segala tetek bengeknya maupun tentang bagaimana saya harus menempatkan diri di dalam kehidupan.

"Berusaha berbuat baik saja,Aryo.. Dan ingat, jangan pernah menyusahkan orang lain! Perbuatan baik akan dibalas berlipat-lipat oleh Tuhan. Walau tidak sekarang, tapi percayalah bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Atau setidaknya kamu akan di kenal dan pada akhirnya kamu akan di kenang sebagai orang yang baik".

Petuah yang sangat berharga bagi saya meski susah juga menerapkannya, bahkan mungkin bagi Willy Lasut sendiri. Karena mungkin bagi saya apa yang beliau sampaikan itu benar, tapi pasti ada juga orang lain yang menganggap itu salah. Bahkan terkadang kebaikan beliau malah dibalas dengan kejelekan, ketegasan beliau terhadap sesuatu dianggap sebaliknya oleh beberapa orang. Sepertinya berkali-kali saya menemui kebaikannya yang akhirnya dibalas dengan kejelekan, tapi tetap saja di kemudian hari beliau seperti tidak terlalu mempedulikan hal itu, kalaupun saat itu beliau marah besar paling juga esok paginya sudah mereda seperti tidak terjadi apa-apa. Ya memang seperti itu Willy Lasut, meledak-ledak seperti petasan namun hanya sesaat saja lalu untuk kemudian melupakannya.


Saya sangat terkejut saat mendengar kabar beliau terkena stroke beberapa hari yang lalu, karena yang saya tahu beliau adalah orang yang rajin berolahraga. Saya pun masih berfikir bahwa kemungkinan terburuk hanyalah beliau tetap akan sembuh walaupun sudah tidak sesehat sebelumnya. Namun ketika saya mendengar kabar-kabar selanjutnya, saya seperti merasa putus asa. Beberapa hari kemudian akhirnya takdir memutuskan bahwa beliau memang harus kembali kepada Tuhan di usianya yang ke 80 tahun. Namun kebaikan dan ketulusan hatinya tidak akan ikut terkubur bersama jasadnya. Seperti yang selalu beliau sampaikan, setidaknya pada akhirnya kamu akan di kenang sebagai orang yang baik.


Selamat jalan Bapak Willy Lasut. Saya akan selalu merindukanmu, dan semuanya mendoakan semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik bagimu di surga. Beristirahatlah dalam damai, I'll see you again in the afterlife...
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, July 16, 2013

Willy Lasut Sakit

Selain Djafar bin Jachja yang kemarin diberitakan sakit oleh Sdr. Finon Manullang, kabar kurang bagus juga berhembus dari keluarga Willy Lasut, rekan seangkatan Djafar dalam pagelaran tinju 1950'an. Willy Lasut dikabarkan menderita stroke dan saat ini dirawat di ruang ICU RSPP, Jakarta. Pensiun dari tinju, Willy Lasut aktif dalam kegiatan KTI yang saat itu belum lama lahir.

Saat ini Willy Lasut lebih terkenal sebagai penata tanding (matchmaker) yang sudah dijalaninya lebih dari 30 tahun, dan telah banyak membawa petinju Indonesia ke luar negeri, terutama ke Jepang, termasuk dalam partai kejuaraan dunia saat alm. Adrianus "Joppie" Taroreh menantang juara WBA kelas ringan saat itu, Orzubek Nazarov di Korakuen Hall, Tokyo di tahun 1996. Sayang, Joppie menyerah dengan kekalahan KO ronde 4. Pada April 2012, Willy Lasut juga membawa Nouldy Manakane menantang juara WBA kelas bantam, Koki Kameda. Namun Nouldy harus menyerah dengan kekalahan angka.

Mari kita panjatkan doa bagi salah satu senior tinju Indonesia ini.

---
update s/d pukul 12.00 (16/7): 
Menurut salah seorang kerabat Willy Lasut, keadannya cukup parah. Pendarahan terjadi di batang otak, dan pendarahnya cukup banyak. Saat ini dokter tidak bisa melakukan tindakan apapun, selain parahnya kondisi Willy Lasut, juga usia ybs yang sudah menjelang 80 tahun. Willy Lasut dalam kondisi koma mampu merespon komunikasi saya saat saya mencoba bercakap-cakap dengan beliau dengan menggerakkan badannya. Mari kita berdoa yang terbaik bagi Willy Lasut.


Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Wednesday, July 17, 2013

Rest in Peace Willy Lasut

Telah meninggal dunia dengan tenang pada malam ini, 17 Juli 2013 di RSPP Jakarta, Willy Lasut (80), sebagai mantan petinju tahun 1980'an, pendiri dan pengurus KTI serta penata tanding internasional dengan pengalaman selama 30 tahun. Selamat jalan Om Willy.

Rekor bertanding Willy Lasut di boxrec: http://boxrec.com/list_bouts.php?human_id=616693&cat=boxer

Foto: Willy Lasut (kiri) bersama wartawan Bob Newman.

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Thursday, March 29, 2012

Noldy Manakane Bertolak ke Jepang





Juara PABA kelas bantam, Noldy Manakane, bertolak menuju bandara Narita, Tokyo, Jepang, guna menantang juara WBA kelas bantam, Koki Kameda, 4 April di Yokohama, Jepang. Rombongan akan dipimpin oleh penata tanding senior, Willy Lasut, yang sudah malang melintang di dunia tinju pro Indonesia selama 30 tahun. Noldy berangkat melalui bandara Soekarno - Hatta, Jakarta, 28 Maret malam, menggunakan pesawat Garuda Indonesia.



"Saya yakin akan memenangi pertarungan melawan Kameda. Saya tidak peduli apakah menang KO atau angka, tapi saya yakin akan menang," ujar Noldy yakin. "Saya sudah persiapan latihan sejak Januari untuk mempertahankan gelar PABA yang batal, tapi datang kesempatan menantang juara dunia."



Foto di atas adalah rombongan Noldy Manakane terdiri dari pelatih Errol van Romm, Noldy Manakane, Willy Lasut, Tracy Lasut dan TJ (berdiri).









Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Saturday, June 6, 2009

Sasana Sindoro Satriamas Semarang

oleh Aryo Sulkhan

Sasana ini didukung penuh oleh perusahaan transportasi terkemuka di Semarang, PO. Sindoro Satriamas, yang bergerak di bidang transportasi bus pariwisata, bus reguler, executive & trucking. Pelatih sasana ini adalah mantan petinju nasional Budi Wizon, manager Dede Soediro,SH.

Beberapa petinju binaan Sasana Sindoro Satriamasyang cukup 'melanglang buana' di jagad pertinjuan nasional antara lain : Jamed Jalarante (kelas welter, peringkat 2 nasional dan mantan juara nasional), Arthur Rohman (Bulu Yr., 2 nas.), Satria Antasena (Menengah, 2 nas.), Yunianto (Terbang), Rudi Daeng (Ringan), serta beberapa petinju amatir.

Sasana ini beralamat di Jl.Madukoro Raya No. 36, Semarang.
Contact person : Aryo Sulkhan

Aryo Sulkhan juga merupakan asisten penata tanding internasional kawakan asal Indonesia, Willy Lasut, yang bertugas membantu Willy Lasut untuk mencari para petinju yg akan dibawa bertanding. (Foto menyusul).

Wednesday, February 8, 2012

Berita Jepang: Nouldy Manakane Tantang Kameda

Kejuaraan WBA kelas Bantam, 4 April di Yokohama, Jepang
oleh Tokyo Tanaka

Baru saja dilangsungkan press conference di Tokyo, Jepang, bahwa Nouldy Manakane (Peringkat 11 WBA dan juara PABA kelas bantam; rekor: 24-10-1, 15 KO) dipastikan menantang juara WBA kelas bantam, Koki Kameda (27-1, 17 KO) di Yokohama, Jepang, 4 April.

"Ya, itu betul. Tapi saya belum menerima kontraknya," ujar Nelson Nainggolan, advisor Manakane. "Saya serahkan semua kepada pelatih, dan pelatih setuju untuk pertandingan ini. Pak Willy Lasut yang berperan sebagai matchmaker," lanjut Nelson. Willy Lasut sendiri belum bisa dihubungi via telpon

Kabar lebih detail segera menyusul.

Monday, July 15, 2013

Kolom Finon: Jafar Minta Didoakan Lekas Sembuh

Oleh: Finon Manullang

Kunjungan ”Mari Melihat Jafar Sakit” berlangsung selama empat jam di rumah tinggalnya, Pisangan Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (14/7). Kunjungan dimulai dari pukul 5 sore hingga pukul 9 malam. Di rumah Jafar juga diadakan buka puasa bersama.

Jafar yang berdarah Arab adalah mantan petinju tangguh kelas welter era tinju Indo-Belanda tahun 50-an. Jafar satu generasi dengan Kid Francis, Willy Lasut, Jimmy Chiu. Sayangnya tadi malam Willy Lasut dan Jimmy Chiu tidak datang.

Pada tahun 60-an, ketika pemerintah membekukan tinju pro selama 10 tahun, Jafar dan rekan-rekannya lebih banyak tampil dalam pertandingan tinju pasar malam dan dipastikan tontonan liar.

Pada tahun 1970, setelah tinju pro dihidupkan dan menyusul lahirnya badan tinju bernama Indonesian Boxing Commission (IBC), Jafar memilih karir sebagai wasit/hakim. Sembilan tahun kemudian ketika segala hal yang berbau bahasa Inggris dihapus, IBC menjadi Komisi Tinju Indonesia (KTI) dan Jafar tetap eksis sebagai wasit/hakim. Bahkan Jafar menjadi salah satu wasit terbaik Indonesia dan telah memimpin lebih dari 100 partai kejuaraan Indonesia.

Sampai tahun 2002, Jafar masih menjadi wasit terbaik KTI sampai akhirnya mengundurkan diri. Setelah itu, Jafar mulai stop dari semua kegiatan tinju pro.

Memasuki tahun 2006, atau sekitar tujuh tahun lalu, Jafar kena serangan gula tinggi. Sakit diabetes yang dideritanya tak kunjung sembuh. Setidaknya sudah tiga kali masuk rumah sakit. “Terakhir kemaren itu (sebelum puasa). Ada seminggu di sono, di rumah sakit (daerah Pulogadung, Jakarta Timur). Dokter larang pulang, tapi kita minta dirawat di rumah karena akan memasuki bulan puasa. Dokter di sono tetap minta dirawat dan kita bilang nanti setelah Lebaran,” kata Umi, istri Jafar.

Tujuh tahun tak lepas dari sembuh, kini kondisi Jafar sangat menyedihkan. “Sakitnya Pak Jafar tujuh tahun, tapi sudah dua tahun ini tidak bisa ke mana-mana. Hanya bisa di atas tempat tidur, itu pun dengan posisi seperti begini, tidak bisa miring sedikit pun. Akibatnya punggung meleleh,” kata Umi, yang punya 30 cucu dan 4 buyut.

Sedih sekali melihat kondisi Jafar sekarang. Tetapi, ini Jafar; tidak mau menyisahkan kesan sedih. Jafar 79 tahun, kelahiran Jakarta, 31 Oktober 1933, banyak bergurau dan sering membuka kisah-kisah masa lalu penuh humor.

“Doa`in gue ya biar sembuh, biar bisa kumpul rame-rame kayak dulu lagi,” minta Jafar kepada setiap tamu yang datang menyalami tangannya.

Sakit parah, wajah Jafar tetap segar dan banyak bergurau. Bahkan berteriak “bohong” setelah mendengar Kid Francis bercerita masa lalu pernah mengalahkan Jafar main catur sampai tengah malam di Bandung. Akhirnya, kami semua tertawa.

Hadir dalam kunjungan “Mari Melihat Jafar Sakit” adalah:
1.           Daud “Scorpio” Jordan, mantan juara Indonesia kelas bulu.
2.           Erik Suwarna, wasit/hakim.
3.           Finon Manullang, aktifis tinju.
4.           Kid Francis, rekan Jafar sejak tinju pasar malam.
5.           Martino, mantan petinju asuhan Kid Francis.
6.           Paulus, mantan petinju asuhan Kid Francis.
7.           Pujo Santoso, wasit/hakim.
8.           Robby Rahangmetan, mantan juara Indonesia kelas bulu yunior.
9.           Rocky Joe, mantan juara Indoneia kelas menengah.

Kunjungan menjadi sangat luar biasa karena tanpa direncanakan MNC Sports datang melakukan liputan secara khusus, yang dikomandani reporter Muhammad Andika Wiguna.

Karena ada liputan dari MNC Sports, cucu, anak, dan tetangga sekitar rumah Jafar, menjadi ramai.

Akibat suara berisik puluhan para cucu, sang reporter mau tidak mau harus berkali-kali mengangkat telunjuk kirinya lalu ditempel ke bibir “ssst…!” (silent).

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Tuesday, November 20, 2012

The Adventures of Aryo Sulkhan in Tokyo

Foto dan Tulisan oleh Aryo "Les Moquendoeux" Sulkhan



Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 12 hingga 17 November 2012, saya berkesempatan berkunjung ke negara Jepang, tepatnya di kota Tokyo. Tujuan saya bukan seperti yang biasa orang-orang kaya lakukan untuk berwisata ke Jepang melepas kepenatan dan mencari hiburan, namun saya mengemban misi mulia untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Jepang. Ya, saya ke Jepang mengawal dua petinju Indonesia yang bertanding disana. Tugas tersebut diberikan oleh komandan saya, Willy Lasut, yang kebetulan dalam waktu yang bersamaan juga membawa petinju Indonesia untuk bertarung di Okinawa, Jepang. Sekaligus sebelum berangkat beliau mengatakan bahwa beliau bertujuan untuk memperkenalkan saya dengan rekan-rekan tinju beliau di Jepang, entah apa maksudnya. Saya sekedar berusaha melaksanakan tugas saja sebaik-baiknya, tidak lebih.

Saya ke Jepang bersama dengan Frans "Skuk Arui" Yarangga dan "Mike Tyson van Probolinggo", Dwi AMX. Kami bersama-sama berangkat ke Tokyo dengan harapan dapat menampilkan pertarungan yang terbaik. Yarangga direncanakan bertarung pada 14 November melawan Motoki Sasaki di kelas Ringan, dan Dwi AMX direncanakan bertarung pada 16 November melawan Kazuhiko Hidaka, mantan Juara OPBF kelas Menengah,Jr. Bukan lawan-lawan yang mudah, petinju-petinju Jepang yang menjadi lawan mereka nanti pernah melawan petinju-petinju berkualitas. Tapi kami tetap tidak akan menyerah sebelum bertarung. Begitulah saya, selalu bersemangat dalam setiap pertandingan, dimanapun itu.

Kami tiba di Narita International Airport pada pagi hari. Saya langsung menuju ke stasiun dan memilih Keisei Express Train untuk melanjutkan perjalanan ke Ueno, sekitar 60 menit dari pusat kota Tokyo. Akhirnya kami tiba di Ueno Station, meski dengan "sedikit" salah arah namun saya menemukan juga Kinuya Hotel, tempat kami menginap selama satu minggu di Tokyo. Kami disambut oleh Mr.Joe Koizumi, penata tanding Internasional dari Jepang yang juga sahabat dari Bapak Willy Lasut. "Welcome to Japan", katanya dengan ramah dan mempersilakan kami masuk ke kamar yang sudah di persiapkan. Saya dan Mr.Koizumi berbincang-bincang sebentar di lobi hotel, lalu beliau berpamitan untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.

Kembali ke petinju, Yarangga dan AMX bertarung di tempat yang sama, Korakuen Hall. Sebuah stadion indoor yang legendaris di Jepang, terletak dalam satu komplek dengan Tokyo Dome, sekedar pengingat saja
Tokyo Dome adalah tempat dimana Mike Tyson pernah mencium kanvasnya dan mengalami kekalahannya untuk yang pertama kali. Saya membayangkan beberapa pertarungan bersejarah yang pernah digelar di Korakuen Hall ini. Kejuaraan Nasional Jepang, Kejuaraan OPBF, Kejuaraan Dunia, semua pernah digelar di Korakuen Hall. Bahkan, tokoh komik Ippo Makunouchi-pun pernah bertarung disini. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk bisa berada di lokasi tersebut, bahkan dua malam dalam satu minggu saya akan berada di stadion tersebut. Mendengar nama Korakuen Hall saja adrenalin saya sudah terpacu, apalagi saya benar-benar beruntung bisa menjadi bagian dari sejarah tinju Jepang. Korakuen Hall adalah tempat yang bisa dikatakan "tinju banget". Meskipun bukan stadion yang besar, namun dekorasi luar stadion penuh dengan poster-poster tinju yang akan digelar di tempat itu. Ada puluhan sabuk juara yang pernah disandang petinju Jepang berjejer rapi di dinding bagian atas tembok Korakuen Hall. Luar biasa..

Pada pertarungan pertama di Korakuen Hall tanggal 14 November yang digelar oleh Teiken Promotions, Frans Yarangga menjadi partai tambahan pertarungan keras dan keren antara jagoan Jepang Akifumi Shimoda melawan Hugo Partida dari Mexico. Shimoda bertarung dengan sangat cantik, teknik bertarungnya hampir sempurna, gaya kidalnya membuat anak asuhan sang mantan Juara Dunia kelas Bantam Carlos Zarate ini kelimpungan dan beberapa kali terpukul jatuh. Hasil akhirnya Hugo Partida mengalami kekalahan TKO karena berondongan pukulan yang bertubi-tubi dari Akifumi Shimoda di 1 menit akhir ronde ke 9.

Sedangkan Frans Yarangga terpukul KO di ronde pertama karena hook kanan cepat dan sangat keras dari Motoki Sasaki yang mengenai bagian samping kiri kepala Frans Yarangga, tepat diatas telinga.

Pada pertarungan yang kedua di Korakuen Hall tanggal 16 November. Kali ini digelar oleh Noguchi Promotions. Dwi AMX menjadi partai utama melawan mantan Juara OPBF kelas Menengah, Jr., Kazuhiko Hidaka. Dwi AMX bertarung dengan sangat keras, meskipun cukup tampak perbedaan kualitas antara keduanya, namun pukulan keras Dwi AMX beberapa kali mendarat mulus ke kepala Hidaka di ronde pertama dan kedua. Tapi di ronde ke 3, sebuah hook kiri keras menghantam bagian mulut dan dagu Dwi AMX hingga menyebabkan Dwi langsung jatuh terduduk dan KO.

Hidaka maupun Sasaki merupakan dua jagoan lokal Jepang yang memiliki fans cukup banyak dan semua fans tersebut sangat mengagumkan. Tidak seperti fans sepakbola yang saling membenci antar team lawan, fans tinju Jepang sebaliknya, mereka sangat menghormati team lawan. Saat kami keluar dari Korakuen Hall, ratusan fans baik laki-laki maupun perempuan sudah menunggu kami di luar, mereka bertepuk tangan lalu bersama-sama membungkukkan badan dan mengucapkan "Arigato Gozaimas'ta". Sungguh perlakuan yang sangat menyenangkan dan saya rasa hal seperti ini tidak pernah saya saksikan selama ini.

Pada tanggal 17 pagi saya kembali menggunakan Express Train menuju Narita International Airport Terminal 1. Mr.Joe Koizumi menelpon ke hotel kami dan mengucapkan sampai jumpa lagi, kemudian kami berangkat.  Sebenarnya berat hati meninggalkan kota Tokyo yang sangat indah dengan segala sesuatunya yang tertata rapi, serta para wanitanya yang juga sangat indah dipandang. Namun, tugas saya bukan hanya ini, saya masih memiliki tugas yang lain yang harus saya selesaikan di Indonesia. Saya memang harus pergi namun untuk kembali, suatu saat saya akan kembali ke Jepang. Semoga untuk berikutnya, kami bisa pulang ke Indonesia dengan bangga seperti yang pernah dilakukan oleh Chris John beberapa kali...

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


--
A fighter has to know how to fear - Cus D'Amato

Friday, March 8, 2013

Nouldy Manakane di Jepang

Nouldy Manakane yang tampil bagus saat melawan Koki Kameda dalam kejuaraan WBA kelas bantam April tahun lalu, cukup laku keras di Jepang. Tentu penampilannya yang tak kenal menyerah sebelum ronde akhir berbunyi, memikat promotor setempat. Sejak pertandingan melawan Koki Kameda, sudah dua kali Nouldy bertanding di Jepang. Walau kalah angka, penampilan Nouldy senantiasa mendapatkan pujian dari publik setempat dan senantiasa menjadi buruan para fans untuk berfoto bersama.

Kali ini yang akan menjajal keuletan Nouldy adalah Tomoki Kameda, saudara termuda Kameda brothers yang menimba ilmu tinju di Meksiko. Penata tanding senior Willy Lasut, yang sudah memiliki pengalaman 30 tahun sebagai matchmaker international ini mengabarkan bahwa jika Nouldy mampu memenangkan pertandingan melawan Tomoki Kameda, promotor yang juga ayah kandung Kameda brothers, akan mengorbitkan kembali Nouldy dalam kejuaraan dunia di Jepang.

Nouldy akan bertanding pada 9 Maret esok di Yokohama. Foto adalah Nouldy Manakane (kiri), matchmaker Willy Lasut, petinju partai tambahan Marangin Marbun dan pelatih Lahinda.

Semoga sukses, Nouldy!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, October 5, 2009

Jamed Jalarante Menang KO di Jepang

oleh Aryo 'El Chivato' Sulkhan/Satrio Sindoromas Boxing Camp

Petinju Jamed Jalarante dari sasana Sindoro Satriamas Semarang mengukir prestasi yang cukup mengagumkan di Jepang, Jamed yang merupakan asuhan mantan petinju nasional Budi Wizon tersebut menghentikan perlawanan petinju tuan rumah Tsukasa Kashiwagi di ronde ke-4 dari 10 ronde yang telah direncanakan. Partai antara Jamed Jalarante vs Tsukasa Kashiwagi yang dilangsungkan tanggal 4 Oktober lalu di Shimizu Marine Building, Shizuoka, Jepang tersebut merupakan partai puncak dari keseluruhan 6 partai yang digelar malam itu.
Namun kesuksesan Jamed tidak dialami oleh Arthur Rohman, rekan se-negaranya dan juga rekan se-sasana dengan Jamed. Arthur Rohman dikalahkan dengan KO di ronde ke-2 oleh Susumu Asanuma. Arthur hanya mampu meladeni 2 ronde dari 8 ronde yang direncanakan.

Matchmaker Willy Lasut yang berangkat ke Jepang bersama kedua petinju tersebut mengabarkan kemenangan Jamed Jalarante kepada pengurus sasana Sindoro Satriamas, Aryo Sulkhan, malam itu juga melalui telepon. Kemenangan Jamed disambut baik oleh manager sasana Dede Soediro,SH dan juga rekan-rekan se-sasana Jamed. Manager menjanjikan akan memberikan bonus khusus Jamed Jalarante dan memberikan support materi yang lebih untuk sasananya.

Jamed Jalarante setelah ini juga direncanakan akan bertanding untuk memperebutkan Juara Nasional kelas Welter 66,6kg yang lowong melawan Marco Tuhumury pada tanggal 24 Oktober di Studio TVRI. Manager sasana Sindoro Satriamas menyatakan bahwa beliau yakin Jamed Jalarante akan sanggup mengalahkan Marco Tuhumury. Walaupun Marco adalah petinju yang terkenal bandel dan tahan pukul, namun dengan percaya diri Jamed menyatakan bahwa dia tidak akan kalah melawan Marco karena persiapannya sangat baik, dan itu ia buktikan dengan kemenangannya di Jepang.

Friday, July 12, 2013

Kolom Finon: Jafar Sakit

Mari Melihat Jafar Sakit

Oleh: Finon Manullang

Jika Anda berusia 40 tahun ke atas, maka bisa dipastikan mengenal sosok seorang pria baik hati bernama Djafar bin Jahja, yang sekarang terbaring sakit di rumah tinggalnya, Jalan Pisangan Baru Selatan Nomor 1 Rt 001 Rw 07, Jatinegara, Jakarta Timur. Djafar berusia 79 tahun, kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1933.

Djafar adalah mantan petinju tangguh kelas welter tahun 50-an. Djafar sangat dikenal pada masa tinju pasar malam atau pada masa Pertigu (Persatuan Tinju dan Gulat). Djafar sering bertanding di Lapangan Ikada (sekarang menjadi Lapangan Monas) dan satu generasi dengan Kid Francis, Freddy Ramschie, Jimmy Chiu, Willy Lasut, Wongso Suseno, dan masih banyak lagi.

Memasuki tahun 70-an atau setelah Komisi Tinju Indonesia (KTI) berdiri, Djafar mulai dikenal sebagai wasit/hakim yang profesional dengan disiplin sangat tinggi. Djafar satu-satunya wasit/hakim yang telah memimpin pertandingan kejuaraan Indonesia lebih 100 kali.

Memasuki tahun 2002, Djafar mulai mengundurkan diri sebagai wasit/hakim. Menghabikan waktu di rumahnya, yang tidak jauh dari belakangan Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jakarta Timur.

Lima tahun terakhir, Djafar mulai diserang berbagai penyakit. Gula darah, kolesterol, dan asam urat, tinggi. Usianya yang sudah 79 tahun, habis di tempat tidur sambil menunggu kesembuhan.

Ketika ditanya apa sakitnya, Djafar bilang begini: "Namanya orang sudah ada umur seperti gua, wajar kena penyakit. Kadang rasanya sedih, kadang senangnya bukan main, apalagi kalau teman-teman tinju datang ngeliat gua."

Djafar pernah jatuh di kamar mandi dan beberapa menit kemudian baru diketahui oleh Umi, istrinya. Pernah Dilarikan ke rumah sakit. Pernah secara khusus dikunjungi oleh rekannya seperti: Kid Francis, Jimmy Chiu, dan Finon Manullang. Pernah ditangani dukun urut Udin Baharuddin (mantan juara Indonesia dan mantan juara OPBF kelas terbang yunior), dikunjungi Robby Rahangmetan (mantan juara Indoneia kelas bulu yunior dan kelas bulu), dikunjungi Daud "Scorpio" Jordan (mantan juara Indoneia kelas bulu).
"Setelah saya urut, sudah ada kemajuan. Tetapi, seharusnya ditindaklanjuti secara serius. Tidak boleh sekali urut saja," kata Udin Baharuddin, yang pernah bertarung dalam kejuaraan dunia WBA melawan Myung-woo Yuh, yang berlangsung selama 12 ronde penuh di Seoul, Korea Selatan. Udin kalah angka tipis.

Minggu ini atau tepatnya 14 Juli 2013, sejumlah insan tinju bermaksud melihat Djafar sakit di rumahya, Jalan Pisangan Baru Selatan Nomor 1, Jatinegara, Jakarta Timur. Berikut daftar yang sudah menyatakan mau melihat Djafar sakit, berdasarkan abjad.

Aswan Abubakar (mantan juara Indonesia kelas menengah).
Daud "Scorpio" Jordan (mantan juara Indonesia kelas bulu).
Erik Suwarna (wasit/hakim KTI).
Finon Manullang (wartawan tinju).
Harry Effendy (Ketua Umum IMPI).
Jimmy Chiu (petinju era pasar malam).
Jimmy Sinantan (mantan juara Indoneia kelas ringan).
Kid Francis (petinju era Pasar Malam).
Oki Abibakrin (mantan juara Indonesia kelas ringan yunior).
Pujo Santoso (wasit/hakim KTI).
Ricky Pontoh (mantan juara Indonesia kelas menengah yunior).
Rocky Joe (mantan juara Indoneia kelas menengah).
Syarifudin Lado (promotor).
Williams Lojor (pelatih King Lembata Boxing Camp Jakarta).

Supaya tidak memberatkan tuan rumah yang sedang sakit, diharapkan masing-masing membawa bekal untuk berbuka puasa bersama.

Dalam kunjungan nanti, dijamin tidak ada pungutan uang apa pun. Jadi tidak usah ragu, mari datang melihat Djafar sakit. Ini murni kunjungan melihat sahabat yang sedang sakit.
Terima kasih.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, October 12, 2012

Aryo Sulkhan Angkat Bicara

oleh Aryo Sulkhan

Pagi itu handphone saya berdering. Saya melihat di layar handphone, namun saya tidak mengenal apalagi menyimpan nomor tersebut di handphone. Saya menerimanya dengan sedikit ragu. "Hallo?", sapa saya dengan sopan. Lalu dari telpon terdengar suara yang saya kenal betul, "Assalamo'alaekom,bos..", kata orang tersebut. "Oh, Wa'alaikumsalam, Pak Jamed..... Apa kabar?", saya balik bertanya. "Baik,bos.. Keluarga sehat? Kim sudah besar ya?", tanya Jamed dengan terbata-bata. Memang seperti itu logat Jamed, berbicara dengan pelan. Saya menjawab, "Alhamdulillah sehat semua,Pak Jamed..". Kemudian kami berbicara cukup lama, yang intinya Jamed mengatakan bahwa dia ingin kembali naik ring.


"Tidak bisa,Jamed. Riwayat terakhirmu kurang baik, toh kamu juga sudah bekerja di tempat yang baik kan, gaji juga meskipun sedikit namun ada pemasukan setiap bulan", kata saya menjelaskan agar Jamed berfikir dua kali untuk memutuskan kembali ke ring tinju, olahraga yang penuh resiko. "Saya kangen naik ring,bos. Selain itu kebutuhan keluarga juga banyak, terutama untuk anak saya. Lagian saya kan latihan terus. Kemarin juga bos tau saya tanding di Porprov di Tarung Drajat dapat emas", kata Jamed meyakinkan. Memang dia saya izinkan waktu itu untuk membela Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, untuk cabor Tarung Drajat, beladiri mirip Kickboxing yang berasal Jawa Barat.

Setelah beberapa saat kami berbicara, telepon ditutup, kemudian saya berfikir. Memang susah menjalankan sebuah sasana, dengan pemasukan yang hampir dikatakan tidak ada, pengeluaran yang terus menerus untuk membiayai makan petinju tiga kali sehari, vitamin, pembelian peralatan, dan yang paling sering dan berat adalah pembiayaan operasional saat petinju bertanding. Memang diberlakukan potongan sekian persen atas bayaran petinju, namun dengan bayaran yang minim, sasana tidak bisa memberlakukan potongan yang disesuaikan dengan pengeluaran operasional, ujung-ujungnya "besar pasak daripada tiang", tombok dan tombok lagi dari uang pribadi. Tapi itulah tinju, mencintai tinju itu seperti candu, meskipun tahu kita terperosok ke dalamnya, akan tetapi tidak akan menyurutkan niat dan tetap tidak mau berhenti. Berkali-kali perhiasan istri saya ikut berkorban untuk memenuhi ego saya terhadap tinju, tragis memang, namun menyenangkan.
Kembali ke Jamed Jalarante, dia dituntut untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dia tidak bisa memenuhi selain kembali bertinju. Hal seperti ini terjadi hampir ke semua petinju Indonesia. Bayaran tinju profesional yang semakin minim dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia membuat mereka melakukan apa saja. Namun tetap tidak untuk Jamed, pikir saya kala itu.

Lalu tiba-tiba saya terfikir untuk menelpon seseorang, beliau yang juga guru saya, sahabat saya, bahkan bisa dikatakan seperti ayah saya, Bp.Willy Lasut. Meskipun galaknya minta ampun tapi beliau selalu baik hati kepada saya. Beliau mengatakan, "Asalkan BOPI mengizinkan, why not??! You ambil CT-Scan kepala Yamed and lalu hasilnya you kirim ke BOPI, tunggu jawaban mereka, bila mereka mengizinkan it's okay, no problem, Yamed bisa kembali ke ring!", kata beliau meledak-ledak dan entah kenapa selalu saja menyebut Jamed dengan Yamed. "Kalau hasilnya baik, call me, saya atur jadwal fight untuk dia".


Akhirnya saya mengikuti saran beliau dan mem-Brain CT- Scanning-kan Jamed, melakukan tes darah komplit di laborat, serta memperpanjang paspor Jamed yang masa berlakunya sudah tinggal 5 bulan saja. Setelah itu semua, saya mengirimkan hasilnya ke BOPI dan beberapa hari kemudian memberikan jawaban bahwa kondisi Jamed bagus dan layak tanding. Saya lega, bahwa usaha saya membiayai itu semua tidak sia-sia, Jamed bisa tetap bertanding dan menghasilkan uang untuk keluarganya. Suatu kepuasan tersendiri saat saya dan petinju bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Meskipun hasil akhirnya Jamed kalah KO di ronde pertama atas Dennis Laurente di Filipina. Tiga bulan lagi, dia memperoleh izin bertanding dan dia pasti akan bertanding lagi. Demi keluarga...

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Saturday, July 4, 2009

Upaya 'King Cobra' Menantang 'Knight Alexander'

Duel Perebutan OPBF : Sasha Bakhtin vs Richard 'King Cobr' Samosir
Oleh Temuzin Rambing dari Pulau Okinawa, Jepang

Juara nasional Indonesia kelas Bantam 53,5 kg asal Sasana Kuku Bima Ener-G Semarang, Richard Samosir bertolak tanggal 2 Juli ke Okinawa (Jepang). Tim Indonesia terdiri atas : Richard Samosir (Petinju), M. Sutan Rambing (Pelatih/Manager), Temuzin Rambing (Author), Rocky Joe (Hakim Indonesia) dan Willy Lasut (Penata Tanding).

Samosir, 23, akan berjuang menantang Sasha Bakhtin, petinju Jepang berkebangsaan Rusia. Bakhtin merupakan pemegang gelar OPBF kelas Bantam, sedangkan Richard menempati ranking 4 OPBF di kelas yang sama. Yang menarik saat ini Bakhtin tidak sekedar juara OPBF, namun juga bercokol di deretan papan atas ranking dunia yaitu : ranking # 2 WBC, # 5 WBA dan # 4 IBF. Sehingga apabila Richard memenangi duel ini bisa disebut dwi sukses, pasalnya selain merebut sabuk OPBF juga sekaligus merebut ranking dunia yang saat ini ditempati Bakhtin.

Namun tampaknya hal ini akan cukup alot, mengingat pertandingan berlangsung di Okinawa tempat domisili Bakhtin. Sebagai 'local hero' tentunya Bakhtin akan mendapat dukungan penuh dari suporter setempat.

Analisis Pertandingan
Sebagai mantan petinju amatir Sasha Bakhtin dibekali dengan teknis bertinju yang baik. Setelah hijrah ke Okinawa dibawah management Sigeru Nakama (Manager sekaligus Promoter Bakhtin) nampaknya Bakhtin sudah disiapkan menuju tangga juara dunia mengikuti jejak para pendahulunya Yuri Arbachakov (Juara WBC) dan Orzubek Nazarov (Juara WBA). Hingga saat ini Bakhtin mengemas rekor mulus 22 kemenangan tanpa kekalahan, 9 diantaranya dengan KO/TKO.

Berbeda dengan Bakhtin, Richard Samosir tidak lama di ring amatir. Setelah bertanding tingkat daerah di Tarutung (Sumatera Utara), Samosir akhirnya banting stir ke dunia profesional. Di tinju profesional rekor Samosir cukup bagus, 18 kemenangan (7 diantaranya dengan KO/TKO), 3 kali draw dengan 1 kali kekalahan. Satu-satunya kekalahan Samosir diderita saat melawan Jonathan Baat (Philippine) dalam perebutan gelar WBO Oriental interim kelas Bantam bulan Agustus 2008.

Dalam pertandingan ini posisi Samosir adalah underdog, namun dinilai cukup menguntungkan karena sebagai penantang tentunya tidak mempunyai beban moral yang besar. Berbeda dengan Bakhtin, sebagai juara bertahan plus ranking dunia yang disandangnya saat ini akan menanggung beban psikologis lebih berat. Ibarat permainan judi, saat taruhan kita lebih besar dibanding lawan main maka akan cukup mengencangkan 'urat syaraf' pikiran.

Sebagai petinju bergaya boxer, keunggulan Bakhtin terletak pada ke'taktis'an menempatkan pukulan jab dan menjaga ritme permainan. Namun sayangnya Bakhtin tidak didukung dengan killing punch sehingga sering hanya mengejar kemenangan angka.Menurut pengamatan penulis, Samosir lebih mempunyai power pukulan. Keunggulan lain Samosir adalah kombinasi pukulan komplit sehingga mampu bertarung jarak dekat maupun jauh, namun seringkali ceroboh dalam penataan 'double cover' pertahanan.Hal ini yang harus dibenahi Samosir jika tidak ingin ketinggalan angka.

Dalam pertandingan ini kepalan Samosir bernilai US$ 3.000, sedangkan sang juara Bakhtin dibayar Usd 15.000. Apabila Samosir memenangkan pertarungan ini, selain gelar OPBF nampaknya 'nominal US dollar' dalam kontrak berikutnya juga akan berubah.

Semangat Richard Samosir !!
Temuzin Rambing adalah seorang promotor tinju, putra dari M. Sutan Rambing

Thursday, February 7, 2013

Kolom Finon: Selamat Jalan Sahabat

Oleh: Finon Manullang

Jenazah almarhum Adrianus Taroreh rencananya akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Sea, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Jumat sore (8/2). Adrianus Taroreh lahir di Pineleng, 3 Agustus 1966. Mantan petinju nasional era tahun 80 hingga tahuhn 90-an, meninggal dunia dalam usia 46 tahun di RS Siloam, Manado, Selasa malam (5/2).

Adrianus Taroreh, SE, mantan Lurah Kleak dan mantan Lurah Bahu, pekan lalu masuk RS Siloam, Manado, dan menjalini operasi batu ginjal pada Rabu (30/1). "Usai menjalani operasi, kondisi Adrianus sempat membaik bahkan bisa bergurau dengan orang-orang dekatnya seperti; istri, empat anaknya, dan teman-teman dari tinju," kata pelatih RE Boxing Minahasa Utara, Ferry Lumongi. "Setelah itu, atau pada hari Minggu pagi (3/2) tiba-tiba kondisinya drop dan tidak sadarkan diri sampai Tuhan Yang Maha Kuasa memanggilnya Selasa (5/2) kira-kira pukul sepuluh malam. Kita semua berada dalam situasi yang sangat menyedihkan. Sahabat kita, Adrianus Taroreh, telah berpulang," lanjut Ferry Lumongi di rumah duka, Manado, Kamis (7/2).

Semasa karir tinju amatirnya, Adrianus Taroreh dua kali merebut medali emas SEA Games, tiga kali merebut medali emas President`s Cup, dua kali Petinju Terbaik President`s Cup, sekali merebut medali perak Asian Games Seoul, dan sekali mengikuti olimpiade Seoul tanpa medali. Selama di ring tinju amatir, Adrianus bertanding mulai kelas bantam, kelas bulu, dan kelas ringan. Tahun 1991, setelah hanya bisa merebut medali perunggu President`s Cup Jakarta, Adrianus ke luar dari amatir.

Di ring tinju pro, nama Adrianus Taroreh berkibar di tahun 1992 sampai tahun 1996. Dengan cepat merebut sabuk juara Indonesia kelas ringan. Kemudian merebut sabuk juara OPBF (Asia dan Pasifik).

Menjelang usia 30, Adrianus menantang juara bertahan kelas ringan WBA dari Rusia, Orzubek Nazarov. Kejuaraan dunia berlangsung di Korakuen Hall, Tokyo, Jepang, Senin, 15 April 1996, dengan hasil terburuk; Adrianus Taroreh yang sebelumnya tidak terkalahkan di ring tinju pro tumbang KO ronde 4 dari 12 ronde yang dijadwalkan. Di Jepang, Adrianus didampingi manajer Bian Sondakh, Lineke Lolowang, Willy Lasut, dan pelatih Jootje Mada.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, March 29, 2011

Duo Satria Semarang Kalah Terhormat di Jepang


oleh "Prince" Aryo Sulkhan


Dua petinju nasional kita yaitu Arief Blader dan Ade Alfons yang pada tanggal 27 Maret 2011 lalu bertanding tepatnya di Sambo Hall, Kobe City, Jepang, keduanya dinyatakan kalah dengan angka. Penata tanding kawakan Willy Lasut yang mengawal keduanya menyatakan lewat telepon sesaat setelah pertandingan, dia cukup puas dengan hasil tersebut meskipun kedua petinju yang dia bawa mengalami kekalahan. Karena kedua petinju Indonesia ini sanggup melakukan perlawanan dengan keras dan terlihat tangguh menghadapi gempuran petinju-petinju tuan rumah yang mendapat dukungan penuh dari penonton. Setelah pertandingan, kedua petinju Indonesia tersebut mendapat tepuk tangan yang meriah karena telah menampilkan pertarungan yang memuaskan. Seperti kita ketahui, fans tinju Jepang sangat menghargai perjuangan dan sikap pantang menyerah dalam suatu pertarungan.


Seperti berita sebelumnya, Arief Blader dijadwalkan melawan Teiru Kinoshita di kelas Bantam, sedangkan Ade Alfons melawan Yuki Nonaka di kelas Menengah. Dalam pertarungan Arief Blader, pertandingan dihentikan di ronde ke 6 dikarenakan terjadi benturan yang mengakibatkan pelipis kiri Kinoshita terluka dan mengeluarkan banyak darah. Kemudian pertarungan dihentikan dan hakim memutuskan dengan menghitung pengumpulan angka hingga ronde ke 5, hasilnya Arief Blader dinyatakan kalah dalam penghitungan angka tersebut.


Sebenarnya petinju-petinju Indonesia memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan petinju-petinju dari Jepang, Thailand, maupun Filipina. Asalkan program latihan, asupan gizi, dan jam terbang pertandingan dalam negeri memenuhi syarat, pasti petinju-petinju Indonesia dapat bersaing serta berprestasi di tingkat dunia.


Tidak dipungkiri bahwa menjalankan sebuah sasana dan membina petinju diperlukan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan sponsor yang kuat, namun bila semua itu didasari dengan tujuan mulia terhadap tinju, pasti suatu saat akan menghasilkan sesuatu yang membanggakan pula.


Foto: Arief Bladder

Tuesday, April 24, 2012

Jadwal Pertandingan Internasional Petinju Indonesia

Dipastikan perhatian kita sekarang akan terpusat pada double header di Marina Bay Sands, Singapura, 5 Mei mendatang, yang melibatkan dua petinju terbaik kita, Chris John dan Daud Yordan. CJ akan tampil dalam kejuaraan kelas bulu WBA melawan Shoji Kimura dan DY akan memperebutkan gelar lowong IBO kelas bulu melawan Lorenzo Villenueva (Filipina).

Selain itu, petinju kita yang cukup potensial, Robert Kopa Palue, akan menantang Hiroshige Osawa, dalam kejuaraan kelas bulu OPBF dan WBO ASPAC (interim) di City Hall, Sakai, Osaka, Jepang, 30 April mendatang atas prakarsa penata tanding kawakan, Willy Lasut.

20 Mei 2012 di Palangkaraya, Isaac Junior akan mempertahankan gelar WBO Aspac kelas terbang super melawan Jecker Buhawe (Thailand).

3 Juni 2012 di TVRI Studio, Jakarta, Carlos Lopez yang pernah mempecundangi jagoan Semarang, Arief Blader, akan ditantang petinju Filipina dalam kejuaraan WBO Aspac kelas bulu jr. (interim).

Semoga petinju-petinju kita sukses dalam kiprah internasionalnya.

Translate this article using Babelfish Yahoo Translator

Monday, February 21, 2011

Duet Garuda Semarang Siap Berkepak di Tokyo


oleh "Prince" Aryo Sulkhan

Kembali 2 petinju nasional kita akan mencoba peruntungan untuk bertanding di negara Jepang. Keduanya sedang berupaya mengejar prestasi setinggi-tingginya di kancah tinju profesional di level Internasional. Jamed Jalarante, 20-10-1(9 KO), dan Rasmanudin, 13-0-2(8 KO), keduanya adalah petinju dari Sasana Sindoro Satriamas Semarang. Jamed dijadwalkan akan bertarung di Tokyo, Jepang, pada 5 Maret 2011 selama 8 ronde melawan Daisuke Nakagawa, 15-2-2(11 KO). Sedangkan Rasmanudin akan bertarung pada 24 April 2011 melawan Rolly "Matsushita" Lunas untuk 10 ronde. Rolly Matsushita, 27-8-1(15 KO), adalah petinju berdarah Filipina namun berdomisili dan berlatih di Kanazawa City, Jepang.

Jamed berupaya untuk mengembalikan pamornya setelah beberapa kali gagal dalam pertarungan-pertarungannya di negara lain, yaitu ketika kalah saat bertarung di Thailand, Australia, dan China. Jamed berjanji, kini dia kembali dan akan berusaha untuk meningkatkan pamornya yang sempat meredup. Jamed kali ini menargetkan kemenangan, seperti saat dia pernah mengejutkan publik tinju Jepang yang terkenal sangat fanatik, Jamed kala itu sanggup menaklukkan Tsukasa Kashiwagi yang merupakan jagoan tuan rumah dengan TKO di ronde ke 4.

Rasmanudin telah dijadwalkan sekaligus untuk 2 pertandingan di Jepang oleh penata tanding Internasional Willy Lasut. Pada pertarungan berikutnya, Rasmanudin dijanjikan akan bertanding untuk perebutan gelar juara OPBF melawan sang penguasa kelas Bantam, Malcolm Tunacao dari Filipina. Rasmanudin sendiri saat ini berada di peringkat 1 OPBF di kelas Bantam, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang belum tentu bisa datang dua kali.

Semoga harapan kedua petinju nasional tersebut untuk meraih prestasi tertinggi di kancah tinju profesional bisa berhasil. Sehingga diharapkan kesuksesan mereka nantinya sanggup meningkatkan animo masyarakat terhadap olahraga tinju yang sekarang ini terasa sangat minim. Juga agar gairah petinju-petinju muda Indonesia semakin tinggi untuk berusaha, berlatih, dan memompa kemampuan diri mereka dengan sebaik-baiknya.
Foto: "Aryo Sulkhan and His Boys" (dari kiri ke kanan: Jamed Jalarante, "Sugar" Ray Raharjo, pelatih Budi Wizon, Frans Yarangga, Aryo Sulkhan, dan salah seorang anggota Sasana Sindoro SatriaMas)

Friday, July 8, 2011

Arief Bladder, Petinju dengan Mentalitas Super



oleh Aryo "Prince of Accra" Sulkhan



Pagi itu sang surya sedang bersiap untuk memancarkan sinarnya. Langit masih terlihat gelap, bersama dengan itu sesosok manusia dengan semangat paginya menuju tempat wudlu untuk melaksanakan sembahyang subuhnya. Seusai berserah diri, ia kemudian meraih sepatu olahraga dan mulai memakainya. Dengan sedikit pemanasan ringan, bersama Jamed Jalarante, Frans Yarangga, dan beberapa petinju Sasana Sindoro Satriamas yang lain, ia mulai berlari-lari kecil keluar dari mess dan sesaat kemudian mereka menghilang di remang fajar.



Arief Blader, 7-2-0(5KO), sosok yang hampir tidak pernah terdengar kiprahnya di pentas tinju profesional nasional. Dia belum pernah menjadi juara, bukan petinju yang pantas dipandang apalagi dijagokan di pasar taruhan, juga bukanlah petinju yang memilki teknik dan skill tinggi. ia hanyalah petinju minim pengalaman namun memiliki semangat juang yang sangat tinggi untuk meraih impian dan cita-cita, menjadi seorang petinju profesional yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.



16 Juli 2011 mendatang Arief Blader akan dijadwalkan untuk bertarung pada Kejuaraan Nasional versi ATI di Halaman Balaikota Semarang, melawan "Sang Raja" kelas Bulu,Jr KTI Gun Hero yang berlatih di Sasana Semen Gresik, Jawa Timur. Partai ini diramalkan akan berjalan keras dan menarik. Gun Hero adalah petinju yang memiliki teknik dan skill tinggi, Gun juga beberapa waktu lalu sempat merepotkan Khofifi Arjat, jagoan asal Sasana Mirah Bali binaan "The Godfather of Boxing" H. Zaenal Tayeb, Gun menang angka mutlak sekaligus merebut sabuk juara nasional KTI.



Namun dengan segala keunggulannya tersebut, tidak semudah itu pula untuk mengalahkan Arief Blader, semangat juang Arief yang sulit dirontokkan dipastikan akan merepotkan Gun Hero. Bahkan penata tanding kawakan Jimmy Theo menyatakan bahwa meskipun dia sedikit menjagokan Arief Blader, namun dia berpendapat bahwa pertarungan ini akan berjalan sangat seru dan seimbang. Bila salah satu petinju salah langkah sedikit pasti akan mendapat efek yang membahayakan.



Bisa saja Arief Blader yang akan terjungkal, namun bisa pula Gun Hero yang bakal tersungkur KO. Keduanya adalah petinju bermental juara, mereka memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing, segala sesuatu bisa saja terjadi di atas ring. Siapa yang persiapannya lebih baik, dialah yang akan memenangkan pertarungan. Namun olahraga tetaplah olahraga, apapun hasilnya nanti, sportifitas akan tetap menjadi prioritas yang utama.Bagi rekan-rekan pembaca boxing-indonesia yang berdomisili di Jawa Tengah, atau lebih tepatnya di Kota Semarang, jangan sampai melewatkan pertarungan keras tersebut. Jadikan diri anda sebagai saksi mata dalam pertarungan antara sang penantang Arief Blader melawan sang juara Gun Hero, dengan hadir dan menyaksikan langsung di lokasi pertarungan. Bahkan penata tanding Internasional Willy Lasut dipastikan akan hadir menyaksikan "anak emasnya" ini bertarung.
Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.